Sabtu, 08 September 2018

BATASAN MENGEJAR DUNIA

Judul               : BATASAN MENGEJAR DUNIA
Oleh                : Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah
Sumber            : Channel youtube - Jeda Kajian Sunnah
Editor              : Fiqih Fahlevi

Ustadz ana mau tanya, tentang batasan mengejar dunia itu sampai apa? Lalu berkali-kali ana yakin bahwa dunia sangat melalaikan namun gak jarang masih mendahulukan dunia dibanding akhirat. Bagaimana caranya supaya tetap mendahulukan Alloh dibanding dunia?


Baik. Kalau bicara batasan mengejar dunia itu, jangan menjadikan dunia ambisi. Jadikan ambisinya akhirat, baru kau kejar dunia untuk akhirat.

Modelnya begini, aku ingin kaya. Aku ingin punya mobil. Aku ingin punya dua perusahaan. Aku ingin punya rumah lagi. Silahkan. Tapi satu, ambisinya adalah akhirat. Aku ingin punya dua perusahaan yang satu wakaf lillahi ta’ala. Aku ingin buka dua toko yang satu 30% lillahi ta’ala. Di situ kita berusaha untuk menjadikan ambisi kita adalah akhirat. Karena kalau tidak, Rasul SAW mengatakan, barang siapa yang dunia menjadi ambisinya, Alloh SWT akan menjadikan kefakiran itu di depan matanya. Fakir, takut miskin. Gak buka toko, aduh takut. Ketika sakit ya Alloh, gimana ini. Dunia terus yang ia cari. Urusannya Alloh cerai beraikan. Ketika sebagian manusia masih bisa ke masjid, dia nggak bisa ke masjid. Karena belum selesai urusannya. Ketika sebagian orang-orang bisa berangkat umrah, dia gak bisa berangkat umrah. Padahal duitnya lebih banyak dia daripada yang berangkat umrah. Kenapa? Karena urusannya Alloh cerai-beraikan! Dan ternyata, sanksi yang berat juga ada. Walaupun dia sudah capek, ternyata dunianya tetap. Dalam artian, kalau dia berangkat umrah dapat 1M, dia enggak berangkat umrah pun tetap 1M. jadi…, Subhanalloh. Tetap, sudah seperti itu yang ditentukan.

Namun, barangsiapa yang akhirat menjadi ambisinya, Alloh jadikan kekayaan berada di dalam jiwanya. Mau sedekah, gak takut miskin. Berangkat umrah, gak takut habis duitnya. Subhanalloh. Maka berangkat dari niat itu, Alloh jadikan segala kemudahan baginya. Urusannya Alloh sederhanakan.

Antum lihat ada orang-orang yang tidak pernah ada di rumah. Duitnya, dibandingkan tukang becak, gajinya sebulan 25 juta. Tapi enggak pernah di rumah. Tukang becak 100 ribu sehari tapi masyaAlloh, sore sudah ada di rumah. Kenapa yang duitnya banyak malah nggak bisa di rumah?! Buat apa duitnya? Bukankah kau ingin berbahagia dengan keluargamu? Ingin bisa tidur dengan anak-anak dan main sama anak?

Di sisi lain, ada orang yang Alloh sederhanakan urusannya. Dia bisa bermain dengan keluarganya. Alloh paksa dunia menghampirinya, padahal ia merasa hidupnya sudah cukup. Tapi tetap dikasih sama Alloh. Maka tolong camkan, jangan takut. 

Ana pernah mewawancarai jemaah haji dari Kediri. Orangnya sudah tua. Saya tanya dia saat berada di masjid Nabawi. Bapak sudah berapa kali haji? Kata dia, sudah tiga kali, Ustadz. masyaAlloh. Gimana ceritanya bisa sudah tiga kali haji dengan layanan plus? Ketika haji yang pertama, saya ngomong sama istri, nanti kalau kita punya rizki, kita nggak usah berangkat haji lagi. Ana ingin bangun masjid di kampung. Pulang haji, Alloh kasih rizki. Ana bangun masjid. Masjid selesai jadi, Alloh kasih rizki lagi buat saya, Ustadz. Akhirnya saya daftar haji lagi. Berangkat yang kedua. Ketika melaksanakan haji yang kedua, saya ngomong lagi sama istri, udahlah, ketika kita pulang nanti, terus kita punya rizki, kita jangan berangkat haji lagi lah. Kita aspal aja jalan di kampung. Supaya orang-orang yang biasanya becek, kecelakaan, jatuh, supaya enak mereka. Bismillah. Saya pulang, Ustadz, Alloh kasih rizki, saya aspal ustadz. Selesai jalan di kampung Ana aspal, Alloh kasih rizki lagi buat ana, Ustadz. Ana berangkat yang ketiga kali ini, Ustadz.

Subhanalloh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar