Judul :
SYUKUR, RIDHA, DAN QONA'AH YANG PUDAR
Oleh :
Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah
Sumber : Channel Youtube – Syafiq Riza Basalamah Official
Editor : Fiqih Fahlevi
Assalamu’alaikum warahmatullah
wabarokatuh.
Segala puji bagi Alloh Jalla Jallaluh
yang karena nikmatnya, kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Yang karena
RahmatNya niat-niat baik hamba dapat terlaksanaa. Segala keberhasilan yang kita
capai, segala keindahan yang kita lihat, segala kenikmatan yang kita rasakan,
semua itu murni karunia Alloh kepada hambaNya. Maka tidak sah sholat seorang
hamba tanpa ia berucap alhamdulillahi robbil ‘alamin.
Ya Alloh, semoga shalawatMu, semoga
salam, berkah, dan nikmatMu, senantiasa Engkau curahkan untuk hamba kekasihMu.
Untuk manusia terindah yang pernah menginjakkan kakinya di muka bumi ini. Untuk
hamba Alloh yang diutus sebagai rahmatan lil’alamin. Baginda nabi Muhammad saw.
Dan untuk keluarga beliau, untuk istri-istri beliau, untuk putra-putri beliau,
dan untuk seluruh sahabat nabi. Semoga Alloh meridhai kita bersama mereka.
Amma ba’du.
Jamaah rahimakumulloh, wallohi
jamaah, kita ini kadang kala banyak meninggalkan amalan-amalan yang sejatinya
ringan dan mudah. Rasul saw, beliau mengajarkan kepada kita semua kebaikan.
Kita tidak perlu merasa kesulitan mengamalkan agama Alloh ini. Tidak perlu
berpikir. Hanya perlu mengamalkan. Mereka meremehkan sunnah, memudah-mudahkan
sunnah, padahal sunnah ini yang membuat Alloh cinta sama kita. Kata Alloh jalla
jallaluh, ketika berbicara tentang amalan yang paling Alloh cintai adalah
amalan yang wajib. Kemudian hamba Ku ini melanjutkan amalannya dengan
menambahkan amalan-amalan yang sunnah, kata Alloh, hamba Ku terus mendekatkan
dirinya kepadaKu dengan yang sunnah-sunnah sehingga Aku cinta kepada dia. Jadi
kalau kita ingin dicintai Alloh, maka berusahalah untuk mengamalkan sunnah.
Jamaah, malam ini kita akan membahas
tentang syukur. Sebagian orang berpikir, ustadz, sudah sering kajian tentang
syukur. Udah ramai kuliah tentang ridha. Ketahuilah bahwa yang diusahakan
syaitan ketika dikeluarkan dari surga, dia mengatakan kepada Alloh, di surat al
a’raf ayat 17, aku akan mendatangi manusia, menggoda manusia, dari depan
mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dari kiri mereka, dan Engkau
ya Alloh, akan mendapati kebanyakan manusia tidak bersyukur.
Apa yang menyebabkan banyak wanita
masuk neraka? Kurang bersyukur. Dan Alloh menyebutkan, dan sedikiiit dari
hamba-hambaKu yang pandai bersyukur. Di surat azzumar ayat 66 Alloh mengatakan,
beribadahlah hanya kepada Alloh dan jadilah orang-orang yang bersyukur.
Malam ini kita akan bicara tentang
tingkatan di atas syukur yaitu ridha kepada Alloh jalla jallaluh. Orang yang
bersyukur kepada Alloh adalah orang yang ridha dengan pemberian Alloh jalla
jallaluh. Kita melihat dimasa kini banyak manusia putus asa. Peristiwa tentang
orang-orang yang bunuh diri itu banyak sekali. Sebagian karena putus cinta,
sebagian karena putus kerja, sebagian karena punya hutang berlebih sehingga ia
tidak mampu melunasinya, akhirnya ia bunuh diri, dan lain-lain. Ketika keridhan
dengan Alloh itu hilang, manusia akan saling hasad, akan saling iri, dan
dengki. Tidak boleh melihat orang lain berbahagia. Melihat kawannya ganti
mobil, dia sakit perut dua hari. Ada apa? Karena dia tidak ridha, jamaah.
Banyaknya pencurian, banyaknya perampokan, banyaknya orang-orang yang marah,
yang emosi, yang tak bisa kontrol diri, disebabkan karena hilangnya sikap
qona’ah dari diri dia.
Kalau kita bicara qona’ah, apa sih
arti qona’ah itu? Para ulama mengatakan, qona’ah adalah ridha dengan apa yang
Alloh beri. Ridha dengan apa yang Alloh tentukan. Ridha dengan pembagian Alloh.
Qona’ah adalah mencukupkan diri dengan yang ada dan tidak ingin hal yang tidak
ada. Misal, kita makan di restoran. Udah dikasih cumi bakar, tom yam, dan segala
macam di situ. Ketika dia makan, dia mengatakan, ooo, ada yang lebih enak dari
ini. Ada di kedai fulan. Berarti dia tidak bersyukur dengan yang ada di depan
dia. Yang namanya qona’ah itu, yang enak, yang lezat, yang ada di depan kita. Contoh
lain, kita naik mobil. Melihat orang lain mobilnya lebih bagus, lalu hati kita
berkata kapan ya ana naik yang seperti itu? Tidak ridha, jamaah. Tidak qona’ah.
Sehingga orang yang seperti ini, hidupnya susah.
Kemudian qona’ah itu mencukupkan diri
dengan apa yang ia miliki. Dan tidak tamak dengan apa yang tidak ia miliki.
Kemudian, jamaah, qona’ah itu dipenuhinya hati dengan keridhaan dan tidak suka
mengadu kepada orang. Sebagian di antara kita ini, ada masalah sedikit dia
cerita sama orang tuanya. Ia cerita sama temannya. Selalu dia mengadukan
sesuatu yang susah. Tapi dapat nikmat, dia tidak cerita. Maka jamaah
rahimakumulloh, ingat, qona’ah ini diperlukan oleh orang kaya dan diperlukan
juga oleh orang miskin.
Jamaah rahimakumulloh, siapa yang
tahu luasnya pintu surga? Kalau surganya itu luasnya seluas langit dan bumi.
Itu surganya. Kalau pintunya? Berapa jumlah pintu surga jamaah? Delapan. Satu
pintu surga itu berapa luasnya? Kira-kira 900 mil atau 1200-an km. itu pintu
surga. Nanti, pintu yang seluas itu, kata nabi saw, pintu itu akan ramai
manusia berdesak-desakan di pintu itu. Semoga kita menjadi salah satu di antara
orang-orang yang berdesak-desakan itu.
Ingat, orang kaya memerlukan qona’ah.
Bagaimana qona’ahnya orang kaya? Qona’ahnya orang kaya adalah dengan cara dia
ridha dengan apa yang telah Alloh berikan dan dengan mensyukuri. Syukur itu
dengan hati, lisan, dan dengan perbuatan. Dia tidak zalim dan tidak mengingkari
nikmat yang Alloh berikan. Dia tidak memasukkan harta ke dalam hatinya.
Qona’ahnya orang kaya itu, hartanya tidak ada di hati. Melainkan di tangan. Gak
boleh hartanya itu masuk ke hati. Sehingga, ketika kekayaan atau harta masuk ke
hati, sebagian orang kaya jadi budak harta. Bukannya dia yang memiliki harta
tapi harta yang memiliki dia. Harta yang menguasai dia. Na’udzubillah.
Adapun qona’ahnya orang kaya lagi,
ada orang yang banyak hartanya, memiliki rumah yang tidak bisa dihitung saking
banyaknya, tapi dia tidak menipu orang lain, tidak makan makanan yang haram,
dia tidak sombong, tidak meremehkan orang lain, kalau dia bertambah rizkinya dia
berbagi, kalau dia mendapati kerugian dalam perdagangannya dia ridha, orang ini
adalah termasuk orang kaya yang qona’ah.
Lalu, bagaimana qonaahnya orang
miskin? Yaitu dengan cara merasa cukup dengan apa yang telah Alloh berikan,
berserah diri, dan sabar terhadap musibah. Dia juga tidak suka marah-marah,
jamaah. Sebagian orang, ketika punya masalah di luar rumah, yang dimarahi
istrinya. Yang dimarahi anaknya. Qonaahnya orang miskin, dia tidak memandang ke
atas. Tapi dia memandang ada yang di bawah dia. Qonaahnya orang miskin dia
tidak minta-minta. Karena kalau orang sudah sampai tingkat meminta-minta
padahal sejatinya dia itu cukup, maka dia tidak qonaah.
Keutamaan qonaah, Rasulullah saw mengatakan
dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim dari abdullah bin amr bin ash,
beliau bersabda, telah sukses, telah berhasil, telah beruntung, orang yang
masuk islam. Ini kesuksesan, jamaah. Kita dikasih hidayah masuk islam,
alhamdulillah. Yang kedua, diberi rizki yang cukup dan Alloh bikin dia qonaah
dengan apa yang telah Alloh berikan. Menerima dia. Mau banyak, mau sedikit,
terima. Karena ada orang kaya raya yang tidak qonaah. Buktinya apa? Dia makan
yang haram. Dia makan riba. Dia menipu orang. Padahal hartanya kaya raya. Tapi
ada orang biasa yang Alloh kasih qona’ah. Oleh karena itu imam syafi’I
mengatakan, apabila engkau memiliki hati yang qonaah, engkau dan raja yang
paling kaya di dunia ini, merasakan hal yang sama. Asalkan punya hati yang
qonaah.
Rasulullah saw mengatakan, ridha-lah
engkau dengan apa yang telah Alloh berikan kepada mu. Maka engkau akan menjadi orang
yang paling kaya. Ada orang, masya Alloh, tak punya mobil, tak punya motor,
tapi dia orang paling kaya di muka bumi ini, jamaah. Kata Rasul saw,
barangsiapa di antara kalian yang merasa aman di rumahnya, di keluarganya, tidak
ada yang ganggu dia, badannya sehat, tidak sakit, dia memiliki makanan hari itu.
Apa kata nabi saw? Seakan-akan dunia dan isinya milik dia. Subhanalloh, jamaah.
Bagaimana dengan sebagian orang yang
masih mengeluh? Masih mengadu? Padahal dia punya makanan sampai tahun depan.
Dia punya tabungan sampai bulan depan. Masih saja mengeluh. Tidak ada
syukurnya. Kenapa? Karena dia tidak qona’ah.
Abu hatim ra, dia berpesan, qonaah
itu tempatnya di mana? Di hati. Bukan di tangan. Ingat, qonaah itu letaknya di
hati. Barangsiapa yang hatinya kaya, tangannya akan kaya. Walaupun tak punya
apa-apa. Barang siapa yang hatinya fakir, maka kekayaannya tidak akan berguna
buat dia. Barangsiapa yang qonaah, dia tidak akan mengeluh, jamaah. Tidak akan
marah-marah. Tidak akan emosi. Hidupnya damai dan tentram. Tapi orang yang
tidak qonaah, maka gak ada gunanya dia memiliki harta yang banyak. Terkadang ia
kehilangan mobilnya, kehilangan rumahnya, tapi tidak qonaah, tidak akan
bersyukur kepada Alloh jalla jallaluh.
Sekarang, bagaimana cara kita
mendapatkan qonaah?
Karena kalau bicara qonaah, sangat
mudah sekali diucapkan. Tapi bagaimana kita meraihnya? Apa saja langkah-langkah
yang harus kita kerjakan agar kita mendapat sifat qonaah? Yang katanya, qonaah
itu harta tersimpan yang tidak habis?
Yang pertama, iman dan keyakinan yang penuh bahwa yang membagi rizki adalah Alloh.
Yakin kalau Alloh yang bagi rizki. Tadi kita sampaikan hadist Rasul saw, wahai
ummat manusia, bertakwalah kalian kepada Alloh dan carilah rizki dengan cara
yang baik. Manusia tidak akan mati sampai rizkinya sempurna. Jadi jangan takut
antum. antum gak bakalan mati kecuali rizkinya sudah sempurna. Lalu beliau
mengatakan, walaupun rizkinya lambat datangnya. Ada orang yang tujuh tahun
hidup miskin, tapi sekarang antum bisa melihat dia mulai sukses. Tapi ada juga
orang yang sampai mati hidupnya miskin. Tapi bisa jadi dia orang yang qonaah.
Dia tidak pernah tergoda melihat orang yang lebih kaya dari dia. Kenapa? Karena
dia tau yang bagi rizki adalah Alloh jalla jallaluh.
Amir ra, seorang sahabat nabi
mengatakan, ada empat ayat di dalam al quran nul karim, kalau aku membacanya di
sore hari, aku gak peduli sore hari nanti kayak apa. Kalo aku membacanya di
pagi hari, dan pagi itu jadi apa, aku juga nggak peduli. Empat ayat itu adalah:
Yang pertama, di surat Fathir ayat 35, Alloh
mengatakan, apa yang Alloh buka dari RahmatNya, enggak ada yang bisa nutup
Rahmat Alloh. Walaupun seluruh penduduk bumi bersatu untuk menutupnya, nggak
akan ada yang bisa. Tapi kalau Alloh menutup rahmatNya, andai seluruh penduduk
bumi ini ingin membukanya, mereka tidak akan pernah bisa. Kita yakin berarti
Alloh yang berbagi rizki.
Yang kedua di surat Yunus ayat 107.
Alloh mengatakan, apabila Alloh menginginkan kebaikan buat mu, maka tidak ada
yang bisa menolak kebaikan Alloh. Tidak bisa, jamaah. Kita yakin, Alloh yang
membagi. Alloh itu membagi rizki kepada siapa saja yang Alloh kehendaki. Jadi
kita gak perlu melihat orang, kenapa ya fulan ini jarang ke masjid tapi kok
fulusnya banyak?! Dia tahu, yang membagi itu Alloh.
Yang ketiga di surat Hud ayat 6.
Alloh mengatakan, tidak ada sesuatu pun yang melata di muka bumi ini melainkan
Alloh yang menanggung rizkinya. Semuanya. Alloh tau rizkinya ada di mana. Kapan
dia kaan mendapatkannya. Alloh tau. Kita gak tau. Artinya hidup kita udah
tanang. Hari ini, kalau umur masih ada, berarti kita akan makan. Kalau umur
tidak ada, selesai jamaah.
Yang keempat di surat attholaq ayat
7. Alloh mengatakan, Alloh akan menjadikan setelah kesulitan, kemudahan. Jadi
kalau suatu hari antum hidup sulit, yakin, sebentar lagi akan ada kemudahan.
Itu yang pertama. kalau kita mau
qonaah, yakinlah bahwa yang membagi rizki adalah Alloh jalla jallaluh.
Yang kedua, mengingat kalau dunia ini akan habis. Dunia ini fana. Dunia ini
hanya permainan. Yang sekarang memiliki apartemen 100 tingkat, tau-tau dia
mati, ditinggal apartemennya. Tatkala kita yakin bahwasanya dunia ini hanya
permainan dan apa yang dimilikinya akan ditinggalkan selama-lamanya, maka dia
akan qonaah. Orang yang kaya tidak akan sombong. Karena ia tahu bahwa akhir
hidupnya adalah kematian. Di surat al kahfi Alloh mengatakan, sesungguhnya Kami
menjadikan apa yang ada di muka bumi ini perhiasan dunia untuk menguji siapa
yang paling baik amalannya. Yang terpenting kata Alloh, semua yang ada di muka
bumi ini, semuanya akan rata sama tanah. Dengan kita mengingat itu, kita akan
qonaah, jamaah. Jadi, kenapa ana harus bersusah-susah? Kenapa ana harus sakit
hati? Kenapa ana harus hasad? Toh apa yang dimiliki oleh orang lain akan hilang
juga. Semua akan hancur. Rasul saw mengingatkan kita akan tidak bergunanya
dunia ini dengan gambaran bangkai. Pernah suatu hari Rasul saw melewati pasar.
Dari arah quba beliau jalan, menuju arah masjid nabawi. Di jalan pasar itu ada
bangkai anak kambing yang cacat. Lalu beliau saw memegang telinganya bangkai kambing
itu. Beliau mengatakan, seperti orang yang sedang berjualan, siapa yang mau
beli bangkai ini satu dirham?! Siapa yang mau?! Para sahabat bingung, ya
Rasulullah, bangkai?? Kata Raulullah lagi, Siapa yang mau? Gratis! Ya
Rasulullah, kalau bangkai anak kambing ini hidup pun ia cacat. Gak ada yang mau
beli. Apalagi sudah menjadi bangkai. Kata Rasulullah kemudian, begitulah dunia
Dunia ini lebih rendah di sisi Alloh daripada bangkai kambing ini. Maka kita
yakin bahwasanya dunia ini akan ditinggalkan, jamaah.
Yang ketiga, agar kita qona’ah adalah
melihat kepada yang lebih rendah dari
kita. Dari harta, jabatan, kedudukan, kita tidak boleh melihat kepada yang
di atas kita. Tapi ini berbeda dengan urusan ibadah. Kalau ibadah kita gak
boleh qona’ah. Justru harus berlomba-lomba. Kalau urusan dunia, kita harus
qona’ah. Berbeda dengan training-training yang diadakan oleh
motivator-motivator masalah ekonomi. Mereka selalu menyuruh kita melihat kepada
yang di atas. Sedangkan kita, kebalikannya. Kita harus melihat kepada
orang-orang yang di bawah kita. Ketika antum sakit, misalnya. Jangan antum
melihat kepada yang lagi sehat. Tapi lihatlah kepada yang sakitnya lebih parah
dari antum. Rasulullah saw dalam hadist riwayat Muslim mengatakan, lihatlah,
pandanglah, kepada yang di bawah kalian. Jangan memandang yang di atas kalian.
Karena itu akan lebih memotivasi kalian agar selalu bersyukur. Dan tidak
merendahkan nikmat yang Alloh berikan.
Sebagian muslimat, sebagian
istri-istri, terkadang, kalau dia pulang dari rumah temannya yang kaya raya,
dia bikin sakit hati suami. Dia cerita, bang, tadi aku lihat sofa yang ada di
rumah fulanah, ya Alloooh, bagus banget bang. Terus? Ya, kita gantilah kursi
kita. Itulah, dampak melihat kepada yang di atas. Tapi kalau kita melihat ke
bawah, Allohu Akbar, adem jamaah. Maka ini penting. Agar kita qonaah. Sesekali
datanglah antum ke rumah orang miskin. Istri dan anak kita juga diajak. Karena
kadang kala kita punya anak, karena dia berteman dengan sebayanya yang kaya,
dia jadi tidak bersyukur dengan pemberian ayahnya. Anak pun ketika ia memandang
ke atas, ia tak akan bersyukur. Maka kita perlu ajarin. Sesekali anak kita,
kita bawa. Lihat nak, dia gak ada uang saku. Lihat, makannya hanya nasi dan
garam. Maka jamaah, ketahuilah, bahwa di dunia ini, kalau antum susah, ada yang
lebih susah dari antum. Kalau antum sakit, ada yang lebih sakit dari antum. Sehingga
kita jadi qona’ah dengan takdir yang Alloh berikan buat kita. Kadang kala ada
yang kena penyakit kanker dia putus asa dalam kehidupannya. Ajak dia ke rumah
sakit kanker. Pulang dari rumah sakit, insya Alloh dia akan mengatakan,
alhamdulillah ya, aku masih bisa jalan, aku masih bisa makan. Ini penting,
jamaah. Untuk menumbuhkan qonaah. Sistem yang ada di dunia sekarang, perumahan
orang kaya isinya hanya orang kaya saja. Tidak ada orang miskin. Kehidupan
materialistis, yang dipikirkan hanya harta, jamaah. Maka tolong kita melihat
kepada yang di bawah kita.
Kemudian yang keempat, mendidik jiwa kita untuk hemat mengeluarkan
harta dan tidak berlebih-lebihan. Tidak mubadzir. Ada peribahasa, besar
pasak daripada tiang. Jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada
penghasilan. Alloh berfirman, kalian makan, kalian minum, dan jangan berlebih-lebihan.
Makan secukupnya, minum secukupnya. Rasul saw mengatakan, silahkan engkau
makan, silahkan engkau minum, berpakaian, sedekah, tapi dengan syarat dua:
tidak sombong dan tidak berlebihan. Rasul saw mengatakan, sekali-kali kita
tidak menunjukkan kemewahan. Contohnya, ada orang yang biasanya selalu pakai
mobil. Sesekali, naiklah angkutan umum. Sesekali jalan kaki. Ada orang yang
selalu pakai baju bagus. Sesekali pakailah baju yang tidak bagus. Di situ akan
menumbuhkan perasaan tawadhu, qona’ah, ridha, dan tidak sombong, Jamaah.
Yang kelima, meyakini bahwa Alloh menjadikan perbedaan dalam pembagian rizki itu untuk
hikmah. Ada yang kaya, ada yang miskin. Di surat adz dzukruf ayat 32, Alloh
mengatakan, apakah mereka yang bagi-bagi rahmat Alloh? Yang bikin fulan kaya
dan yang bikin fulan miskin? Alloh katakan, Kami yang bagi. Sehingga antum gak
boleh hasad. Karena Alloh yang bagi. Sebagian orang Alloh angkat derajatnya dari
sebagian yang lain. Sehingga ada atasan, ada anak buah. Alloh jadikan seperti
itu agar kehidupan ini berjalan. Kalau semuanya jadi bos, siapa yang anak buah?
Kalau semuanya orang kaya, siapa yang akan menanam? Siapa yang akan membangun
rumah? Kalau semua punya mobil dan tidak ada yang perbaiki mobil, siapa yang
akan memperbaiki mobil yang rusak? Ada hikmah di balik itu semua. Alloh yang
melakukannya. Dan Alloh sebutkan, rahmat Alloh itu lebih baik daripada apa yang
mereka kumpulkan. Jadi, apabila kita tergoda dengan orang-orang yang di atas
kita, segera berpikir, rahmat Alloh itu jauh lebih baik dari apa yang
dikumpulkan oleh mereka.
Kemudian yang keenam, memahami bahwa kefakiran dan kekayaan
adalah ujian. Sama saja. Gak ada bedanya. Yang kaya diuji, yang miskin
diuji. Karena sebagian orang itu berpikir, kalau kemiskinan adalah ujian
sedangkan kekayaan tidak. Padahal Alloh berfirman dalam surat al anbiya ayat
35, semua yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kalian dengan
keburukan dan dengan kebaikan. Dua-duanya ujian, jamaah. Dan kalian akan
dikembalikan kepada Kami. Dan, jamaah, dalam hadist yang lain, Rasul saw
mengatakan, besarnya pahala itu sepadan dengan besarnya cobaan. Alloh kalau
cinta kepada hambaNya, Alloh akan kasih cobaan sama dia. Berupa kesulitan.
Barangsiapa yang ridha, maka buat dia keridhaan. Alloh akan ridha sama dia. Dan
barangsiapa yang marah, maka Alloh akan marah sama dia. Lantas, Apa reaksi
kita? Ya sudah, ketika diuji dengan harta bersyukur. Ketika diuji dengan
kesusahan, kita bersabar.
Jamaah, orang miskin akan masuk surga
lebih dulu daripada orang kaya. Orang miskin akan masuk surga 500 tahun lebih
awal dari orang kaya. Kenapa seperti itu? Karena orang miskin tidak punya harta
untuk dihisab. Kata nabi saw, fuqoro muhajirin itu akan masuk surga 500 tahun
sebelum orang kaya. Tapi, para sahabat yang miskin itu ingin kaya. Mereka
datang menjumpai Rasul saw. Mereka ingin kaya bukan untuk dunia, tapi untuk
akhirat. Kenapa orang-orang muhajirin ingin seperti orang-orang kaya anshar?
Karena manfaat kekayaan itu banyak, jamaah. Orang kaya bisa bangum masjid.
Orang kaya bisa berangkat umrah, bisa berangkat haji, orang miskin nggak bisa.
Tapi orang miskin bisa mendapat pahala seperti orang kaya kalau niatnya seperti
niatnya orang kaya. Makanya, cobalah antum terus membangun niat baik.
Yang ketujuh, mencontoh orang-orang yang hidup qona'ah. Membaca sejarah mereka.
Coba antum baca sejarah Rasulullah saw. Bagaimana qonaahnya nabi saw. Di surat
thaha ayat 131, Alloh mengatakan kepada nabi saw, engkau jangan mengarahkan
pandanganmu kepada orang-orang yang banyak hartanya, yang diberi berbagai macam
kemewahan. Jangan. Mata ini perlu dijaga, jamaah. Karena ada fitnah mata. Ada
orang yang kalau masuk ke pasar, tapi dia tidak tundukkan pandangan, dia jadi
beli apa saja yang dilihatnya. Maka perlu kita menjaga pandangan mata kita.
Kita lihat bagaimana Rasulullah saw dalam kehidupan beliau. Kalau bicara makan,
pernah Rasul saw, dua bulan tungkunya nggak hidup, jamaah. Makan apa? Kurma
sama air. Selain kurma, apa yang beliau makan? Roti. Tapi kata Aisyah ra, Rasul
saw itu tidak pernah sehari merasa kenyang dengan roti dan minyak dua kali.
Artinya, kalau beliau makan siang kenyang, malamnya gak mungkin kenyang. Kita?
Masya Alloh. Sarapan, kenyang. Makan siang, kenyang. Sore masih makan lagi.
Ba’da isya, makan lagi. Mau tidur, makan lagi. Dan masih tidak bersyukur pada
Alloh jalla jallaluh.
Kalau kita melihat kasur Rasul saw,
beliau kalau tidur ada bekas garis-garis tikar, jamaah. Sampai Umar bin Khattab
pernah menangis saat masuk ke rumah Nabi saw. Dia lihat di lemari Nabi ada satu
sak gandum. Cuma itu yang ada. Kemudian ada daun yang digunaan untuk menyamak
kulit. Kemudian ada kulit yang belum disamak. Kemudian Rasul saw tidur dalam
kondisi punggungnya membekas tikar. Lalu Umar meneteskan air mata. Dia mengatakan,
ya Rasulullah, kaisar Romawi, kisra di Persia, mereka hidup bergelimang harta.
Terus, engkau seperti ini?? Padahal engkau adalah Rasulullah saw. Beliau itu
makhluk yang paling dicintai Alloh. Tapi hidupnya seperti itu. Lalu apa kata
nabi saw menghibur Umar? Wahai Umar, apa engkau tidak ridha? Bagi mereka dunia
dan bagi kita akhirat? Ya, sudah. Aku ridha ya Rasulullah, jawab Umar.
Jamaah, dunia ini penjara buat orang
yang beriman. Dan surganya orang-orang kafir. Kalau kita lihat rumah rasul saw,
berapa luas rumah nabi saw? Subhanalloh, kira-kira, 5x5 meter. 3x5, itu kamar.
2x5, itu semacam teras ada juga tempat untuk masak di sana. Itu rumah rasul
saw. Rumah rasul saw itu seperti kamar. Satu kamar dan nggak ada tempat
lainnya. Di sebelahnya itu yang ada makam rasul saw itu semacam teras. Di situ
tempat Aisyah memasak. Itu rumah orang yang paling dicintai Alloh swt. Rumah nabi
itu kecil dan separuhnya dari tanah dan separuhnya lagi dari dahan kurma. Maka kita
perlu membaca sejarah kehidupan Rasul saw, agar kita qonaah.
Dan yang terakhir, yang kedelapan,
yang menyebabkan kita qonaah adalah ziarah
kubur. Datanglah antum ke kuburan. Tatkala gelora keinginan merengkuh dunia
membuncah, maka berangkatlah ke kuburan. Ketika melihat kuburan orang-orang
yang dimakamkan di sana, kita akan sadar bahwa semua yang kita kejar itu akan
hilang. Tidak dibawa mati. Dan ingat, kalau kekuburan muslim tujuannya hanya dua:
1. Mengingat akhirat dan, 2. Mendoakan yang meninggal dunia.
Wallohu a’lam bish showwab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar