Judul :
JANGAN KAGUM DENGAN HARTA ORANG LAIN
Oleh :
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc.
Sumber : Channel Youtube – UDA News
Editor : Fiqih Fahlevi
Alloh
melarang kita kagum ketika melihat hartanya manusia. Coba buka surat At Taubah
ayat 55. Ini Alloh larang kita untuk kagum melihat hartanya orang jika dia
enggak beriman sama Alloh. Jika dia nggak bertakwa kepada Alloh. Gak boleh kita
kagum. Alloh berfirman, anda tuh enggak boleh kagum terhadap harta-harta
mereka, dan anak-anak mereka. Gak boleh kagum. Kenapa? Karena sejatinya Alloh
kasih mereka harta, untuk mengazab mereka di dunia. Dan untuk membuat jiwa
mereka hancur dalam kondisi mereka enggak beriman kepada Alloh. Ya Alloh,
lihat, Bu. Lihat, bapak-bapak sekalian, Alloh larang kita untuk kagum melihat
fasilitas dunia yang dimiliki oleh seseorang jika dia enggak bertakwa kepada
Alloh. Jika dia enggak beriman kepada Alloh SWT. Enggak boleh anda kagum.
Enggak boleh. Enggak diperbolehkan.
Ada
ferari teman parkir, gak boleh kagum bapak-bapak, ibu-ibu, teman-teman
sekalian. Gak boleh. Ibu-ibu juga. Ada teman arisan pakai tas hermes, gak boleh
kagum. Gak boleh. Iya, gak boleh tuh. Ya, aku sih kalo hermes enggak. LV, pak
ustadz. LV juga gak boleh. Gak boleh. Ini larangannya hadirin. Ngeliat interior
rumah seseorang, bengong. Nggak boleh. Enggak boleh anda kagum. Kenapa? Karena
kalo mereka enggak bertakwa sama Alloh, itu harta yang Alloh kasih ke mereka
untuk menyiksa mereka di dunia. Mereka enggak tenang. Harta itu kan ujian,
setuju enggak hadirin? Yakin gak nih harta ujian? Oke. Jadi, harta itu ujian
gak? Ujian. Berarti iphone x ujian apa enggak? Kalo ngeliat orang tertimpa ujian,
kagum apa enggak? Kan, mulai ragu-ragu. Baru dikasih iphone x.
Kan
harta ujian. Ujian itu hadirin yang dirahmati Alloh. Semua ujian. Dan kalau gak
beriman, harta itu akan menyiksa dia. Gak akan buat dia tenang. Akan membuat
dia gelisah. Akan membuat dia hancur. Makanya gak boleh kagum. Kasian. Dan
fana, kata Alloh. Fana. Dunia itu fana. Sementara. Ok, kita dikasih kekayaan.
Berapa tahun sih? Seratus tahun? Enggak. Kalo umur kita seratus tahun kita
nikmatin seratus tahun? Enggak juga. Kita gak usah bicara muluk-muluk deh.
Simple aja ya, simple. Makanan kesukaan antum apa? Susah pertanyaannya ya? Wah,
gimana ditanya ayat kalau begini? Ibu-ibu suka makan apa, Bu? Bakso? Masya
Alloh. Enggak Jakarta selatan, enggak timur, enggak bekasi, bakso pokoknya lah.
Oke, bakso. Saya ingin tanya sama jamaah sekalian. Kita makan bakso, di sini
bakso paling ngetop di mana sih? Kita pergi ke tukang bakso yang menurut kita
paling enak sedunia. Saya ingin tanya, rasa lezat bakso yang pertama dengan
bakso yang kelima sama apa enggak? Ya Alloh, kita lagi laper nih, kita dateng
ke kios bakso tersebut dalam kondisi kalap. Coba kita renungkan. Kita makan
bakso di mangkok yang pertama. Nikmat apa enggak? Nikmat. Bang, tambah seporsi
lagi. Nambah mangkok yang kedua. Nikmat? Masih. Tapi udah berkurang. Bang,
tambah lagi bang. Mangkok yang ketiga. Masih nikmat gak? Mangkok yang keempat.
Mangkok yang kelima. Muntah deh. Padahal dua puluh menit yang lalu sebelum kita
masuk kios bakso itu, itu cita-cita kita pada hari itu kan?!. Makan bakso yang
udah lama kita gak cicipi sebelumnya. Padahal baksonya sama. Racikannya sama. Gak
ada bedanya tuh.
Lihat
tuh. Itu fananya dunia lho. Itu fananya dunia. Lagi pengen makan ketoprak.
Pergi ke ciragil. Piring yang kedua, piring yang ketiga, piring yang keempat,
muntah. Muntah. Padahal sama tuh tastenya. Itu gambaran sederhana bagaimana
fananya dunia.
Fananya
dunia ya begitu. Cepet gitu lho. Puasnya cepet hilang. Padahal nafsunya itu
minta ampun. Ibu-ibu ketika ngabuburit, liat risol, beli risol. Liat pastel,
beli pastel. Lalu, cakwe, cakwe. Begitu Allohu Akbar, Allohu Akbar, yang dimakan
apa? Tiga kurma juga. Yang lain enggak kemakan. Ilang tuh. Daya magisnya
hilang. Karena udah punya. Begitu punya rumah dapat lahan yang luas, nafsu mau
buat kolam renang. Masya Alloh. Nafsu buat kolam renang. Perdana tuh, bulan
pertama, masih oke. Bulan kedua, udah. Paling enam bulan aja itu kolam renang
dipakenya. Abis itu jadi pajangan. Gak dipake lagi. Coba, dari yang punya
kkolam renang, berapa persen yang istiqomah, kita gak usah bicara gaya
kupu-kupu deh. Gaya batu aja lah. Ya Alloh, minim tuh. Mayoritas teman saya
yang rumahnya punya kolam renang, nggak kepake udah. Enggak kepake. Wong
semangat nge-gym di rumah beli tread mill, coba tuh. Niatnya mau diet, nge-gym,
berapa bulan sih tuh tread mill?
Bener
tuh kata imam al ghazali, mayoritas tuh gitu. Fana, udah. Walaupun nafsunya
minta ampun. Iya, kan? Pergi ke butik ngeliat gamis atau ngeliat baju, pengen
beliii aja rasanya. Dipake? Belum tentu. Gitu lho. Paling setahun dua kali pake
tu baju. Habis itu, udah, lupa.
Kenapa
enggak ada kelezatan? Temen beli mobil sport, beli juga mobil sport. Temen beli
mobil off road yang four wheels, beli yang four wheels. Turingnya berapa kali
sih? Paling beberapa kali aja. Udah abis itu gak kepake. Yang panasin siapa?
Driver di rumah. Pokoknya yang nikmatin orang lain. Gitu lho. Ada teman beli
villa, beli villa juga. Pakai kolam renang, kolam renang juga. Harus ada
gym-nya, harus ada gym-nya. Masya Alloh. Yang langsing siapa? Bibi. Karena bibi
yang berenang, sama mang kuncen yang six pack. Karena dia yang fitness. Kita? Tetep
onepack. Onepack aja dari dulu. Mayoritas begitu.
Hadirin, itulah fananya dunia.
Jangankan kita meninggal, nih, kita masih ada, tuh harta masih ada depan kita
tapi ilang udah. Nikmatnya enggak ada. Hilang udah. Hlangnya cepet. Memang
nafsu sih ketika belum punya tuh nafsu. Ya makanya, itu kan ada istilah, rumput
tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Pokoknya gitu aja. Begitu dapet,
sirna. Jadi itu bukan hanya sugesti. Itu Firman Alloh yang mengatakan kalau
yang anda punya tuh, semu. Jadi, banyak orang berpikir, semu itu kalau
meninggal bagi-bagi warisan. Enggak. Sebelum itu udah semu. Sebelum itu tuh,
udah gak ada artinya. Kita pakai itu lagi, itu lagi. Itu fenomena yang dilihat
oleh imam al ghazali rahimahulloh. Dan harus jadi ibroh bagi kita hadirin.
Harus jadi ibroh. Tapi itu dilupakan mayoritas orang. Akhirnya mereka terjebak
ngumpulin lagi, ngumpulin lagi, tapi lupa kepada Alloh. Lupa beramal. Padahal
gak ada kenikmatannya, gak ada kenyamanannya, gak ada ketenangan. Karena
ketenangan itu nggak bisa dengan harta. Ketenangan itu enggak bisa dengan
fasilitas. Makanya, itu yang ditangkap dengan jernih oleh para ulama seperti al
imam al ghazali. Makanya, kata beliau, ketika aku dapat harta, aku gunakan
untuk mencari wajah Alloh SWT. Karena itu tadi, kalo nggak dipake di jalan
Alloh, semua jadi semu. Dan menyiksa, hadirin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar