Judul :
AKU ADA UNTUK APA
Oleh :
Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah
Sumber : Channel Youtube – Bali Mengaji
Editor : Fiqih Fahlevi
Assalamu
‘alaikum warah matullah wa barakatuh. Segala puji bagi Alloh jalla jalluh yang
karena nikmatNya, kebaikan-kebaikan jadi sempurna. Sebuah keyakinan yang harus
tertancap di dalam jiwa bahwa segala nikmat yang kita rasakan, apapun
bentuknya, itu murni pemberian Alloh jalla jalluh. Sehingga tidak pantas
seorang hamba merasa bangga tatkala dia berbuat kebaikan. Karena kebaikan itu
sejatinya adalah karunia Alloh jalla jalluh. Kita pun bisa sampai ke tempat
ini, ana bisa duduk bersama antum, itu karena Alloh jalla jalluh.
Ya
Alloh, semoga shalawatMu, salam, berkah dan nikmatMu, senantiasa Kau tambahkan
untuk nabi yang mulia. Yang Engkau utus sebagai rahmah untuk alam semesta ini.
Junjungan kita, nabi Muhammad SAW. Dan untuk keluarga beliau, untuk istri-istri
beliau, untuk putra-putri beliau, dan untuk seluruh sahabat nabi, dan
orang-orang yang mengikuti beliau kelak sampai akhir zaman. Dan semoga kita
termasuk yang berada dalam shalawat tersebut.
Amma
ba’du.
Ikhwah
rahimakumullah, antum masih ingat dengan perkataan seorang penyair yang
mengatakan, kadang kala angin bertiup tidak sesuai dengan keinginan nelayan.
Ya, seperti itulah kejadiannya ana bisa datang ke tempat ini. Ana bisa
berkumpul dengan antum karena Alloh SWT mentakdirkannya. Beberapa hari yang
lalu, kita masih sibuk sholat tarawih. Kita sibuk berbuka bersama. Kita sibuk
menghatamkan AlQuran nul karim. Tapi, setelah lewat satu pekan, kadang kala
kenangan-kenangan itu pergi begitu saja. Tidak ada lagi sholat malam sebelas
rakaat yang biasa kita lakukan. Kadang kala dengan takbir yang dibacakan malam
takbiran itu, orang udah gak ada yang sholat malam. Dia berpikir, sholat
tarawih itu hanya untuk Ramadhan. Sehingga tatkala takbiran, gak ada tarawih.
Memang
gak ada tarawih di masjid, gak ada. Tapi tetap, sholat malam itu, sepanjang
tahun, itu tetap seharusnya kita lakukan. Kita tidak meninggalkannya. Kalau
enggak bisa sebelas, ya sembilan. Kalau enggak bisa sembilan , tujuh. Nggak
bisa tujuh, lima. Gak bisa lima, tiga. Gak bisa tiga, satu. Gak bisa satu, ya
paling gak sholat isya berjamaah di masjid. Kata Rasul SAW, barangsiapa yang
sholat isya berjamaah, seakan-akan dia bangun setengah malam. Sholat setengah
malam dia. Barang siapa yang sholat subuh berjamaah, seakan-akan dia sholat
semalam suntuk, jamaah. Maka kalau antum nggak bisa sholat witir, ya, usahakan
sholat berjamaahnya tetap dijaga di masjid. Karena kadang kala ada beberapa
nilai yang kurang tepat. Sholat tarawih ramai, sholat dzuhur sepi. Padahal,
sholat sunnah itu lebih utamanya di rumah. Kenapa ketika sholat sunnah malah
ramai masjidnya, ketika sholat berjamaah sepi. Maka usahakan tetap kita jaga
nilai-nilai Ramadhan dan malam ini kita mengkaji sebuah materi, yang sebenarnya
materi ini sangat ringan sekali. Dan seharusnya yang hadir itu bukan antum
ketika membahas materi tersebut. Materi ini pantasnya dibahas kepada
orang-orang yang tidak pernah melangkahkan kakinya ke rumah Alloh SWT.
Materi
ini seharusnya, dibahas di tempat-tempat ketika manusia lupa dengan tujuan
hidup mereka. Harusnya bikin kajian gini di pasar. Iya, ana lihat beberapa
teman itu, di surabaya, bikin kajian di mall. Karena biasanya banyak orang
nongkrong di mall. Gak ngapa-ngapain di mall. Sekedar jalan-jalan. Nah, di situ
kita ceramahin tuh mereka. Sini nih, ente supaya tau kenapa ente ada. Karena
kalau diajak ke masjid, gak datang mereka. Apa mereka buka fans pagenya Bali
Mengaji? Enggak kayaknya. Kita yang harus datengin mereka tuh. Tapi insya Alloh,
kita untuk memantapkan tentang kenapa kita ada di tempat ini, untuk apa kita
ada, sebagian orang berpandangan bahwa kehidupan ini hanya sebuah kebetulan.
Kita ada karena kebetulan. Mentari terbit dari timur, ya karena kebetulan dia
terbit dari timur. Tenggelam di barat pun kebetulan. Nggak tenggelam dia di
arah utara atau selatan. Kita punya orang tua, itu juga kebetulan. Sehingga
mereka berpandangan akhir kehidupan manusia itu ya juga kebetulan juga dia
mati. Dan itu sudah ada sebelum masa nabi Muhammad SAW. Dan sampai hari ini pun
ada orang yang berpandangan, mereka mengatakan, kehidupan ini tidak lain hanya
kehidupan dunia yang kita mati, hidup, dan yang membuat kita musnah adalah
zaman.
Mereka tidak
percaya dengan adanya pencipta. Mereka hanya percaya rahim-rahim itu melahirkan
kemudian kuburan-kuburan itu menelan jasad kita dan di antara waktu lahirnya
kita sampai matinya manusia, itu hanya pergulatan mencari rizki, mencari makan,
persaingan bisnis, persaingan rumah, kendaraan, sebuah pergerakan dan rutinitas
yang tanpa tujuan dan target yang nyata. Mirip dengan kehidupan binatang.
Sebagian orang seperti itu.
Kita
lihat kehidupan binatang, untuk apa sih binatang itu hidup? Ya kita lihat,
kalau umpamanya ayam, dari telur, lahir, menetas, dia cari makan, kemudian
besar sedikit dia jadi indukan, kemudian punya anak lagi, ibunya disembelih,
mati, teruus seperti itu. Apakah kita memang diciptakan sama seperti ayam?!
Terus kenapa Alloh berikan kepada kita akal?! Sehingga kita bisa berpikir.
Terus kenapa Alloh utus para nabi dan rasul-Nya? Alloh turunkan kitab-kitabNya?
Kalau ternyata kehidupan kita itu hanya sebuah rutinitas yang berakhir dengan
kematian tanpa ada apa pun? Pandangan ini sebenarnya sangat bertentangan dengan
orang yang punya akal. Apa mungkin, kita sekarang ada di masjid dekat bandara
Ngurah Rai, apa mungkin ada orang didatangkan di bandara ngurah rai ini tanpa
tujuan apa-apa?! Apa mungkin pegawai-pegawai yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan,
didatangkan ke bandara ngurah rai tanpa tugas?! Sekedar untuk main-main di
bandara?! Nggak mungkin!
Mereka
datang untuk tujuan. Dan tiap orang tau, kenapa dia didaatangkan. Kalau hanya
waktu sementara saja orang tau, mana mungkin Alloh menciptakan kehidupan ini,
dengan segala fasilitas yang Alloh lengkapi, sia-sia?! Di surat Al Qiyamah ayat
terakhir, Alloh berfirman, mengingatkan manusia, Apakah manusia mengira, dia
akan dibiarkan sia-sia begitu saja? Udah diciptakan, terus dibiarkan?! Tanpa
dikasih petunjuk, tanpa dikasih aturan, semau dia hidup?! Diciptakan untuk mati
dan tidak dibangkitkan? Apakah mungkin Alloh melakukan itu?! Coba kita pikir,
banyak orang yang menzalimi kita, umpamanya dalam kehidupan dunia ini, terus
orang itu mati sebelum mendapatkan hukuman. Ada orang-orang yang korupsi,
membuat rakyat hidup melarat. Lalau dia mati belum sempat dihukum. Ada
pembunuh-pembunuh, pemerkosa-pemerkosa, yang melakukan tindakan-tindakan
kriminal yang dia mati sebelum sempat merasakan hukum di dunia. Terus, apakah
selesai? Dia mati lantas selesai begitu saja?!
Alloh
mengatakan apakah manusia mengira bahwa mereka tidak dibangkitkan? Sesuatu yang
mustahil. Apa buktinya? Alloh katakan, bukankah engkau dulu itu enggak ada?
Engkau dulu itu hanya dari air mani. Subhanalloh. Dari air mani yang
terpancarkan. Itu asal mula dia. Kemudian dijadikan dari air mani itu dua
pasangan, laki-laki dan wanita. Bukankah Alloh yang menciptakan kita, dari
tidak ada, kemudian melalui proses yang panjang, Dia lebih mampu membangkitkan
yang sudah mati?! Orang, kalau sudah mati itu, dibangkitkan kembali, bahannya
sudah ada. Membikin sesuatu dari nol tentunya lebih susah daripada membikin
sesuatu yang sudah ada kerangkanya. Antum kalau disuruh bikin motor, dari awal,
dari mulai harus cari bahannya, besinya, kemudian dipanasin besinya, kemudian
bikin cetakannya, teruuus…, lebih mudah
mana dibanding antum dikasih kerangka motor, abis kebakaran, lantas dikatakan,
ente kembalikan ke-asal. Lebih mudah mana?! Maka tatkala ada orang kafir, membawa
tulang belulang kemudian dia patahkan dihadapan Rasul SAW, kemudian dilemparkan,
lalu dia mengatakan, siapa yang bisa menghidupkan tulang yang sudah hancur
seperti ini?! Kata Rasul SAW, Alloh yang akan menghidupkannya. Dan memasukkan
engkau ke neraka. Dan orang ini, sampai mati enggak taubat. Itulah salah satu
mukjizat Rasul saw dikasih wahyu sehingga dia menyampaikannya, engkau mati
kafir.
Maka
kita akan dibangkitkan. Jadi, untuk apa kita ada sebenarnya? Sebelum kita
lanjutkan, ada sebuah pelajaran berkaitan dengan membaca Al Quran nul karim. Di
mana Rasul SAW ketika membaca Al Quran nul karim, beliau berinteraksi dengan
bacaannya. Tidak hanya lewat bacaan itu. Sehingga di sini dituntut seorang
muslim memahami artinya. Walaupun kalau dia sampai mati gak paham, gapapa
sebenarnya. Maksudnya, gak dosa. Selama dia menjalankan kewajiban-kewajibannya.
Tapi Nabi saw, Anas bercerita, kalau lewat dengan ayat azab, Rasul saw
mengatakan, a’udzubillah. Beliau berlindung dari azab Alloh SWT. Kalau lewat
ayat-ayat rahmat, beliau minta rahmat Alloh SWT. Kita kadang kala, baca berapa
banyak tapi gak pernah minta. Ketika firman Alloh, umpamanya kita baca ayat
tentang ketakwaan, kita gak pernah minta, ya Alloh, mudah-mudahan aku termasuk
orang yang bertakwa, masukkanlah aku ke surga.
Nabi saw
itu berinteraksi. Dalam sebuah hadist, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dulu
ada seorang yang sholat di atap rumahnya. Kenapa sholat di atap rumahnya?
Wallohu’alam. Kadang kala di dalam rumah itu pengap. Rumah dulu itu, pengap
rumahnya. Sehingga untuk sholat, sulit untuk khusyuk. Itu yang pertama. Yang
kedua, bisa jadi rumahnya sempit. Sehingga kalau dia sujud, harus bangunin
istrinya. Seperti Rasulullah saw. Nabi saw kalau mau sujud sholat malam, mesti
beliau tuh nyolek aisyah. Karena kaki aisyah itu membujur. Rumahnya kecil. Gak
cukup. Maka ni orang, sholat di atas rumahnya. Jadi rumah orang arab, kalo
antum liat tuh modelnya kayak ka’bah. Kotak-kota, gitu. Jadi di atasnya bisa
dibuat sholat. Dan orang ini biasanya kalo membaca ayat, “bukan kah yang
seperti itu, yang menciptakan manusia dari air mani, kemudian menjadikannya
darah, kemudian menjadikannya dua pasangan, bukankah yang menciptakan itu mampu
untuk menghidupkan yang mati?” Orang ini selalu mengatakan, subhanaka fabala.
Maha Suci Engkau ya Alloh, tentu Engkau bisa ya Alloh. Lalu ditanya sahabat
ini, kenapa kau melakukan itu. Setiap kau baca itu, kau jawabnya subhanak
fabala? Apa jawab sahabat ini? Aku mendengarnya dari Rasulullah SAW. Hadist ini
dishahihkan oleh syekh albani.
Para
ulama menjelaskan, nggak apa-apa kita menjawab. Karena hadist yang umum itu
menjelaskan nabi berinteraksi dengan baacaannya. Hanya yang terjadi khilaf di
antara para ulama, kalau sholat wajib. Apakah seorang berinteraksi dengan
bacaannya ketika sholat fardhu? Umpamanya ketika membaca, sabbihisma robbikal
a’laa, apakah dia berhenti mengatakan, subhana robbial a’laa? Syekh utsaimin
mengatakan tidak perlu. Karena tidak pernah dinukil nabi itu kalo sholat fardu
melakukan itu. Yang ada ketika sholat malam. Belliau itu bacanya satu persatu
lalu kemudian berinteraksi dengan bacaannya. Wallohu a’lam bisshowaab.
Alloh
jalla jallaluh di dalam alquran nul karim seringkali menyindir manusia. Antum
tau, di arab saudi, percetakan alquran nul karim, mencetak terjemahan alquran
dengan bahasa inggris, tanpa ada bahasa arabnya. Mereka bikin sengaja itu. Dan
dikirim ke amerika. Dibagi-bagi. Salah satu yang mendapatkannya,
penjara-penjara. Dan banyak yang masuk islam. Karena Alloh sering kali
menyindir kita, mengingatkan kita. Contohnya, di surat Al Mursalat. Alloh
mengatakan, alam naj’alil ardlo kifaataa, ahyaaa awwa amwaataa, Alloh katakan,
bukankah kami sudah menjadikan bumi ini sebagai wadah untuk manusia? Yang
hidup, yang mati? Antum lihat, yang mati di perutnya, yang hidup di atasnya.
Kemudian Alloh mengingatkan, alam naj’alahu ‘ainaiin, wa lisaana wa kafaataiin,
bukan kah Kami sudah menjadikan bagi manusia itu dua mata?! Siapa yang kasih
kau mata itu?! Orang tua mu?! Enggak. Siapa yang ngasih?! Ada pencipta yang
memberikan dua mata kepada mu. Kalau kita mau urut, subhanalloh, jamaah. Yang
ada di tubuh kita ini, seharusnya membuat kita semakin yakin bahwa Alloh itu
esa, dan hanya Dia yang berhak disembah.
Alloh
katakan, Kami jadikan buat manusia lisan dan dua bibirnya, kemudian Kami kasih
kepada dia petunjuk, dua jalan. Kemudian, di surat an Naml Alloh mengatakan,
apakah manusia tidak melihat, Kami menjadikan malam itu tempat yang penuh
dengan sakinah. Penuh dengan kedamaian. Dan kami jadikan siang itu terang
benderang sehingga orang bisa mencari ma’isyah. Mencari penghidupan dia. Nabi
ibrahim ketika debat sama namrud, namrud tanya, apakah engkau tidak melihat
kepada orang yang berdebat dengan ibrahim di mana Alloh telah memberikan
kekuasaan kepada dia. Orang biasanya kalau punya kekuasaan itu sombong. Sulit
menerima kebenaran. Orang kalo dikasih kekayaan itu biasanya akan merasa lebih.
Sehingga bukti-bukti kebenaran yang disampaikan kepada dia jadi mental. Karena
apa? Karena dia merasa memiliki, dia merasa lebih. Apalagi kalau yang
menyampaikan lebih miskin. Alloh katakan, manusia itu benar-benar melampaui
batas karena merasa dirinya nggak butuh. Maka namrud, karena dia merasa
penguasa, mengajak ibrahim berdebat. Apa kata nabi ibrahim? Robb ku yang
menghidupkan dan yang mematikan. Apa jawab namrud? Aku juga menghidupkan dan
mematikan. Sama nabi ibrahim tidak diperpanjang. Apa kata nabi ibrahim? Oke,
kalau kau merasa tuhan, engkau bisa menghidupkan dan mematikan, sesungguhnya
Alloh lah yang mendatangkan matahari dan menerbitkannya dari timur. Sekarang,
kalau engkau merasa tuhan, silahkan engkau terbitkannya dari barat. Aku mau
lihat, kata nabi ibrahim. Namrud nggak bisa jawab. Dia itu makhluk. Cuma
makhluk. Kadang kala merasa lebih dari yang lainnya dan menuhankan dirinya.. seperti
fir’aun. Fir’aun mengatakan, kau tidak lihat nih, sungai-sungai mengalir dari
bawah ku?! Emangnya firaun yang mengalirkan sungai itu?! Enggak. Dia hidup,
lahir, mendapatkan sungai itu mengalir, kemudian merasa dia lebih dari yang
lainnya.
Kita
harus kembali kepada al quran nul karim, nabi itu mengeluh kepada Alloh karena
banyak orang yang menjauhi alquran nul karim. Muslim tapi tidak pernah
menyentuh alquran. Dan Rasul berkata, ya Robbi, sesungguhnya kaumku ini
menjadikan alquran barang yang ditinggalkan. Subhanalloh. Alloh sering kali
mengingatkan manusia, kenapa kita ada, untuk apa sebenarnya kita ada. Di surat
azzariyat, tentang penciptaan manusia dan bangsa jin, dan tidaklah Ku ciptakan
bangsa jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Ku! Itu, bukan yang
lainnya. Segala fasilitas Alloh cukupi. Dari kau lahir, bahkan dari kau di
perut ibu mu, sampai kau mati, Alloh cukupkan fasilitasnya. Alloh udah catet.
Makanya ketika antum di perut ibu, udah dicatat itu. Rizkinya sampai kapan,
engkau nanti rumahnya bakal kebakaran, nanti diganti yang lebih, engkau nanti
bakal menikah, semuanya sudah dicatat. Tugas mu apa? Beribadah kepada ku!
Kata
Alloh, Aku gak butuh mereka kerja untuk kasih Aku rizki. Makanya antum lihat
ketika orang kurban. Jangan berpikir Alloh butuh sama daging kurban. Jangan
pernah berpikir Alloh butuh dengan kucurana darah kurban. Tidak. Maka
dikatakan, nggak sampai kepada Alloh tuh darah dan dagingnya baik yang besar
atau yang kecil, yang banyak atau yang sedikit. Tidak. Apa yang sampai kepada
Alloh? Takwa. Ketika Alloh wajibkan haji, apa dipikir Alloh butuh ada yang
berkunjung ke rumah Alloh? Enggak. Kata Alloh, barangsiapa yang kufur, yang gak
mau berangkat haji, Alloh itu gak butuh sama alam semesta ini. Allohu Akbar.
Apa bukti ketidakbutuhan Alloh dengan alam semesta ini? Semuanya bakal Alloh
ancurin. Kita pun bakal hancur. Maka, tujuan Alloh menciptakan kita hanya untuk
beribadah kepadaNya.
Di surah
AlMulk ayat kedua, Alloh juga ingatkan kenapa Dia ciptakan kematian dan
kehidupan. Kata Alloh, Dia lah Alloh yang menciptakan kematian dan kehidupan.
Kenapa Alloh mulai dengan kematian? Supaya kita sadar kalau engkau dulu itu
enggak ada. Maka jangan sombong. Engkau dulu itu nggak ada. Engkau dulu itu gak
bisa berdiri. Jangankan berdiri, merangkak pun gak bisa. Engkau hanya tergolek
di atas ranjang. Kau hanya bisa menangis. Semuanya dibantuin orang. Apa engkau
gak sadar bahwasanya ada yang menginginkan keberadaan mu? Dan engkau lihat
orang tua mu mati. Kakek-nenek mu mati. Fulan yang kaya, mati. Fulan yang
miskin, mati.
Apa sih
tujuan hidup ini? Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala. Untuk menguji siapa di
antara kalian yang paling baik amalannya. Bukan siapa yang beramal. Kerena
masih banyak di masyarakat muslim yang mengatakan, yang penting kan sholat,
yang pentingkan islam. Enggak. Yang penting itu bagaimana kita sholat dan
diterima. Karena orang yang sholat ada yang masuk neraka. Fawailul lil
musholin. Celaka orang yang sholat. Yang sholat aja masih ada kemungkinan dia
celaka karena sholatnya asal sholat.
Di
dalam alquran nul karim, ada perintah pertama: yaa ayyuhannassu’budu
robbakumulladzi kholaqqokum wal ladzina mingkoblikum laa’allakum tattaquun. Apa
yang Alloh inginkan dari kita? Kadang kala al baqoroh itu lewat tapi kita belum
berhenti diperintah itu. Di dalam alquran nul karim, kira-kira ada 170-an
panggilan-panggilan Alloh. Alloh kadang kala memanggil yaa ayyuhannaas, kadang
kala memanggil yaa ayyuhalladzina aamanu. Alquran hudallilmuttaqiin, alquran
hudalinnaas. Alquran itu petunjuk buat orang-orang yang beriman dan bertakwa,
dan dia petunjuk buat manusia. Panggilan-panggilan ini, yaa ayyuhannaas, supaya
yang merasa manusia dengarkan. Dan biasanya orang kalo dipanggil, masya Alloh,
umpamanya di antara kambing-kambing dan ada tiga orang di situ. Antum manggil,
wahai manusia. Kira-kira, noleh enggak dia? Dia pasti akan noleh. Dan Alloh
panggil, yaa ayyuhannaas, berulang kali Alloh panggil, contohnya banyak di
surat al hujurat.
Diperintah
pertama Alloh ini, Alloh katakan, yaa ayyuhannaas, sembahlah, tidak kepada
sembarangan tuhan, karena di muka bumi ini, ketika Rasul saw diutus, dan sampai
hari ini, masih banyak orang-orang yang menyembah yang bukan Tuhan yang
menciptakan dia. Orang-orang jahiliyah, bayangkan. Mereka itu bikin patung
terus minta tolong. Dan dari bodohnya orang-orang jahiliyah, ini kisahnya para
sahabat, mereka menceritakan betapa bodohnya mereka di masa jahiliyyah, dia tau
nih batu tidak menciptakan, dia yakin, cuma untuk media mendekatkan diri. Kalo
dapat batu yang lebih bagus, yang lama dibuang. Nanti dapat yang lebih bagus,
dibuang lagi. Pokoknya yang lebih bagus yang disembah. Kalo enggak ada batu?
Kadang kala di padang pasir itu tidak ada batu. Pasiiir aja. Saat mereka dalam
kondisi takut, mereka harus beribadah. Orang tuh kapan sih beribadah? Biasanya
kalau lagi takut. Kalau mereka nggak dapat batu, mereka kumpulkan pasir. Lalu
ditumpuk. Kemudian tengahnya dilobangin lalu diperahin susu. Lalu mereka tawaf
di sekitarnya. Subhanalloh. Alloh katakan, kau kalau mau menyembah tuhan, tuhan
yang menciptakan engkau. Bukan tuhan-tuhan palsu yang disembah. Mereka juga
cerita, kalau kita gak punya apa-apa tapi kita punya kurma, kita tumpuk tuh
kurma lalu kita berdoa. Kalau kita lapar, kita makan kurmanya. Bayangkan, tuhannya
dimakan. Na’udzubillah min dzalik.
Dan
ketika ayat ini turun, orang-orang itu tidak sadar. Kalau ternyata yang mereka
lakukan itu bertentangan dengan akal mereka. Dan yang menciptakan orang-orang
sebelum kalian. Tanyakan, bapak antum itu siapa yang menciptakan? Lalu, apakah
360 patung yang ada di sekitar ka’bah ada yang turut menciptakan lalat? Alloh
kasih percontohan kepada mereka bahwasanya itu sesembahana-sesembahan, kadang
kala kan dikasih sesajen, kata Alloh, kalo ada lalat yang datang, mereka enggak
bisa mengusir lalat itu. Tuhan yang disembah tidak bisa mengusir lalat itu. Padahal
lalat itu lemaaah. Makanya, andaikata seluruh penduduk bali berkumpul,
andaikata seluruh penduduk Indonesia berkumpul untuk menciptakan seekor lalat,
wallohi, gak ada yang bisa. Tapi kenapa mereka tidak menyembah Tuhan yang
menciptakan lalat? Siapa yang menciptakan? Kalau ada yang bisa menciptakan
lalat, pantas ia disembah. Kalo ada. Dan siapa yang menciptakan?? Alloh jalla
jallaluh. Engkau lihat segala ciptaanNya, subhanalloh. Kata Alloh, la’allakum
tattaquun, agar kalian bertakwa kepada Alloh. Kalau kalian itu menyembah kepada
selain Alloh, kalian tidak akan mencapai tingkat ketakwaan.
Surga
disediakan buat siapa? Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Maka
keberadaan kita di muka bumi ini adalah untuk mengabdi kepada Alloh. Jamaah,
tidak bisa diingkari, semua manusia itu memiliki fitrah ketuhanan. Ketika ada
angin kencang yang datang, dia tuh takut. Dia merasa ada kekuatan yang
menciptakan dia. Yang seharusnya dia meminta tolong kepada kekuatan itu. Alloh
katakan, bukti kalau Alloh yang pantas disembah, Alloh yang menjadikan bumi ini
sebagai hamparan. Siapa yang menciptakan bumi ini? Apakah ada
sesembahan-sesembahan yang pernah turut menciptakan bumi? Enggak ada. Dan Alloh
yang menciptakan langit sebagai bangunan yang kokoh tanpa tiang. Langit yang
begitu besarnya tanpa tiang. Apakah engkau tidak akan menyembah yang
menciptakan langit? Maka Alloh ingatkan manusia, apakah penciptaan kalian itu
lebih dahsyat daripada penciptaan langit? Enggak. Mudah menciptakan kalian,
kata Alloh. Penciptaan langit tentunya lebih susah.
Langit
ini berapa lapis, jamaah? Tujuh tingkat. Kemudian Alloh katakan, dan Dia yang
menurunkan dari langit, yakni dari awan, air. Semua yang hidup ini Alloh ciptakan
dari air. Dan air itu dari bawah apa dari atas, jamaah? Dari atas. Apa
buktinya? Buktinya ketika hujan tidak turun, sumur itu kering. Buktinya ketika
hujan tidak turun, sungai-sungai itu kering. Orang tidak menggali. Mereka
mencari di atas. Kadang kala mata air pun kering. Tatkala hutan terbakar di
riau, siapa yang mematikannya? Indonesia bekerja sama dengan singapura, dengan
malaysia, untuk mematikan hutan yang terbakar tapi tidak padam kecuali tatkala
Alloh turunkan hujan. Baru padam. Coba kita pikir, siapa yang menurunkan hujan?
Alloh.
Di
indonesia terkenal ada pawang hujan. Ada sohib nih, cerita dia. Dia tanya sama
pawang hujan, mas kenapa sih kalo musim hujan sampeyan itu kok tidak nyarang
hujan? Apa kata dia? Yaa, kalo musim hujan jelas turun hujannya. Tapi kalo
enggak musim hujan kan mungkin nggak turun. Ya, kita ini kan Cuma cari duit,
katanya. Gak bisa pawang hujan itu nolak hujan. Maka di sini seorang hamba
harus yakin kepada pencipta langit dan bumi yang menurunkan hujan dan di
indonesia, tauhid hamba itu mulai digeser sedikit demi sedikit. Dengan
tayangan-tayangan di televisi. Pernah main layangan, jamaah? Subhanalloh, kita
gak sadar dulu kalo kita pernah berbuat syirik. Kita kalo main layangan nggak
ada angin itu, kita meminta kepada siapa? Kita bersiul. Nggak minta sama Alloh,
jamaah. Ini termasuk perbuatan yang seharusnya diluruskan. Padahal kau tahu
yang menciptakan itu Alloh jalla jalluh, kemudian kau meminta kepada selain
Alloh SWT. Maka Alloh katakan, jangan kalian ini menjadikan bagi Alloh
tandingan-tandingan, sekutu-sekutu, sedangkan engkau tau kalo mereka itu tidak
menciptakan dirimu. Siapa yang gak tau? Apakah ada orang kafir yang meyakini
kalo yang menciptakan dirinya itu adalah patung-patung seperti latta, hubbal?
Mereka tidak. Terus kenapa mereka meminta kepada latta, hubbal, dan uzza? Apa
kata mereka, kita tidak menyembah mereka, melainkan sekedar untuk mendekatkan
diri kepada Alloh SWT. Jadi sebagai
perantara buat mereka. Padahal, Alloh tidak butuh perantara. Kita ketika
sholat, apa yang kita katakan? Hanya kepadamu kami menyembah dan hanya kepadamu
kami memohon pertolongan. Maka jamaah, kita ada untuk men-tauhidkan Alloh.
Segala fasilitas yang Alloh berikan kelak akan kita pertanggungjawabkan.
Kembali
kepada masa depan anak-anak kita. Hati-hati dengan tayangan-tayangan di
televisi. Dan film-film dari barat yang banyak hadir di indonesia, rata-rata
pesan yang disampaikan itu tidak ada hari kebangkitan. Itu pesan yang
disampaikan kepada kita. Sehingga manusia tidak sadar bahwasanya dia diciptakan
untuk mengabdi kepada Alloh jalla jallaluh. Silahkan engkau mengabdi kepada
Alloh di mana pun engkau berada. Dan seorang muslim, detik-detik dari kehidupan
dia seharusnya mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Tidak harus di masjid. Alloh
katakan, kepada orang yang habis sholat jumat, apa kata Alloh? Kalo selesai
sholat, silahkan kalian itu bertebaran di muka bumi.
Semua
fasilitas yang Alloh berikan kepada kita sesungguhnya adalah untuk menguji
siapa yang paling baik amalannya. Alloh berfirman di surat al kahfi, Kami
menjadikan semua yang ada di muka bumi ini sebagai perhiasan. Perhiasan itu
biasanya menggoda. Membuat orang lupa dan lalai. Sehingga dia lupa dengan
tujuan hidup yang sebenarnya. Kata Alloh, kami jadikan perhiasan di bumi itu
untuk menguji siapa di atara mereka yang paling baik amalannya. Dan semua
perhiasan yang ada ini, bakal Alloh hancurkan. Ketika masa ujian itu selesai, kata Alloh jalla jallaluh, dan
Kami akan jadikan semua yang ada di muka bumi debu yang berterbangan.
Orang-orang kafir pernah bertanya kepada Rasul SAW, nanti bagaimana dengan
gunung-gunung? Apakah juga akan hancur? Kata Alloh, katakan kepada mereka, gunung-gunung
itu akan Alloh hancurkan hingga rata dengan tanah. Dan hilang tanda-tanda itu
semua.
Jamaah,
ingat kita adalah hamba Alloh SWT. Apapun pekerjaan kita, jangan lupa kalau
kita hamba Alloh. Alloh menjadikan ujian terberat manusia itu nafsunya dan iblis
yang sudah bersumpah kepada Alloh kalau dia akan mencari teman
sebanyak-banyaknya ke dalam api neraka. Tidak sedikit di antara umat manusia
yang lupa tujuan hidupnya. Sehingga kerjanya dari pagi sampai siang, dari siang
sampai malam, hanya untuk perut dan di bawah perutnya. Ituuu aja yang dicari.
Sehingga tatkala datang kematian, dia belum mempersiapkan diri. Tapi kita
melihat dalam kehidupan dunia ini, pekerjaan manusia beda-beda. Rizkinya
beda-beda. Kedudukannya beda-beda. Bagaimana kita mengabdi kepada Alloh dalam
segala kondisi? Yang jadi dokter, ya mengabdi kepada Alloh dengan profesi dia
sebagai dokter. Yang menjadi polisi, ya mengabdi kepada Alloh dalam posisi dia
sebagai polisi. Seorang presiden mengabdi kepada Alloh di posisi dia sebagai
presiden. Karena presiden itu juga budak Alloh SWT. Siapapun orangnya. Apapun
jabatannya, dia budak Alloh swt. Dan kita harus mengabdi kepada Alloh. Tidak
perlu antum iri terhadap profesi seseorang.
Tapi
seorang mukmin harus berusaha untuk berlomba-lomba dalam kebaikan ketika
mendekatkan diri kepada Alloh. Bayangkan sahabat-sahabat muhajirin yang datang
kepada Rasulullah lalu mengatakan, ya Rasulullah, itu, orang-orang anshar yang
punya fulus, mereka pergi dengan membawa pahala yang banyak. Kita yang gak
punya fulus gimana? Apa kata Rasul saw? Mau kalian aku kasih amalan, kalau
kalian amalkan, kalian akan menyaingi mereka. Apa amalannya? Bertasbih,
bertahmid, dan bertahlil. Setiap selesai sholat kita membaca itu masing-masing
33 kali. Atau secara umum kita bertahlil. Apakah sahabat-sahabat anshar
mencukupkan diri dengan pahala dari sedekah saja? Enggak, jamaah. Mereka terus
beramal dan bertasbih. Sehingga sahabat-sahabat muhajirin datang lagi kepada
Rasul saw, ya Rasulullah, nih orang-orang anshar ikut-ikutan mengamalkan amalan
kita. Kata Rasul saw, ya itu kemuliaan dari Alloh swt, Alloh berikan kepada
siapa yang Alloh kehendaki.
Ada
sebuah hadist jamaah, seorang mukmin, dimana pun kalian berada, harus bisa
mewarnai. Ada di bandara, dia menjadikan bandara itu indah bercahaya. Dia ada
di perusahaan, di tempat itu dia berusaha untuk menyinari perusahaan itu dengan
cahaya-cahaya iman dan islam. Tidak perlu dengki kepada atasan. Rasul saw
mengatakan, celaka orang yang menghamba kepada duit. Duiiit yang dia cari. Orang
ada yang menghamba kepada pakaian. Biasanya nih ibu-ibu. Hidupnya, ada model
baru, beli. Model baru, beli. Teruuus begitu. Yang dipikirkan hanya pakaian
buat dia. Celaka tuh kata Rasul saw. Kan kelakuan hamba nih seperti ini:
dikasih, dia ridha. Tapi kalo enggak dikasih, dia murka. Ada orang-orang
seperti itu. Ketika rizkinya lancar, masya Alloh. Ketika nggak dikasih, dia
murka kepada Alloh swt. Akhirnya dia berpaling. Yang dulunya biasa ke masjid,
gara-gara rizkinya sempit, gak ke masjid. Yang dulunya ikut kajian, gara-gara
punya masalah, dia nggak lagi ikut kajian. Itu orang yang menghamba kepada
benda seperti itu. Kata Rasul saw, mudah-mudahan kalau dia kemasukan duri,
mudah-mudahan gak bisa keluar tuh durinya. Rasul sampai mendoakan keburukan
untuk orang-orang seperti itu.
Terus siapa
hamba yang baik itu? Hamba Alloh yang dicintai Alloh itu siapa? Apakah yang
kaya? Apakah pejabat yang bisa menolong orang banyak mungkin dengan jabatannya?
Kata Rasul saw, sebuah kebaikan buat hamba yang memegang tali kendali kudanya
di jalan Alloh swt, fii sabilillah. Rambutnya udah kusut, kakinya udah berdebu,
kalo dia dikasih tugas dipenjagaan, ya dia melaksanakan tugasnya dipenjagaan
itu. Kalo dia dapat bagian jaga di belakang, dia berjaga di bagian belakang.
Dia tidak pernah murka kepada Alloh swt. Dia melaksakan tugasnya di mana pun
dia berada. Ini yang baik. Jangan sampai rebutan untuk menjadi yang ada di
depan. Subhanalloh. Di manapun engkau berada, sudah, terima takdirmu.
Laksanakan tugasmu. Karena di sini pun engkau menjadi hamba Alloh swt. Kalau
memang tugasku ini, terima. Ingat, apapun posisimu, jabatanmu sebagai hamba
Alloh lebih tinggi daripada posisimu dan jabatanmu.
Jamaah, lalu sampai kapan kita jadi
budaknya Alloh? Apa kata Alloh? Terus engkau beribadah kepada Alloh, kepada
Rabb mu, sampai kematian datang menjemputmu. Jangan pernah merasa bangga dengan
amal kebajikan. Karena syaitan tidak pernah berhenti menggoda kita. Syaitan menggoda
kita lewat dua cara: dari syahwat dan syubhat. Kalau orang ini suka dengan
syahwat, maka syaitan menjerumuskan dia kepada mengikuti syahwatnya. Tapi kalo
orang ini ahli agama, maka syaitan gak mempan kalau dia mengajak orang ini
berzina, berjudi, mabuk-mabukan. Ya sudah, maka syaitan akan menggoda orang itu
lewat syubhat. Sehingga akan teracuni lewat pemikiran-pemikiran yang tidak
benar dalam beribadah. Ada yang beribadah berlebih-lebihan. Akhirnya muncul
kelomok-kelompok dalam islam ini yang mengklaim dirinya merasa paling benar.
Bahkan mereka mengkafirkan semua yang tidak ikut kelompok mereka. Seperti ISIS contohnya.
Ironisnya, mereka membiarkan penyembah-penyembah berhala dan membunuh
orang-orang islam. Ini salah satu syubhat syaitan. Dan ini penyimpangan yang
dibisikkan oleh syaitan dari berlebih-lebihan dalam beribadah. Maka, ibadah
yang benar, menjadi hamba Alloh yang benar, adalah tetap di atas sunnah Rasul
saw, mengikuti pemahaman para sahabat nabi Muhammad saw, serta tidak meremehkan
perkara agama.
Wallohu
a’lam bis showab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar