Judul :
BATASAN MENGEJAR DUNIA
Oleh :
Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah
Sumber : Channel youtube - Jeda Kajian Sunnah
Editor : Fiqih Fahlevi
Ustadz ana mau tanya, tentang batasan mengejar dunia itu sampai apa? Lalu berkali-kali ana yakin bahwa
dunia sangat melalaikan namun gak jarang masih mendahulukan dunia dibanding
akhirat. Bagaimana caranya supaya tetap mendahulukan Alloh dibanding dunia?
Baik. Kalau bicara batasan mengejar dunia itu, jangan
menjadikan dunia ambisi. Jadikan ambisinya akhirat, baru kau kejar dunia untuk akhirat.
Modelnya begini, aku ingin kaya. Aku ingin punya mobil. Aku ingin punya
dua perusahaan. Aku ingin punya rumah lagi. Silahkan. Tapi satu, ambisinya
adalah akhirat. Aku ingin punya dua perusahaan yang satu wakaf lillahi ta’ala.
Aku ingin buka dua toko yang satu 30% lillahi ta’ala. Di situ kita berusaha
untuk menjadikan ambisi kita adalah akhirat. Karena kalau tidak, Rasul SAW
mengatakan, barang siapa yang dunia menjadi ambisinya, Alloh SWT akan
menjadikan kefakiran itu di depan matanya. Fakir, takut miskin. Gak buka toko,
aduh takut. Ketika sakit ya Alloh, gimana ini. Dunia terus yang ia cari.
Urusannya Alloh cerai beraikan. Ketika sebagian manusia masih bisa ke masjid,
dia nggak bisa ke masjid. Karena belum selesai urusannya. Ketika sebagian
orang-orang bisa berangkat umrah, dia gak bisa berangkat umrah. Padahal duitnya
lebih banyak dia daripada yang berangkat umrah. Kenapa? Karena urusannya Alloh
cerai-beraikan! Dan ternyata, sanksi yang berat juga ada. Walaupun dia sudah
capek, ternyata dunianya tetap. Dalam artian, kalau dia berangkat umrah dapat
1M, dia enggak berangkat umrah pun tetap 1M. jadi…, Subhanalloh. Tetap, sudah
seperti itu yang ditentukan.
Namun,
barangsiapa yang akhirat menjadi ambisinya, Alloh jadikan kekayaan berada di dalam
jiwanya. Mau sedekah, gak takut miskin. Berangkat umrah, gak takut habis
duitnya. Subhanalloh. Maka berangkat dari niat itu, Alloh jadikan segala
kemudahan baginya. Urusannya Alloh sederhanakan.
Antum
lihat ada orang-orang yang tidak pernah ada di rumah. Duitnya, dibandingkan
tukang becak, gajinya sebulan 25 juta. Tapi enggak pernah di rumah. Tukang
becak 100 ribu sehari tapi masyaAlloh, sore sudah ada di rumah. Kenapa yang
duitnya banyak malah nggak bisa di rumah?! Buat apa duitnya? Bukankah kau ingin
berbahagia dengan keluargamu? Ingin bisa tidur dengan anak-anak dan main sama
anak?
Di sisi
lain, ada orang yang Alloh sederhanakan urusannya. Dia bisa bermain dengan
keluarganya. Alloh paksa dunia menghampirinya, padahal ia merasa hidupnya sudah
cukup. Tapi tetap dikasih sama Alloh. Maka tolong camkan, jangan takut.
Ana pernah mewawancarai jemaah
haji dari Kediri. Orangnya sudah tua. Saya tanya dia saat berada di masjid
Nabawi. Bapak sudah berapa kali haji? Kata dia, sudah tiga kali, Ustadz.
masyaAlloh. Gimana ceritanya bisa sudah tiga kali haji dengan layanan plus?
Ketika haji yang pertama, saya ngomong sama istri, nanti kalau kita punya
rizki, kita nggak usah berangkat haji lagi. Ana ingin bangun masjid di kampung.
Pulang haji, Alloh kasih rizki. Ana bangun masjid. Masjid selesai jadi, Alloh
kasih rizki lagi buat saya, Ustadz. Akhirnya saya daftar haji lagi. Berangkat
yang kedua. Ketika melaksanakan haji yang kedua, saya ngomong lagi sama istri,
udahlah, ketika kita pulang nanti, terus kita punya rizki, kita jangan
berangkat haji lagi lah. Kita aspal aja jalan di kampung. Supaya orang-orang
yang biasanya becek, kecelakaan, jatuh, supaya enak mereka. Bismillah. Saya
pulang, Ustadz, Alloh kasih rizki, saya aspal ustadz. Selesai jalan di kampung
Ana aspal, Alloh kasih rizki lagi buat ana, Ustadz. Ana berangkat yang ketiga
kali ini, Ustadz.
Subhanalloh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar