Sabtu, 08 September 2018

JANGAN KAGUM DENGAN HARTA ORANG LAIN

Judul               : JANGAN KAGUM DENGAN HARTA ORANG LAIN
Oleh                : Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc.
Sumber            : Channel Youtube – UDA News
Editor              : Fiqih Fahlevi


Alloh melarang kita kagum ketika melihat hartanya manusia. Coba buka surat At Taubah ayat 55. Ini Alloh larang kita untuk kagum melihat hartanya orang jika dia enggak beriman sama Alloh. Jika dia nggak bertakwa kepada Alloh. Gak boleh kita kagum. Alloh berfirman, anda tuh enggak boleh kagum terhadap harta-harta mereka, dan anak-anak mereka. Gak boleh kagum. Kenapa? Karena sejatinya Alloh kasih mereka harta, untuk mengazab mereka di dunia. Dan untuk membuat jiwa mereka hancur dalam kondisi mereka enggak beriman kepada Alloh. Ya Alloh, lihat, Bu. Lihat, bapak-bapak sekalian, Alloh larang kita untuk kagum melihat fasilitas dunia yang dimiliki oleh seseorang jika dia enggak bertakwa kepada Alloh. Jika dia enggak beriman kepada Alloh SWT. Enggak boleh anda kagum. Enggak boleh. Enggak diperbolehkan.

Ada ferari teman parkir, gak boleh kagum bapak-bapak, ibu-ibu, teman-teman sekalian. Gak boleh. Ibu-ibu juga. Ada teman arisan pakai tas hermes, gak boleh kagum. Gak boleh. Iya, gak boleh tuh. Ya, aku sih kalo hermes enggak. LV, pak ustadz. LV juga gak boleh. Gak boleh. Ini larangannya hadirin. Ngeliat interior rumah seseorang, bengong. Nggak boleh. Enggak boleh anda kagum. Kenapa? Karena kalo mereka enggak bertakwa sama Alloh, itu harta yang Alloh kasih ke mereka untuk menyiksa mereka di dunia. Mereka enggak tenang. Harta itu kan ujian, setuju enggak hadirin? Yakin gak nih harta ujian? Oke. Jadi, harta itu ujian gak? Ujian. Berarti iphone x ujian apa enggak? Kalo ngeliat orang tertimpa ujian, kagum apa enggak? Kan, mulai ragu-ragu. Baru dikasih iphone x.

Kan harta ujian. Ujian itu hadirin yang dirahmati Alloh. Semua ujian. Dan kalau gak beriman, harta itu akan menyiksa dia. Gak akan buat dia tenang. Akan membuat dia gelisah. Akan membuat dia hancur. Makanya gak boleh kagum. Kasian. Dan fana, kata Alloh. Fana. Dunia itu fana. Sementara. Ok, kita dikasih kekayaan. Berapa tahun sih? Seratus tahun? Enggak. Kalo umur kita seratus tahun kita nikmatin seratus tahun? Enggak juga. Kita gak usah bicara muluk-muluk deh. Simple aja ya, simple. Makanan kesukaan antum apa? Susah pertanyaannya ya? Wah, gimana ditanya ayat kalau begini? Ibu-ibu suka makan apa, Bu? Bakso? Masya Alloh. Enggak Jakarta selatan, enggak timur, enggak bekasi, bakso pokoknya lah. Oke, bakso. Saya ingin tanya sama jamaah sekalian. Kita makan bakso, di sini bakso paling ngetop di mana sih? Kita pergi ke tukang bakso yang menurut kita paling enak sedunia. Saya ingin tanya, rasa lezat bakso yang pertama dengan bakso yang kelima sama apa enggak? Ya Alloh, kita lagi laper nih, kita dateng ke kios bakso tersebut dalam kondisi kalap. Coba kita renungkan. Kita makan bakso di mangkok yang pertama. Nikmat apa enggak? Nikmat. Bang, tambah seporsi lagi. Nambah mangkok yang kedua. Nikmat? Masih. Tapi udah berkurang. Bang, tambah lagi bang. Mangkok yang ketiga. Masih nikmat gak? Mangkok yang keempat. Mangkok yang kelima. Muntah deh. Padahal dua puluh menit yang lalu sebelum kita masuk kios bakso itu, itu cita-cita kita pada hari itu kan?!. Makan bakso yang udah lama kita gak cicipi sebelumnya. Padahal baksonya sama. Racikannya sama. Gak ada bedanya tuh.

Lihat tuh. Itu fananya dunia lho. Itu fananya dunia. Lagi pengen makan ketoprak. Pergi ke ciragil. Piring yang kedua, piring yang ketiga, piring yang keempat, muntah. Muntah. Padahal sama tuh tastenya. Itu gambaran sederhana bagaimana fananya dunia.

Fananya dunia ya begitu. Cepet gitu lho. Puasnya cepet hilang. Padahal nafsunya itu minta ampun. Ibu-ibu ketika ngabuburit, liat risol, beli risol. Liat pastel, beli pastel. Lalu, cakwe, cakwe. Begitu Allohu Akbar, Allohu Akbar, yang dimakan apa? Tiga kurma juga. Yang lain enggak kemakan. Ilang tuh. Daya magisnya hilang. Karena udah punya. Begitu punya rumah dapat lahan yang luas, nafsu mau buat kolam renang. Masya Alloh. Nafsu buat kolam renang. Perdana tuh, bulan pertama, masih oke. Bulan kedua, udah. Paling enam bulan aja itu kolam renang dipakenya. Abis itu jadi pajangan. Gak dipake lagi. Coba, dari yang punya kkolam renang, berapa persen yang istiqomah, kita gak usah bicara gaya kupu-kupu deh. Gaya batu aja lah. Ya Alloh, minim tuh. Mayoritas teman saya yang rumahnya punya kolam renang, nggak kepake udah. Enggak kepake. Wong semangat nge-gym di rumah beli tread mill, coba tuh. Niatnya mau diet, nge-gym, berapa bulan sih tuh tread mill?

Bener tuh kata imam al ghazali, mayoritas tuh gitu. Fana, udah. Walaupun nafsunya minta ampun. Iya, kan? Pergi ke butik ngeliat gamis atau ngeliat baju, pengen beliii aja rasanya. Dipake? Belum tentu. Gitu lho. Paling setahun dua kali pake tu baju. Habis itu, udah, lupa.

Kenapa enggak ada kelezatan? Temen beli mobil sport, beli juga mobil sport. Temen beli mobil off road yang four wheels, beli yang four wheels. Turingnya berapa kali sih? Paling beberapa kali aja. Udah abis itu gak kepake. Yang panasin siapa? Driver di rumah. Pokoknya yang nikmatin orang lain. Gitu lho. Ada teman beli villa, beli villa juga. Pakai kolam renang, kolam renang juga. Harus ada gym-nya, harus ada gym-nya. Masya Alloh. Yang langsing siapa? Bibi. Karena bibi yang berenang, sama mang kuncen yang six pack. Karena dia yang fitness. Kita? Tetep onepack. Onepack aja dari dulu. Mayoritas begitu.

Hadirin, itulah fananya dunia. Jangankan kita meninggal, nih, kita masih ada, tuh harta masih ada depan kita tapi ilang udah. Nikmatnya enggak ada. Hilang udah. Hlangnya cepet. Memang nafsu sih ketika belum punya tuh nafsu. Ya makanya, itu kan ada istilah, rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Pokoknya gitu aja. Begitu dapet, sirna. Jadi itu bukan hanya sugesti. Itu Firman Alloh yang mengatakan kalau yang anda punya tuh, semu. Jadi, banyak orang berpikir, semu itu kalau meninggal bagi-bagi warisan. Enggak. Sebelum itu udah semu. Sebelum itu tuh, udah gak ada artinya. Kita pakai itu lagi, itu lagi. Itu fenomena yang dilihat oleh imam al ghazali rahimahulloh. Dan harus jadi ibroh bagi kita hadirin. Harus jadi ibroh. Tapi itu dilupakan mayoritas orang. Akhirnya mereka terjebak ngumpulin lagi, ngumpulin lagi, tapi lupa kepada Alloh. Lupa beramal. Padahal gak ada kenikmatannya, gak ada kenyamanannya, gak ada ketenangan. Karena ketenangan itu nggak bisa dengan harta. Ketenangan itu enggak bisa dengan fasilitas. Makanya, itu yang ditangkap dengan jernih oleh para ulama seperti al imam al ghazali. Makanya, kata beliau, ketika aku dapat harta, aku gunakan untuk mencari wajah Alloh SWT. Karena itu tadi, kalo nggak dipake di jalan Alloh, semua jadi semu. Dan menyiksa, hadirin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar