Rabu, 12 September 2018

SYUKUR, RIDHA, DAN QONA'AH YANG PUDAR


Judul               : SYUKUR, RIDHA, DAN QONA'AH YANG PUDAR
Oleh                : Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah
Sumber            : Channel Youtube – Syafiq Riza Basalamah Official
Editor              : Fiqih Fahlevi


Assalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh.

Segala puji bagi Alloh Jalla Jallaluh yang karena nikmatnya, kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Yang karena RahmatNya niat-niat baik hamba dapat terlaksanaa. Segala keberhasilan yang kita capai, segala keindahan yang kita lihat, segala kenikmatan yang kita rasakan, semua itu murni karunia Alloh kepada hambaNya. Maka tidak sah sholat seorang hamba tanpa ia berucap alhamdulillahi robbil ‘alamin.

Ya Alloh, semoga shalawatMu, semoga salam, berkah, dan nikmatMu, senantiasa Engkau curahkan untuk hamba kekasihMu. Untuk manusia terindah yang pernah menginjakkan kakinya di muka bumi ini. Untuk hamba Alloh yang diutus sebagai rahmatan lil’alamin. Baginda nabi Muhammad saw. Dan untuk keluarga beliau, untuk istri-istri beliau, untuk putra-putri beliau, dan untuk seluruh sahabat nabi. Semoga Alloh meridhai kita bersama mereka.

Amma ba’du.

Jamaah rahimakumulloh, wallohi jamaah, kita ini kadang kala banyak meninggalkan amalan-amalan yang sejatinya ringan dan mudah. Rasul saw, beliau mengajarkan kepada kita semua kebaikan. Kita tidak perlu merasa kesulitan mengamalkan agama Alloh ini. Tidak perlu berpikir. Hanya perlu mengamalkan. Mereka meremehkan sunnah, memudah-mudahkan sunnah, padahal sunnah ini yang membuat Alloh cinta sama kita. Kata Alloh jalla jallaluh, ketika berbicara tentang amalan yang paling Alloh cintai adalah amalan yang wajib. Kemudian hamba Ku ini melanjutkan amalannya dengan menambahkan amalan-amalan yang sunnah, kata Alloh, hamba Ku terus mendekatkan dirinya kepadaKu dengan yang sunnah-sunnah sehingga Aku cinta kepada dia. Jadi kalau kita ingin dicintai Alloh, maka berusahalah untuk mengamalkan sunnah.

Jamaah, malam ini kita akan membahas tentang syukur. Sebagian orang berpikir, ustadz, sudah sering kajian tentang syukur. Udah ramai kuliah tentang ridha. Ketahuilah bahwa yang diusahakan syaitan ketika dikeluarkan dari surga, dia mengatakan kepada Alloh, di surat al a’raf ayat 17, aku akan mendatangi manusia, menggoda manusia, dari depan mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dari kiri mereka, dan Engkau ya Alloh, akan mendapati kebanyakan manusia tidak bersyukur.

Apa yang menyebabkan banyak wanita masuk neraka? Kurang bersyukur. Dan Alloh menyebutkan, dan sedikiiit dari hamba-hambaKu yang pandai bersyukur. Di surat azzumar ayat 66 Alloh mengatakan, beribadahlah hanya kepada Alloh dan jadilah orang-orang yang bersyukur.
Malam ini kita akan bicara tentang tingkatan di atas syukur yaitu ridha kepada Alloh jalla jallaluh. Orang yang bersyukur kepada Alloh adalah orang yang ridha dengan pemberian Alloh jalla jallaluh. Kita melihat dimasa kini banyak manusia putus asa. Peristiwa tentang orang-orang yang bunuh diri itu banyak sekali. Sebagian karena putus cinta, sebagian karena putus kerja, sebagian karena punya hutang berlebih sehingga ia tidak mampu melunasinya, akhirnya ia bunuh diri, dan lain-lain. Ketika keridhan dengan Alloh itu hilang, manusia akan saling hasad, akan saling iri, dan dengki. Tidak boleh melihat orang lain berbahagia. Melihat kawannya ganti mobil, dia sakit perut dua hari. Ada apa? Karena dia tidak ridha, jamaah. Banyaknya pencurian, banyaknya perampokan, banyaknya orang-orang yang marah, yang emosi, yang tak bisa kontrol diri, disebabkan karena hilangnya sikap qona’ah dari diri dia.

Kalau kita bicara qona’ah, apa sih arti qona’ah itu? Para ulama mengatakan, qona’ah adalah ridha dengan apa yang Alloh beri. Ridha dengan apa yang Alloh tentukan. Ridha dengan pembagian Alloh. Qona’ah adalah mencukupkan diri dengan yang ada dan tidak ingin hal yang tidak ada. Misal, kita makan di restoran. Udah dikasih cumi bakar, tom yam, dan segala macam di situ. Ketika dia makan, dia mengatakan, ooo, ada yang lebih enak dari ini. Ada di kedai fulan. Berarti dia tidak bersyukur dengan yang ada di depan dia. Yang namanya qona’ah itu, yang enak, yang lezat, yang ada di depan kita. Contoh lain, kita naik mobil. Melihat orang lain mobilnya lebih bagus, lalu hati kita berkata kapan ya ana naik yang seperti itu? Tidak ridha, jamaah. Tidak qona’ah. Sehingga orang yang seperti ini, hidupnya susah.

Kemudian qona’ah itu mencukupkan diri dengan apa yang ia miliki. Dan tidak tamak dengan apa yang tidak ia miliki. Kemudian, jamaah, qona’ah itu dipenuhinya hati dengan keridhaan dan tidak suka mengadu kepada orang. Sebagian di antara kita ini, ada masalah sedikit dia cerita sama orang tuanya. Ia cerita sama temannya. Selalu dia mengadukan sesuatu yang susah. Tapi dapat nikmat, dia tidak cerita. Maka jamaah rahimakumulloh, ingat, qona’ah ini diperlukan oleh orang kaya dan diperlukan juga oleh orang miskin.

Jamaah rahimakumulloh, siapa yang tahu luasnya pintu surga? Kalau surganya itu luasnya seluas langit dan bumi. Itu surganya. Kalau pintunya? Berapa jumlah pintu surga jamaah? Delapan. Satu pintu surga itu berapa luasnya? Kira-kira 900 mil atau 1200-an km. itu pintu surga. Nanti, pintu yang seluas itu, kata nabi saw, pintu itu akan ramai manusia berdesak-desakan di pintu itu. Semoga kita menjadi salah satu di antara orang-orang yang berdesak-desakan itu.

Ingat, orang kaya memerlukan qona’ah. Bagaimana qona’ahnya orang kaya? Qona’ahnya orang kaya adalah dengan cara dia ridha dengan apa yang telah Alloh berikan dan dengan mensyukuri. Syukur itu dengan hati, lisan, dan dengan perbuatan. Dia tidak zalim dan tidak mengingkari nikmat yang Alloh berikan. Dia tidak memasukkan harta ke dalam hatinya. Qona’ahnya orang kaya itu, hartanya tidak ada di hati. Melainkan di tangan. Gak boleh hartanya itu masuk ke hati. Sehingga, ketika kekayaan atau harta masuk ke hati, sebagian orang kaya jadi budak harta. Bukannya dia yang memiliki harta tapi harta yang memiliki dia. Harta yang menguasai dia. Na’udzubillah.
Adapun qona’ahnya orang kaya lagi, ada orang yang banyak hartanya, memiliki rumah yang tidak bisa dihitung saking banyaknya, tapi dia tidak menipu orang lain, tidak makan makanan yang haram, dia tidak sombong, tidak meremehkan orang lain, kalau dia bertambah rizkinya dia berbagi, kalau dia mendapati kerugian dalam perdagangannya dia ridha, orang ini adalah termasuk orang kaya yang qona’ah.

Lalu, bagaimana qonaahnya orang miskin? Yaitu dengan cara merasa cukup dengan apa yang telah Alloh berikan, berserah diri, dan sabar terhadap musibah. Dia juga tidak suka marah-marah, jamaah. Sebagian orang, ketika punya masalah di luar rumah, yang dimarahi istrinya. Yang dimarahi anaknya. Qonaahnya orang miskin, dia tidak memandang ke atas. Tapi dia memandang ada yang di bawah dia. Qonaahnya orang miskin dia tidak minta-minta. Karena kalau orang sudah sampai tingkat meminta-minta padahal sejatinya dia itu cukup, maka dia tidak qonaah.

Keutamaan qonaah, Rasulullah saw mengatakan dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim dari abdullah bin amr bin ash, beliau bersabda, telah sukses, telah berhasil, telah beruntung, orang yang masuk islam. Ini kesuksesan, jamaah. Kita dikasih hidayah masuk islam, alhamdulillah. Yang kedua, diberi rizki yang cukup dan Alloh bikin dia qonaah dengan apa yang telah Alloh berikan. Menerima dia. Mau banyak, mau sedikit, terima. Karena ada orang kaya raya yang tidak qonaah. Buktinya apa? Dia makan yang haram. Dia makan riba. Dia menipu orang. Padahal hartanya kaya raya. Tapi ada orang biasa yang Alloh kasih qona’ah. Oleh karena itu imam syafi’I mengatakan, apabila engkau memiliki hati yang qonaah, engkau dan raja yang paling kaya di dunia ini, merasakan hal yang sama. Asalkan punya hati yang qonaah.

Rasulullah saw mengatakan, ridha-lah engkau dengan apa yang telah Alloh berikan kepada mu. Maka engkau akan menjadi orang yang paling kaya. Ada orang, masya Alloh, tak punya mobil, tak punya motor, tapi dia orang paling kaya di muka bumi ini, jamaah. Kata Rasul saw, barangsiapa di antara kalian yang merasa aman di rumahnya, di keluarganya, tidak ada yang ganggu dia, badannya sehat, tidak sakit, dia memiliki makanan hari itu. Apa kata nabi saw? Seakan-akan dunia dan isinya milik dia. Subhanalloh, jamaah.

Bagaimana dengan sebagian orang yang masih mengeluh? Masih mengadu? Padahal dia punya makanan sampai tahun depan. Dia punya tabungan sampai bulan depan. Masih saja mengeluh. Tidak ada syukurnya. Kenapa? Karena dia tidak qona’ah.
Abu hatim ra, dia berpesan, qonaah itu tempatnya di mana? Di hati. Bukan di tangan. Ingat, qonaah itu letaknya di hati. Barangsiapa yang hatinya kaya, tangannya akan kaya. Walaupun tak punya apa-apa. Barang siapa yang hatinya fakir, maka kekayaannya tidak akan berguna buat dia. Barangsiapa yang qonaah, dia tidak akan mengeluh, jamaah. Tidak akan marah-marah. Tidak akan emosi. Hidupnya damai dan tentram. Tapi orang yang tidak qonaah, maka gak ada gunanya dia memiliki harta yang banyak. Terkadang ia kehilangan mobilnya, kehilangan rumahnya, tapi tidak qonaah, tidak akan bersyukur kepada Alloh jalla jallaluh.

Sekarang, bagaimana cara kita mendapatkan qonaah?

Karena kalau bicara qonaah, sangat mudah sekali diucapkan. Tapi bagaimana kita meraihnya? Apa saja langkah-langkah yang harus kita kerjakan agar kita mendapat sifat qonaah? Yang katanya, qonaah itu harta tersimpan yang tidak habis?


Yang pertama, iman dan keyakinan yang penuh bahwa yang membagi rizki adalah Alloh. Yakin kalau Alloh yang bagi rizki. Tadi kita sampaikan hadist Rasul saw, wahai ummat manusia, bertakwalah kalian kepada Alloh dan carilah rizki dengan cara yang baik. Manusia tidak akan mati sampai rizkinya sempurna. Jadi jangan takut antum. antum gak bakalan mati kecuali rizkinya sudah sempurna. Lalu beliau mengatakan, walaupun rizkinya lambat datangnya. Ada orang yang tujuh tahun hidup miskin, tapi sekarang antum bisa melihat dia mulai sukses. Tapi ada juga orang yang sampai mati hidupnya miskin. Tapi bisa jadi dia orang yang qonaah. Dia tidak pernah tergoda melihat orang yang lebih kaya dari dia. Kenapa? Karena dia tau yang bagi rizki adalah Alloh jalla jallaluh.
Amir ra, seorang sahabat nabi mengatakan, ada empat ayat di dalam al quran nul karim, kalau aku membacanya di sore hari, aku gak peduli sore hari nanti kayak apa. Kalo aku membacanya di pagi hari, dan pagi itu jadi apa, aku juga nggak peduli. Empat ayat itu adalah:

Yang pertama, di surat Fathir ayat 35, Alloh mengatakan, apa yang Alloh buka dari RahmatNya, enggak ada yang bisa nutup Rahmat Alloh. Walaupun seluruh penduduk bumi bersatu untuk menutupnya, nggak akan ada yang bisa. Tapi kalau Alloh menutup rahmatNya, andai seluruh penduduk bumi ini ingin membukanya, mereka tidak akan pernah bisa. Kita yakin berarti Alloh yang berbagi rizki.

Yang kedua di surat Yunus ayat 107. Alloh mengatakan, apabila Alloh menginginkan kebaikan buat mu, maka tidak ada yang bisa menolak kebaikan Alloh. Tidak bisa, jamaah. Kita yakin, Alloh yang membagi. Alloh itu membagi rizki kepada siapa saja yang Alloh kehendaki. Jadi kita gak perlu melihat orang, kenapa ya fulan ini jarang ke masjid tapi kok fulusnya banyak?! Dia tahu, yang membagi itu Alloh.

Yang ketiga di surat Hud ayat 6. Alloh mengatakan, tidak ada sesuatu pun yang melata di muka bumi ini melainkan Alloh yang menanggung rizkinya. Semuanya. Alloh tau rizkinya ada di mana. Kapan dia kaan mendapatkannya. Alloh tau. Kita gak tau. Artinya hidup kita udah tanang. Hari ini, kalau umur masih ada, berarti kita akan makan. Kalau umur tidak ada, selesai jamaah.

Yang keempat di surat attholaq ayat 7. Alloh mengatakan, Alloh akan menjadikan setelah kesulitan, kemudahan. Jadi kalau suatu hari antum hidup sulit, yakin, sebentar lagi akan ada kemudahan.
Itu yang pertama. kalau kita mau qonaah, yakinlah bahwa yang membagi rizki adalah Alloh jalla jallaluh.


Yang kedua, mengingat kalau dunia ini akan habis. Dunia ini fana. Dunia ini hanya permainan. Yang sekarang memiliki apartemen 100 tingkat, tau-tau dia mati, ditinggal apartemennya. Tatkala kita yakin bahwasanya dunia ini hanya permainan dan apa yang dimilikinya akan ditinggalkan selama-lamanya, maka dia akan qonaah. Orang yang kaya tidak akan sombong. Karena ia tahu bahwa akhir hidupnya adalah kematian. Di surat al kahfi Alloh mengatakan, sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di muka bumi ini perhiasan dunia untuk menguji siapa yang paling baik amalannya. Yang terpenting kata Alloh, semua yang ada di muka bumi ini, semuanya akan rata sama tanah. Dengan kita mengingat itu, kita akan qonaah, jamaah. Jadi, kenapa ana harus bersusah-susah? Kenapa ana harus sakit hati? Kenapa ana harus hasad? Toh apa yang dimiliki oleh orang lain akan hilang juga. Semua akan hancur. Rasul saw mengingatkan kita akan tidak bergunanya dunia ini dengan gambaran bangkai. Pernah suatu hari Rasul saw melewati pasar. Dari arah quba beliau jalan, menuju arah masjid nabawi. Di jalan pasar itu ada bangkai anak kambing yang cacat. Lalu beliau saw memegang telinganya bangkai kambing itu. Beliau mengatakan, seperti orang yang sedang berjualan, siapa yang mau beli bangkai ini satu dirham?! Siapa yang mau?! Para sahabat bingung, ya Rasulullah, bangkai?? Kata Raulullah lagi, Siapa yang mau? Gratis! Ya Rasulullah, kalau bangkai anak kambing ini hidup pun ia cacat. Gak ada yang mau beli. Apalagi sudah menjadi bangkai. Kata Rasulullah kemudian, begitulah dunia Dunia ini lebih rendah di sisi Alloh daripada bangkai kambing ini. Maka kita yakin bahwasanya dunia ini akan ditinggalkan, jamaah.

Yang ketiga, agar kita qona’ah adalah melihat kepada yang lebih rendah dari kita. Dari harta, jabatan, kedudukan, kita tidak boleh melihat kepada yang di atas kita. Tapi ini berbeda dengan urusan ibadah. Kalau ibadah kita gak boleh qona’ah. Justru harus berlomba-lomba. Kalau urusan dunia, kita harus qona’ah. Berbeda dengan training-training yang diadakan oleh motivator-motivator masalah ekonomi. Mereka selalu menyuruh kita melihat kepada yang di atas. Sedangkan kita, kebalikannya. Kita harus melihat kepada orang-orang yang di bawah kita. Ketika antum sakit, misalnya. Jangan antum melihat kepada yang lagi sehat. Tapi lihatlah kepada yang sakitnya lebih parah dari antum. Rasulullah saw dalam hadist riwayat Muslim mengatakan, lihatlah, pandanglah, kepada yang di bawah kalian. Jangan memandang yang di atas kalian. Karena itu akan lebih memotivasi kalian agar selalu bersyukur. Dan tidak merendahkan nikmat yang Alloh berikan.

Sebagian muslimat, sebagian istri-istri, terkadang, kalau dia pulang dari rumah temannya yang kaya raya, dia bikin sakit hati suami. Dia cerita, bang, tadi aku lihat sofa yang ada di rumah fulanah, ya Alloooh, bagus banget bang. Terus? Ya, kita gantilah kursi kita. Itulah, dampak melihat kepada yang di atas. Tapi kalau kita melihat ke bawah, Allohu Akbar, adem jamaah. Maka ini penting. Agar kita qonaah. Sesekali datanglah antum ke rumah orang miskin. Istri dan anak kita juga diajak. Karena kadang kala kita punya anak, karena dia berteman dengan sebayanya yang kaya, dia jadi tidak bersyukur dengan pemberian ayahnya. Anak pun ketika ia memandang ke atas, ia tak akan bersyukur. Maka kita perlu ajarin. Sesekali anak kita, kita bawa. Lihat nak, dia gak ada uang saku. Lihat, makannya hanya nasi dan garam. Maka jamaah, ketahuilah, bahwa di dunia ini, kalau antum susah, ada yang lebih susah dari antum. Kalau antum sakit, ada yang lebih sakit dari antum. Sehingga kita jadi qona’ah dengan takdir yang Alloh berikan buat kita. Kadang kala ada yang kena penyakit kanker dia putus asa dalam kehidupannya. Ajak dia ke rumah sakit kanker. Pulang dari rumah sakit, insya Alloh dia akan mengatakan, alhamdulillah ya, aku masih bisa jalan, aku masih bisa makan. Ini penting, jamaah. Untuk menumbuhkan qonaah. Sistem yang ada di dunia sekarang, perumahan orang kaya isinya hanya orang kaya saja. Tidak ada orang miskin. Kehidupan materialistis, yang dipikirkan hanya harta, jamaah. Maka tolong kita melihat kepada yang di bawah kita.


Kemudian yang keempat, mendidik jiwa kita untuk hemat mengeluarkan harta dan tidak berlebih-lebihan. Tidak mubadzir. Ada peribahasa, besar pasak daripada tiang. Jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada penghasilan. Alloh berfirman, kalian makan, kalian minum, dan jangan berlebih-lebihan. Makan secukupnya, minum secukupnya. Rasul saw mengatakan, silahkan engkau makan, silahkan engkau minum, berpakaian, sedekah, tapi dengan syarat dua: tidak sombong dan tidak berlebihan. Rasul saw mengatakan, sekali-kali kita tidak menunjukkan kemewahan. Contohnya, ada orang yang biasanya selalu pakai mobil. Sesekali, naiklah angkutan umum. Sesekali jalan kaki. Ada orang yang selalu pakai baju bagus. Sesekali pakailah baju yang tidak bagus. Di situ akan menumbuhkan perasaan tawadhu, qona’ah, ridha, dan tidak sombong, Jamaah.


Yang kelima, meyakini bahwa Alloh menjadikan perbedaan dalam pembagian rizki itu untuk hikmah. Ada yang kaya, ada yang miskin. Di surat adz dzukruf ayat 32, Alloh mengatakan, apakah mereka yang bagi-bagi rahmat Alloh? Yang bikin fulan kaya dan yang bikin fulan miskin? Alloh katakan, Kami yang bagi. Sehingga antum gak boleh hasad. Karena Alloh yang bagi. Sebagian orang Alloh angkat derajatnya dari sebagian yang lain. Sehingga ada atasan, ada anak buah. Alloh jadikan seperti itu agar kehidupan ini berjalan. Kalau semuanya jadi bos, siapa yang anak buah? Kalau semuanya orang kaya, siapa yang akan menanam? Siapa yang akan membangun rumah? Kalau semua punya mobil dan tidak ada yang perbaiki mobil, siapa yang akan memperbaiki mobil yang rusak? Ada hikmah di balik itu semua. Alloh yang melakukannya. Dan Alloh sebutkan, rahmat Alloh itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. Jadi, apabila kita tergoda dengan orang-orang yang di atas kita, segera berpikir, rahmat Alloh itu jauh lebih baik dari apa yang dikumpulkan oleh mereka.


Kemudian yang keenam, memahami bahwa kefakiran dan kekayaan adalah ujian. Sama saja. Gak ada bedanya. Yang kaya diuji, yang miskin diuji. Karena sebagian orang itu berpikir, kalau kemiskinan adalah ujian sedangkan kekayaan tidak. Padahal Alloh berfirman dalam surat al anbiya ayat 35, semua yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kalian dengan keburukan dan dengan kebaikan. Dua-duanya ujian, jamaah. Dan kalian akan dikembalikan kepada Kami. Dan, jamaah, dalam hadist yang lain, Rasul saw mengatakan, besarnya pahala itu sepadan dengan besarnya cobaan. Alloh kalau cinta kepada hambaNya, Alloh akan kasih cobaan sama dia. Berupa kesulitan. Barangsiapa yang ridha, maka buat dia keridhaan. Alloh akan ridha sama dia. Dan barangsiapa yang marah, maka Alloh akan marah sama dia. Lantas, Apa reaksi kita? Ya sudah, ketika diuji dengan harta bersyukur. Ketika diuji dengan kesusahan, kita bersabar.

Jamaah, orang miskin akan masuk surga lebih dulu daripada orang kaya. Orang miskin akan masuk surga 500 tahun lebih awal dari orang kaya. Kenapa seperti itu? Karena orang miskin tidak punya harta untuk dihisab. Kata nabi saw, fuqoro muhajirin itu akan masuk surga 500 tahun sebelum orang kaya. Tapi, para sahabat yang miskin itu ingin kaya. Mereka datang menjumpai Rasul saw. Mereka ingin kaya bukan untuk dunia, tapi untuk akhirat. Kenapa orang-orang muhajirin ingin seperti orang-orang kaya anshar? Karena manfaat kekayaan itu banyak, jamaah. Orang kaya bisa bangum masjid. Orang kaya bisa berangkat umrah, bisa berangkat haji, orang miskin nggak bisa. Tapi orang miskin bisa mendapat pahala seperti orang kaya kalau niatnya seperti niatnya orang kaya. Makanya, cobalah antum terus membangun niat baik.


Yang ketujuh, mencontoh orang-orang yang hidup qona'ah. Membaca sejarah mereka. Coba antum baca sejarah Rasulullah saw. Bagaimana qonaahnya nabi saw. Di surat thaha ayat 131, Alloh mengatakan kepada nabi saw, engkau jangan mengarahkan pandanganmu kepada orang-orang yang banyak hartanya, yang diberi berbagai macam kemewahan. Jangan. Mata ini perlu dijaga, jamaah. Karena ada fitnah mata. Ada orang yang kalau masuk ke pasar, tapi dia tidak tundukkan pandangan, dia jadi beli apa saja yang dilihatnya. Maka perlu kita menjaga pandangan mata kita. Kita lihat bagaimana Rasulullah saw dalam kehidupan beliau. Kalau bicara makan, pernah Rasul saw, dua bulan tungkunya nggak hidup, jamaah. Makan apa? Kurma sama air. Selain kurma, apa yang beliau makan? Roti. Tapi kata Aisyah ra, Rasul saw itu tidak pernah sehari merasa kenyang dengan roti dan minyak dua kali. Artinya, kalau beliau makan siang kenyang, malamnya gak mungkin kenyang. Kita? Masya Alloh. Sarapan, kenyang. Makan siang, kenyang. Sore masih makan lagi. Ba’da isya, makan lagi. Mau tidur, makan lagi. Dan masih tidak bersyukur pada Alloh jalla jallaluh.

Kalau kita melihat kasur Rasul saw, beliau kalau tidur ada bekas garis-garis tikar, jamaah. Sampai Umar bin Khattab pernah menangis saat masuk ke rumah Nabi saw. Dia lihat di lemari Nabi ada satu sak gandum. Cuma itu yang ada. Kemudian ada daun yang digunaan untuk menyamak kulit. Kemudian ada kulit yang belum disamak. Kemudian Rasul saw tidur dalam kondisi punggungnya membekas tikar. Lalu Umar meneteskan air mata. Dia mengatakan, ya Rasulullah, kaisar Romawi, kisra di Persia, mereka hidup bergelimang harta. Terus, engkau seperti ini?? Padahal engkau adalah Rasulullah saw. Beliau itu makhluk yang paling dicintai Alloh. Tapi hidupnya seperti itu. Lalu apa kata nabi saw menghibur Umar? Wahai Umar, apa engkau tidak ridha? Bagi mereka dunia dan bagi kita akhirat? Ya, sudah. Aku ridha ya Rasulullah, jawab Umar.

Jamaah, dunia ini penjara buat orang yang beriman. Dan surganya orang-orang kafir. Kalau kita lihat rumah rasul saw, berapa luas rumah nabi saw? Subhanalloh, kira-kira, 5x5 meter. 3x5, itu kamar. 2x5, itu semacam teras ada juga tempat untuk masak di sana. Itu rumah rasul saw. Rumah rasul saw itu seperti kamar. Satu kamar dan nggak ada tempat lainnya. Di sebelahnya itu yang ada makam rasul saw itu semacam teras. Di situ tempat Aisyah memasak. Itu rumah orang yang paling dicintai Alloh swt. Rumah nabi itu kecil dan separuhnya dari tanah dan separuhnya lagi dari dahan kurma. Maka kita perlu membaca sejarah kehidupan Rasul saw, agar kita qonaah.


Dan yang terakhir, yang kedelapan, yang menyebabkan kita qonaah adalah ziarah kubur. Datanglah antum ke kuburan. Tatkala gelora keinginan merengkuh dunia membuncah, maka berangkatlah ke kuburan. Ketika melihat kuburan orang-orang yang dimakamkan di sana, kita akan sadar bahwa semua yang kita kejar itu akan hilang. Tidak dibawa mati. Dan ingat, kalau kekuburan muslim tujuannya hanya dua: 1. Mengingat akhirat dan, 2. Mendoakan yang meninggal dunia.


Wallohu a’lam bish showwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar