Minggu, 09 September 2018

AKU ADA UNTUK APA?


Judul               : AKU ADA UNTUK APA
Oleh                : Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah
Sumber            : Channel Youtube – Bali Mengaji
Editor              : Fiqih Fahlevi


Assalamu ‘alaikum warah matullah wa barakatuh. Segala puji bagi Alloh jalla jalluh yang karena nikmatNya, kebaikan-kebaikan jadi sempurna. Sebuah keyakinan yang harus tertancap di dalam jiwa bahwa segala nikmat yang kita rasakan, apapun bentuknya, itu murni pemberian Alloh jalla jalluh. Sehingga tidak pantas seorang hamba merasa bangga tatkala dia berbuat kebaikan. Karena kebaikan itu sejatinya adalah karunia Alloh jalla jalluh. Kita pun bisa sampai ke tempat ini, ana bisa duduk bersama antum, itu karena Alloh jalla jalluh.

Ya Alloh, semoga shalawatMu, salam, berkah dan nikmatMu, senantiasa Kau tambahkan untuk nabi yang mulia. Yang Engkau utus sebagai rahmah untuk alam semesta ini. Junjungan kita, nabi Muhammad SAW. Dan untuk keluarga beliau, untuk istri-istri beliau, untuk putra-putri beliau, dan untuk seluruh sahabat nabi, dan orang-orang yang mengikuti beliau kelak sampai akhir zaman. Dan semoga kita termasuk yang berada dalam shalawat tersebut.
            
Amma ba’du.

Ikhwah rahimakumullah, antum masih ingat dengan perkataan seorang penyair yang mengatakan, kadang kala angin bertiup tidak sesuai dengan keinginan nelayan. Ya, seperti itulah kejadiannya ana bisa datang ke tempat ini. Ana bisa berkumpul dengan antum karena Alloh SWT mentakdirkannya. Beberapa hari yang lalu, kita masih sibuk sholat tarawih. Kita sibuk berbuka bersama. Kita sibuk menghatamkan AlQuran nul karim. Tapi, setelah lewat satu pekan, kadang kala kenangan-kenangan itu pergi begitu saja. Tidak ada lagi sholat malam sebelas rakaat yang biasa kita lakukan. Kadang kala dengan takbir yang dibacakan malam takbiran itu, orang udah gak ada yang sholat malam. Dia berpikir, sholat tarawih itu hanya untuk Ramadhan. Sehingga tatkala takbiran, gak ada tarawih.

Memang gak ada tarawih di masjid, gak ada. Tapi tetap, sholat malam itu, sepanjang tahun, itu tetap seharusnya kita lakukan. Kita tidak meninggalkannya. Kalau enggak bisa sebelas, ya sembilan. Kalau enggak bisa sembilan , tujuh. Nggak bisa tujuh, lima. Gak bisa lima, tiga. Gak bisa tiga, satu. Gak bisa satu, ya paling gak sholat isya berjamaah di masjid. Kata Rasul SAW, barangsiapa yang sholat isya berjamaah, seakan-akan dia bangun setengah malam. Sholat setengah malam dia. Barang siapa yang sholat subuh berjamaah, seakan-akan dia sholat semalam suntuk, jamaah. Maka kalau antum nggak bisa sholat witir, ya, usahakan sholat berjamaahnya tetap dijaga di masjid. Karena kadang kala ada beberapa nilai yang kurang tepat. Sholat tarawih ramai, sholat dzuhur sepi. Padahal, sholat sunnah itu lebih utamanya di rumah. Kenapa ketika sholat sunnah malah ramai masjidnya, ketika sholat berjamaah sepi. Maka usahakan tetap kita jaga nilai-nilai Ramadhan dan malam ini kita mengkaji sebuah materi, yang sebenarnya materi ini sangat ringan sekali. Dan seharusnya yang hadir itu bukan antum ketika membahas materi tersebut. Materi ini pantasnya dibahas kepada orang-orang yang tidak pernah melangkahkan kakinya ke rumah Alloh SWT.

Materi ini seharusnya, dibahas di tempat-tempat ketika manusia lupa dengan tujuan hidup mereka. Harusnya bikin kajian gini di pasar. Iya, ana lihat beberapa teman itu, di surabaya, bikin kajian di mall. Karena biasanya banyak orang nongkrong di mall. Gak ngapa-ngapain di mall. Sekedar jalan-jalan. Nah, di situ kita ceramahin tuh mereka. Sini nih, ente supaya tau kenapa ente ada. Karena kalau diajak ke masjid, gak datang mereka. Apa mereka buka fans pagenya Bali Mengaji? Enggak kayaknya. Kita yang harus datengin mereka tuh. Tapi insya Alloh, kita untuk memantapkan tentang kenapa kita ada di tempat ini, untuk apa kita ada, sebagian orang berpandangan bahwa kehidupan ini hanya sebuah kebetulan. Kita ada karena kebetulan. Mentari terbit dari timur, ya karena kebetulan dia terbit dari timur. Tenggelam di barat pun kebetulan. Nggak tenggelam dia di arah utara atau selatan. Kita punya orang tua, itu juga kebetulan. Sehingga mereka berpandangan akhir kehidupan manusia itu ya juga kebetulan juga dia mati. Dan itu sudah ada sebelum masa nabi Muhammad SAW. Dan sampai hari ini pun ada orang yang berpandangan, mereka mengatakan, kehidupan ini tidak lain hanya kehidupan dunia yang kita mati, hidup, dan yang membuat kita musnah adalah zaman.

Mereka tidak percaya dengan adanya pencipta. Mereka hanya percaya rahim-rahim itu melahirkan kemudian kuburan-kuburan itu menelan jasad kita dan di antara waktu lahirnya kita sampai matinya manusia, itu hanya pergulatan mencari rizki, mencari makan, persaingan bisnis, persaingan rumah, kendaraan, sebuah pergerakan dan rutinitas yang tanpa tujuan dan target yang nyata. Mirip dengan kehidupan binatang. Sebagian orang seperti itu.

Kita lihat kehidupan binatang, untuk apa sih binatang itu hidup? Ya kita lihat, kalau umpamanya ayam, dari telur, lahir, menetas, dia cari makan, kemudian besar sedikit dia jadi indukan, kemudian punya anak lagi, ibunya disembelih, mati, teruus seperti itu. Apakah kita memang diciptakan sama seperti ayam?! Terus kenapa Alloh berikan kepada kita akal?! Sehingga kita bisa berpikir. Terus kenapa Alloh utus para nabi dan rasul-Nya? Alloh turunkan kitab-kitabNya? Kalau ternyata kehidupan kita itu hanya sebuah rutinitas yang berakhir dengan kematian tanpa ada apa pun? Pandangan ini sebenarnya sangat bertentangan dengan orang yang punya akal. Apa mungkin, kita sekarang ada di masjid dekat bandara Ngurah Rai, apa mungkin ada orang didatangkan di bandara ngurah rai ini tanpa tujuan apa-apa?! Apa mungkin pegawai-pegawai yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan, didatangkan ke bandara ngurah rai tanpa tugas?! Sekedar untuk main-main di bandara?! Nggak mungkin!

Mereka datang untuk tujuan. Dan tiap orang tau, kenapa dia didaatangkan. Kalau hanya waktu sementara saja orang tau, mana mungkin Alloh menciptakan kehidupan ini, dengan segala fasilitas yang Alloh lengkapi, sia-sia?! Di surat Al Qiyamah ayat terakhir, Alloh berfirman, mengingatkan manusia, Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan sia-sia begitu saja? Udah diciptakan, terus dibiarkan?! Tanpa dikasih petunjuk, tanpa dikasih aturan, semau dia hidup?! Diciptakan untuk mati dan tidak dibangkitkan? Apakah mungkin Alloh melakukan itu?! Coba kita pikir, banyak orang yang menzalimi kita, umpamanya dalam kehidupan dunia ini, terus orang itu mati sebelum mendapatkan hukuman. Ada orang-orang yang korupsi, membuat rakyat hidup melarat. Lalau dia mati belum sempat dihukum. Ada pembunuh-pembunuh, pemerkosa-pemerkosa, yang melakukan tindakan-tindakan kriminal yang dia mati sebelum sempat merasakan hukum di dunia. Terus, apakah selesai? Dia mati lantas selesai begitu saja?!

Alloh mengatakan apakah manusia mengira bahwa mereka tidak dibangkitkan? Sesuatu yang mustahil. Apa buktinya? Alloh katakan, bukankah engkau dulu itu enggak ada? Engkau dulu itu hanya dari air mani. Subhanalloh. Dari air mani yang terpancarkan. Itu asal mula dia. Kemudian dijadikan dari air mani itu dua pasangan, laki-laki dan wanita. Bukankah Alloh yang menciptakan kita, dari tidak ada, kemudian melalui proses yang panjang, Dia lebih mampu membangkitkan yang sudah mati?! Orang, kalau sudah mati itu, dibangkitkan kembali, bahannya sudah ada. Membikin sesuatu dari nol tentunya lebih susah daripada membikin sesuatu yang sudah ada kerangkanya. Antum kalau disuruh bikin motor, dari awal, dari mulai harus cari bahannya, besinya, kemudian dipanasin besinya, kemudian bikin cetakannya, teruuus…, lebih  mudah mana dibanding antum dikasih kerangka motor, abis kebakaran, lantas dikatakan, ente kembalikan ke-asal. Lebih mudah mana?! Maka tatkala ada orang kafir, membawa tulang belulang kemudian dia patahkan dihadapan Rasul SAW, kemudian dilemparkan, lalu dia mengatakan, siapa yang bisa menghidupkan tulang yang sudah hancur seperti ini?! Kata Rasul SAW, Alloh yang akan menghidupkannya. Dan memasukkan engkau ke neraka. Dan orang ini, sampai mati enggak taubat. Itulah salah satu mukjizat Rasul saw dikasih wahyu sehingga dia menyampaikannya, engkau mati kafir.

Maka kita akan dibangkitkan. Jadi, untuk apa kita ada sebenarnya? Sebelum kita lanjutkan, ada sebuah pelajaran berkaitan dengan membaca Al Quran nul karim. Di mana Rasul SAW ketika membaca Al Quran nul karim, beliau berinteraksi dengan bacaannya. Tidak hanya lewat bacaan itu. Sehingga di sini dituntut seorang muslim memahami artinya. Walaupun kalau dia sampai mati gak paham, gapapa sebenarnya. Maksudnya, gak dosa. Selama dia menjalankan kewajiban-kewajibannya. Tapi Nabi saw, Anas bercerita, kalau lewat dengan ayat azab, Rasul saw mengatakan, a’udzubillah. Beliau berlindung dari azab Alloh SWT. Kalau lewat ayat-ayat rahmat, beliau minta rahmat Alloh SWT. Kita kadang kala, baca berapa banyak tapi gak pernah minta. Ketika firman Alloh, umpamanya kita baca ayat tentang ketakwaan, kita gak pernah minta, ya Alloh, mudah-mudahan aku termasuk orang yang bertakwa, masukkanlah aku ke surga.

Nabi saw itu berinteraksi. Dalam sebuah hadist, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dulu ada seorang yang sholat di atap rumahnya. Kenapa sholat di atap rumahnya? Wallohu’alam. Kadang kala di dalam rumah itu pengap. Rumah dulu itu, pengap rumahnya. Sehingga untuk sholat, sulit untuk khusyuk. Itu yang pertama. Yang kedua, bisa jadi rumahnya sempit. Sehingga kalau dia sujud, harus bangunin istrinya. Seperti Rasulullah saw. Nabi saw kalau mau sujud sholat malam, mesti beliau tuh nyolek aisyah. Karena kaki aisyah itu membujur. Rumahnya kecil. Gak cukup. Maka ni orang, sholat di atas rumahnya. Jadi rumah orang arab, kalo antum liat tuh modelnya kayak ka’bah. Kotak-kota, gitu. Jadi di atasnya bisa dibuat sholat. Dan orang ini biasanya kalo membaca ayat, “bukan kah yang seperti itu, yang menciptakan manusia dari air mani, kemudian menjadikannya darah, kemudian menjadikannya dua pasangan, bukankah yang menciptakan itu mampu untuk menghidupkan yang mati?” Orang ini selalu mengatakan, subhanaka fabala. Maha Suci Engkau ya Alloh, tentu Engkau bisa ya Alloh. Lalu ditanya sahabat ini, kenapa kau melakukan itu. Setiap kau baca itu, kau jawabnya subhanak fabala? Apa jawab sahabat ini? Aku mendengarnya dari Rasulullah SAW. Hadist ini dishahihkan oleh syekh albani.

Para ulama menjelaskan, nggak apa-apa kita menjawab. Karena hadist yang umum itu menjelaskan nabi berinteraksi dengan baacaannya. Hanya yang terjadi khilaf di antara para ulama, kalau sholat wajib. Apakah seorang berinteraksi dengan bacaannya ketika sholat fardhu? Umpamanya ketika membaca, sabbihisma robbikal a’laa, apakah dia berhenti mengatakan, subhana robbial a’laa? Syekh utsaimin mengatakan tidak perlu. Karena tidak pernah dinukil nabi itu kalo sholat fardu melakukan itu. Yang ada ketika sholat malam. Belliau itu bacanya satu persatu lalu kemudian berinteraksi dengan bacaannya. Wallohu a’lam bisshowaab.

Alloh jalla jallaluh di dalam alquran nul karim seringkali menyindir manusia. Antum tau, di arab saudi, percetakan alquran nul karim, mencetak terjemahan alquran dengan bahasa inggris, tanpa ada bahasa arabnya. Mereka bikin sengaja itu. Dan dikirim ke amerika. Dibagi-bagi. Salah satu yang mendapatkannya, penjara-penjara. Dan banyak yang masuk islam. Karena Alloh sering kali menyindir kita, mengingatkan kita. Contohnya, di surat Al Mursalat. Alloh mengatakan, alam naj’alil ardlo kifaataa, ahyaaa awwa amwaataa, Alloh katakan, bukankah kami sudah menjadikan bumi ini sebagai wadah untuk manusia? Yang hidup, yang mati? Antum lihat, yang mati di perutnya, yang hidup di atasnya. Kemudian Alloh mengingatkan, alam naj’alahu ‘ainaiin, wa lisaana wa kafaataiin, bukan kah Kami sudah menjadikan bagi manusia itu dua mata?! Siapa yang kasih kau mata itu?! Orang tua mu?! Enggak. Siapa yang ngasih?! Ada pencipta yang memberikan dua mata kepada mu. Kalau kita mau urut, subhanalloh, jamaah. Yang ada di tubuh kita ini, seharusnya membuat kita semakin yakin bahwa Alloh itu esa, dan hanya Dia yang berhak disembah.

Alloh katakan, Kami jadikan buat manusia lisan dan dua bibirnya, kemudian Kami kasih kepada dia petunjuk, dua jalan. Kemudian, di surat an Naml Alloh mengatakan, apakah manusia tidak melihat, Kami menjadikan malam itu tempat yang penuh dengan sakinah. Penuh dengan kedamaian. Dan kami jadikan siang itu terang benderang sehingga orang bisa mencari ma’isyah. Mencari penghidupan dia. Nabi ibrahim ketika debat sama namrud, namrud tanya, apakah engkau tidak melihat kepada orang yang berdebat dengan ibrahim di mana Alloh telah memberikan kekuasaan kepada dia. Orang biasanya kalau punya kekuasaan itu sombong. Sulit menerima kebenaran. Orang kalo dikasih kekayaan itu biasanya akan merasa lebih. Sehingga bukti-bukti kebenaran yang disampaikan kepada dia jadi mental. Karena apa? Karena dia merasa memiliki, dia merasa lebih. Apalagi kalau yang menyampaikan lebih miskin. Alloh katakan, manusia itu benar-benar melampaui batas karena merasa dirinya nggak butuh. Maka namrud, karena dia merasa penguasa, mengajak ibrahim berdebat. Apa kata nabi ibrahim? Robb ku yang menghidupkan dan yang mematikan. Apa jawab namrud? Aku juga menghidupkan dan mematikan. Sama nabi ibrahim tidak diperpanjang. Apa kata nabi ibrahim? Oke, kalau kau merasa tuhan, engkau bisa menghidupkan dan mematikan, sesungguhnya Alloh lah yang mendatangkan matahari dan menerbitkannya dari timur. Sekarang, kalau engkau merasa tuhan, silahkan engkau terbitkannya dari barat. Aku mau lihat, kata nabi ibrahim. Namrud nggak bisa jawab. Dia itu makhluk. Cuma makhluk. Kadang kala merasa lebih dari yang lainnya dan menuhankan dirinya.. seperti fir’aun. Fir’aun mengatakan, kau tidak lihat nih, sungai-sungai mengalir dari bawah ku?! Emangnya firaun yang mengalirkan sungai itu?! Enggak. Dia hidup, lahir, mendapatkan sungai itu mengalir, kemudian merasa dia lebih dari yang lainnya.

Kita harus kembali kepada al quran nul karim, nabi itu mengeluh kepada Alloh karena banyak orang yang menjauhi alquran nul karim. Muslim tapi tidak pernah menyentuh alquran. Dan Rasul berkata, ya Robbi, sesungguhnya kaumku ini menjadikan alquran barang yang ditinggalkan. Subhanalloh. Alloh sering kali mengingatkan manusia, kenapa kita ada, untuk apa sebenarnya kita ada. Di surat azzariyat, tentang penciptaan manusia dan bangsa jin, dan tidaklah Ku ciptakan bangsa jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Ku! Itu, bukan yang lainnya. Segala fasilitas Alloh cukupi. Dari kau lahir, bahkan dari kau di perut ibu mu, sampai kau mati, Alloh cukupkan fasilitasnya. Alloh udah catet. Makanya ketika antum di perut ibu, udah dicatat itu. Rizkinya sampai kapan, engkau nanti rumahnya bakal kebakaran, nanti diganti yang lebih, engkau nanti bakal menikah, semuanya sudah dicatat. Tugas mu apa? Beribadah kepada ku!

Kata Alloh, Aku gak butuh mereka kerja untuk kasih Aku rizki. Makanya antum lihat ketika orang kurban. Jangan berpikir Alloh butuh sama daging kurban. Jangan pernah berpikir Alloh butuh dengan kucurana darah kurban. Tidak. Maka dikatakan, nggak sampai kepada Alloh tuh darah dan dagingnya baik yang besar atau yang kecil, yang banyak atau yang sedikit. Tidak. Apa yang sampai kepada Alloh? Takwa. Ketika Alloh wajibkan haji, apa dipikir Alloh butuh ada yang berkunjung ke rumah Alloh? Enggak. Kata Alloh, barangsiapa yang kufur, yang gak mau berangkat haji, Alloh itu gak butuh sama alam semesta ini. Allohu Akbar. Apa bukti ketidakbutuhan Alloh dengan alam semesta ini? Semuanya bakal Alloh ancurin. Kita pun bakal hancur. Maka, tujuan Alloh menciptakan kita hanya untuk beribadah kepadaNya.

Di surah AlMulk ayat kedua, Alloh juga ingatkan kenapa Dia ciptakan kematian dan kehidupan. Kata Alloh, Dia lah Alloh yang menciptakan kematian dan kehidupan. Kenapa Alloh mulai dengan kematian? Supaya kita sadar kalau engkau dulu itu enggak ada. Maka jangan sombong. Engkau dulu itu nggak ada. Engkau dulu itu gak bisa berdiri. Jangankan berdiri, merangkak pun gak bisa. Engkau hanya tergolek di atas ranjang. Kau hanya bisa menangis. Semuanya dibantuin orang. Apa engkau gak sadar bahwasanya ada yang menginginkan keberadaan mu? Dan engkau lihat orang tua mu mati. Kakek-nenek mu mati. Fulan yang kaya, mati. Fulan yang miskin, mati.

Apa sih tujuan hidup ini? Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala. Untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amalannya. Bukan siapa yang beramal. Kerena masih banyak di masyarakat muslim yang mengatakan, yang penting kan sholat, yang pentingkan islam. Enggak. Yang penting itu bagaimana kita sholat dan diterima. Karena orang yang sholat ada yang masuk neraka. Fawailul lil musholin. Celaka orang yang sholat. Yang sholat aja masih ada kemungkinan dia celaka karena sholatnya asal sholat.

Di dalam alquran nul karim, ada perintah pertama: yaa ayyuhannassu’budu robbakumulladzi kholaqqokum wal ladzina mingkoblikum laa’allakum tattaquun. Apa yang Alloh inginkan dari kita? Kadang kala al baqoroh itu lewat tapi kita belum berhenti diperintah itu. Di dalam alquran nul karim, kira-kira ada 170-an panggilan-panggilan Alloh. Alloh kadang kala memanggil yaa ayyuhannaas, kadang kala memanggil yaa ayyuhalladzina aamanu. Alquran hudallilmuttaqiin, alquran hudalinnaas. Alquran itu petunjuk buat orang-orang yang beriman dan bertakwa, dan dia petunjuk buat manusia. Panggilan-panggilan ini, yaa ayyuhannaas, supaya yang merasa manusia dengarkan. Dan biasanya orang kalo dipanggil, masya Alloh, umpamanya di antara kambing-kambing dan ada tiga orang di situ. Antum manggil, wahai manusia. Kira-kira, noleh enggak dia? Dia pasti akan noleh. Dan Alloh panggil, yaa ayyuhannaas, berulang kali Alloh panggil, contohnya banyak di surat al hujurat.

Diperintah pertama Alloh ini, Alloh katakan, yaa ayyuhannaas, sembahlah, tidak kepada sembarangan tuhan, karena di muka bumi ini, ketika Rasul saw diutus, dan sampai hari ini, masih banyak orang-orang yang menyembah yang bukan Tuhan yang menciptakan dia. Orang-orang jahiliyah, bayangkan. Mereka itu bikin patung terus minta tolong. Dan dari bodohnya orang-orang jahiliyah, ini kisahnya para sahabat, mereka menceritakan betapa bodohnya mereka di masa jahiliyyah, dia tau nih batu tidak menciptakan, dia yakin, cuma untuk media mendekatkan diri. Kalo dapat batu yang lebih bagus, yang lama dibuang. Nanti dapat yang lebih bagus, dibuang lagi. Pokoknya yang lebih bagus yang disembah. Kalo enggak ada batu? Kadang kala di padang pasir itu tidak ada batu. Pasiiir aja. Saat mereka dalam kondisi takut, mereka harus beribadah. Orang tuh kapan sih beribadah? Biasanya kalau lagi takut. Kalau mereka nggak dapat batu, mereka kumpulkan pasir. Lalu ditumpuk. Kemudian tengahnya dilobangin lalu diperahin susu. Lalu mereka tawaf di sekitarnya. Subhanalloh. Alloh katakan, kau kalau mau menyembah tuhan, tuhan yang menciptakan engkau. Bukan tuhan-tuhan palsu yang disembah. Mereka juga cerita, kalau kita gak punya apa-apa tapi kita punya kurma, kita tumpuk tuh kurma lalu kita berdoa. Kalau kita lapar, kita makan kurmanya. Bayangkan, tuhannya dimakan. Na’udzubillah min dzalik.

Dan ketika ayat ini turun, orang-orang itu tidak sadar. Kalau ternyata yang mereka lakukan itu bertentangan dengan akal mereka. Dan yang menciptakan orang-orang sebelum kalian. Tanyakan, bapak antum itu siapa yang menciptakan? Lalu, apakah 360 patung yang ada di sekitar ka’bah ada yang turut menciptakan lalat? Alloh kasih percontohan kepada mereka bahwasanya itu sesembahana-sesembahan, kadang kala kan dikasih sesajen, kata Alloh, kalo ada lalat yang datang, mereka enggak bisa mengusir lalat itu. Tuhan yang disembah tidak bisa mengusir lalat itu. Padahal lalat itu lemaaah. Makanya, andaikata seluruh penduduk bali berkumpul, andaikata seluruh penduduk Indonesia berkumpul untuk menciptakan seekor lalat, wallohi, gak ada yang bisa. Tapi kenapa mereka tidak menyembah Tuhan yang menciptakan lalat? Siapa yang menciptakan? Kalau ada yang bisa menciptakan lalat, pantas ia disembah. Kalo ada. Dan siapa yang menciptakan?? Alloh jalla jallaluh. Engkau lihat segala ciptaanNya, subhanalloh. Kata Alloh, la’allakum tattaquun, agar kalian bertakwa kepada Alloh. Kalau kalian itu menyembah kepada selain Alloh, kalian tidak akan mencapai tingkat ketakwaan.

Surga disediakan buat siapa? Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Maka keberadaan kita di muka bumi ini adalah untuk mengabdi kepada Alloh. Jamaah, tidak bisa diingkari, semua manusia itu memiliki fitrah ketuhanan. Ketika ada angin kencang yang datang, dia tuh takut. Dia merasa ada kekuatan yang menciptakan dia. Yang seharusnya dia meminta tolong kepada kekuatan itu. Alloh katakan, bukti kalau Alloh yang pantas disembah, Alloh yang menjadikan bumi ini sebagai hamparan. Siapa yang menciptakan bumi ini? Apakah ada sesembahan-sesembahan yang pernah turut menciptakan bumi? Enggak ada. Dan Alloh yang menciptakan langit sebagai bangunan yang kokoh tanpa tiang. Langit yang begitu besarnya tanpa tiang. Apakah engkau tidak akan menyembah yang menciptakan langit? Maka Alloh ingatkan manusia, apakah penciptaan kalian itu lebih dahsyat daripada penciptaan langit? Enggak. Mudah menciptakan kalian, kata Alloh. Penciptaan langit tentunya lebih susah.

Langit ini berapa lapis, jamaah? Tujuh tingkat. Kemudian Alloh katakan, dan Dia yang menurunkan dari langit, yakni dari awan, air. Semua yang hidup ini Alloh ciptakan dari air. Dan air itu dari bawah apa dari atas, jamaah? Dari atas. Apa buktinya? Buktinya ketika hujan tidak turun, sumur itu kering. Buktinya ketika hujan tidak turun, sungai-sungai itu kering. Orang tidak menggali. Mereka mencari di atas. Kadang kala mata air pun kering. Tatkala hutan terbakar di riau, siapa yang mematikannya? Indonesia bekerja sama dengan singapura, dengan malaysia, untuk mematikan hutan yang terbakar tapi tidak padam kecuali tatkala Alloh turunkan hujan. Baru padam. Coba kita pikir, siapa yang menurunkan hujan? Alloh.

Di indonesia terkenal ada pawang hujan. Ada sohib nih, cerita dia. Dia tanya sama pawang hujan, mas kenapa sih kalo musim hujan sampeyan itu kok tidak nyarang hujan? Apa kata dia? Yaa, kalo musim hujan jelas turun hujannya. Tapi kalo enggak musim hujan kan mungkin nggak turun. Ya, kita ini kan Cuma cari duit, katanya. Gak bisa pawang hujan itu nolak hujan. Maka di sini seorang hamba harus yakin kepada pencipta langit dan bumi yang menurunkan hujan dan di indonesia, tauhid hamba itu mulai digeser sedikit demi sedikit. Dengan tayangan-tayangan di televisi. Pernah main layangan, jamaah? Subhanalloh, kita gak sadar dulu kalo kita pernah berbuat syirik. Kita kalo main layangan nggak ada angin itu, kita meminta kepada siapa? Kita bersiul. Nggak minta sama Alloh, jamaah. Ini termasuk perbuatan yang seharusnya diluruskan. Padahal kau tahu yang menciptakan itu Alloh jalla jalluh, kemudian kau meminta kepada selain Alloh SWT. Maka Alloh katakan, jangan kalian ini menjadikan bagi Alloh tandingan-tandingan, sekutu-sekutu, sedangkan engkau tau kalo mereka itu tidak menciptakan dirimu. Siapa yang gak tau? Apakah ada orang kafir yang meyakini kalo yang menciptakan dirinya itu adalah patung-patung seperti latta, hubbal? Mereka tidak. Terus kenapa mereka meminta kepada latta, hubbal, dan uzza? Apa kata mereka, kita tidak menyembah mereka, melainkan sekedar untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Jadi  sebagai perantara buat mereka. Padahal, Alloh tidak butuh perantara. Kita ketika sholat, apa yang kita katakan? Hanya kepadamu kami menyembah dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan. Maka jamaah, kita ada untuk men-tauhidkan Alloh. Segala fasilitas yang Alloh berikan kelak akan kita pertanggungjawabkan.

Kembali kepada masa depan anak-anak kita. Hati-hati dengan tayangan-tayangan di televisi. Dan film-film dari barat yang banyak hadir di indonesia, rata-rata pesan yang disampaikan itu tidak ada hari kebangkitan. Itu pesan yang disampaikan kepada kita. Sehingga manusia tidak sadar bahwasanya dia diciptakan untuk mengabdi kepada Alloh jalla jallaluh. Silahkan engkau mengabdi kepada Alloh di mana pun engkau berada. Dan seorang muslim, detik-detik dari kehidupan dia seharusnya mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Tidak harus di masjid. Alloh katakan, kepada orang yang habis sholat jumat, apa kata Alloh? Kalo selesai sholat, silahkan kalian itu bertebaran di muka bumi.

Semua fasilitas yang Alloh berikan kepada kita sesungguhnya adalah untuk menguji siapa yang paling baik amalannya. Alloh berfirman di surat al kahfi, Kami menjadikan semua yang ada di muka bumi ini sebagai perhiasan. Perhiasan itu biasanya menggoda. Membuat orang lupa dan lalai. Sehingga dia lupa dengan tujuan hidup yang sebenarnya. Kata Alloh, kami jadikan perhiasan di bumi itu untuk menguji siapa di atara mereka yang paling baik amalannya. Dan semua perhiasan yang ada ini, bakal Alloh hancurkan. Ketika masa ujian  itu selesai, kata Alloh jalla jallaluh, dan Kami akan jadikan semua yang ada di muka bumi debu yang berterbangan. Orang-orang kafir pernah bertanya kepada Rasul SAW, nanti bagaimana dengan gunung-gunung? Apakah juga akan hancur? Kata Alloh, katakan kepada mereka, gunung-gunung itu akan Alloh hancurkan hingga rata dengan tanah. Dan hilang tanda-tanda itu semua.

Jamaah, ingat kita adalah hamba Alloh SWT. Apapun pekerjaan kita, jangan lupa kalau kita hamba Alloh. Alloh menjadikan ujian terberat manusia itu nafsunya dan iblis yang sudah bersumpah kepada Alloh kalau dia akan mencari teman sebanyak-banyaknya ke dalam api neraka. Tidak sedikit di antara umat manusia yang lupa tujuan hidupnya. Sehingga kerjanya dari pagi sampai siang, dari siang sampai malam, hanya untuk perut dan di bawah perutnya. Ituuu aja yang dicari. Sehingga tatkala datang kematian, dia belum mempersiapkan diri. Tapi kita melihat dalam kehidupan dunia ini, pekerjaan manusia beda-beda. Rizkinya beda-beda. Kedudukannya beda-beda. Bagaimana kita mengabdi kepada Alloh dalam segala kondisi? Yang jadi dokter, ya mengabdi kepada Alloh dengan profesi dia sebagai dokter. Yang menjadi polisi, ya mengabdi kepada Alloh dalam posisi dia sebagai polisi. Seorang presiden mengabdi kepada Alloh di posisi dia sebagai presiden. Karena presiden itu juga budak Alloh SWT. Siapapun orangnya. Apapun jabatannya, dia budak Alloh swt. Dan kita harus mengabdi kepada Alloh. Tidak perlu antum iri terhadap profesi seseorang.

Tapi seorang mukmin harus berusaha untuk berlomba-lomba dalam kebaikan ketika mendekatkan diri kepada Alloh. Bayangkan sahabat-sahabat muhajirin yang datang kepada Rasulullah lalu mengatakan, ya Rasulullah, itu, orang-orang anshar yang punya fulus, mereka pergi dengan membawa pahala yang banyak. Kita yang gak punya fulus gimana? Apa kata Rasul saw? Mau kalian aku kasih amalan, kalau kalian amalkan, kalian akan menyaingi mereka. Apa amalannya? Bertasbih, bertahmid, dan bertahlil. Setiap selesai sholat kita membaca itu masing-masing 33 kali. Atau secara umum kita bertahlil. Apakah sahabat-sahabat anshar mencukupkan diri dengan pahala dari sedekah saja? Enggak, jamaah. Mereka terus beramal dan bertasbih. Sehingga sahabat-sahabat muhajirin datang lagi kepada Rasul saw, ya Rasulullah, nih orang-orang anshar ikut-ikutan mengamalkan amalan kita. Kata Rasul saw, ya itu kemuliaan dari Alloh swt, Alloh berikan kepada siapa yang Alloh kehendaki.

Ada sebuah hadist jamaah, seorang mukmin, dimana pun kalian berada, harus bisa mewarnai. Ada di bandara, dia menjadikan bandara itu indah bercahaya. Dia ada di perusahaan, di tempat itu dia berusaha untuk menyinari perusahaan itu dengan cahaya-cahaya iman dan islam. Tidak perlu dengki kepada atasan. Rasul saw mengatakan, celaka orang yang menghamba kepada duit. Duiiit yang dia cari. Orang ada yang menghamba kepada pakaian. Biasanya nih ibu-ibu. Hidupnya, ada model baru, beli. Model baru, beli. Teruuus begitu. Yang dipikirkan hanya pakaian buat dia. Celaka tuh kata Rasul saw. Kan kelakuan hamba nih seperti ini: dikasih, dia ridha. Tapi kalo enggak dikasih, dia murka. Ada orang-orang seperti itu. Ketika rizkinya lancar, masya Alloh. Ketika nggak dikasih, dia murka kepada Alloh swt. Akhirnya dia berpaling. Yang dulunya biasa ke masjid, gara-gara rizkinya sempit, gak ke masjid. Yang dulunya ikut kajian, gara-gara punya masalah, dia nggak lagi ikut kajian. Itu orang yang menghamba kepada benda seperti itu. Kata Rasul saw, mudah-mudahan kalau dia kemasukan duri, mudah-mudahan gak bisa keluar tuh durinya. Rasul sampai mendoakan keburukan untuk orang-orang seperti itu.

Terus siapa hamba yang baik itu? Hamba Alloh yang dicintai Alloh itu siapa? Apakah yang kaya? Apakah pejabat yang bisa menolong orang banyak mungkin dengan jabatannya? Kata Rasul saw, sebuah kebaikan buat hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Alloh swt, fii sabilillah. Rambutnya udah kusut, kakinya udah berdebu, kalo dia dikasih tugas dipenjagaan, ya dia melaksanakan tugasnya dipenjagaan itu. Kalo dia dapat bagian jaga di belakang, dia berjaga di bagian belakang. Dia tidak pernah murka kepada Alloh swt. Dia melaksakan tugasnya di mana pun dia berada. Ini yang baik. Jangan sampai rebutan untuk menjadi yang ada di depan. Subhanalloh. Di manapun engkau berada, sudah, terima takdirmu. Laksanakan tugasmu. Karena di sini pun engkau menjadi hamba Alloh swt. Kalau memang tugasku ini, terima. Ingat, apapun posisimu, jabatanmu sebagai hamba Alloh lebih tinggi daripada posisimu dan jabatanmu.

Jamaah, lalu sampai kapan kita jadi budaknya Alloh? Apa kata Alloh? Terus engkau beribadah kepada Alloh, kepada Rabb mu, sampai kematian datang menjemputmu. Jangan pernah merasa bangga dengan amal kebajikan. Karena syaitan tidak pernah berhenti menggoda kita. Syaitan menggoda kita lewat dua cara: dari syahwat dan syubhat. Kalau orang ini suka dengan syahwat, maka syaitan menjerumuskan dia kepada mengikuti syahwatnya. Tapi kalo orang ini ahli agama, maka syaitan gak mempan kalau dia mengajak orang ini berzina, berjudi, mabuk-mabukan. Ya sudah, maka syaitan akan menggoda orang itu lewat syubhat. Sehingga akan teracuni lewat pemikiran-pemikiran yang tidak benar dalam beribadah. Ada yang beribadah berlebih-lebihan. Akhirnya muncul kelomok-kelompok dalam islam ini yang mengklaim dirinya merasa paling benar. Bahkan mereka mengkafirkan semua yang tidak ikut kelompok mereka. Seperti ISIS contohnya. Ironisnya, mereka membiarkan penyembah-penyembah berhala dan membunuh orang-orang islam. Ini salah satu syubhat syaitan. Dan ini penyimpangan yang dibisikkan oleh syaitan dari berlebih-lebihan dalam beribadah. Maka, ibadah yang benar, menjadi hamba Alloh yang benar, adalah tetap di atas sunnah Rasul saw, mengikuti pemahaman para sahabat nabi Muhammad saw, serta tidak meremehkan perkara agama.

Wallohu a’lam bis showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar