Sabtu, 22 September 2018

ANTARA UJIAN DAN AZAB


Judul                                 : ANTARA UJIAN DAN AZAB
Oleh                                  : Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah
Sumber                             : Channel Youtube – Syafiq Riza Basalamah Official
Adaptasi tulisan                : Fiqih Fahlevi


Assalamu ‘alaikum warah matullahi wabarakatuh.

Ba’da tahmid dan shalawat.

Kita ini gak punya apa-apa di dunia ini, jamaah. Hidup pun kalo Alloh mau cabut, selesai. Maka lihat, Alloh ingin mengangkat derajat orang-orang yang Alloh cintai dengan bala (musibah). 

Apa yang harus kita lakukan tatkala kita terkena bala? Ya, bersabar. Mendekatkan diri kepada Alloh. Kata Alloh, di surat al baqoroh ayat 155 – 157, Kami benar-benar akan menguji kalian dengan rasa takut, khawatir. Banyak orang tua yang khawatir dengan anaknya, dengan kekayaannya, dengan perusahaannya. Sehingga ana lihat sekarang, kenapa banyak lembaga asuransi? Karena untuk ujian ketakutan itu. Cuma ternyata, dia takut bukan larinya ke Alloh. Takut anakanya gak bisa sekolah nanti? Ya antum asuransikan anak antum ke Alloh. Asuransikan kepada Alloh. Berapa untuk biaya anak sekolah? 10 juta umpamanya. Ya sudah, 10 juta tiap bulan kasihkan ke fakir miskin. Nanti ke depannya Alloh yang jamin. Gak perlu ada lagi klaim sana- klaim sini. Kita kalau ada masalah tinggal menengadahkan tangan. Minta sama Alloh.

Antum masih ingat ketika kita baca surat al kahfi, tentang dua anak yatim yang orang tuanya sudah meninggal? Alloh kirim nabi Musa dan nabi Khidir untuk menyelamatkan harta mereka. Kenapa? Karena bapaknya sudah mengasuransikan anaknya kepada Alloh. Bapaknya orang soleh. Jadi anaknya siapa yang jaga? Alloh yang jagain. Alloh tuh sebaik-baik penjaga, jamaah.

Maka tatkala Alloh uji kita dengan rasa takut, asuransikan ke Alloh. Bikin ambulan buat masyarakat. Selesai, jamaah. Nanti Alloh yang jagain. Tapi kita kadang kala kurang yakin sama Alloh. Kita lebih yakin dengan yang bayar tiap bulan.

Kemudian, takut kelaparan. Bisa dilihat, ada orang menyimpan harta untuk tujuh keturunan. Memang antum mau hidup berapa tahun? 100 tahun? 120 tahun? Enggak ada. Orang gak ada yang mau hidup lama-lama. Karena dia tahu, semakin tua semakin susah.

Alloh akan uji dengan kelaparan. Wallohi jamaah, mungkin sekarang sebagian di antara kita tidak ada yang pernah merasakan lapar. Maka puasa ramadhan itu ternyata anugerah buat orang-orang kaya. Sampai ada cerita, orang kaya itu, ustadz, gak pernah enak makan, ustadz. Kenapa? Karena sebelum lapar dia sudah makan lagi. Tapi kalo dia lapar banget, masya Alloh, enak makannya.

Maka kita lihat kalo bulan ramadhan, kenapa harga makanan naik? Karena semua pada makan, jamaah. Padahal seharusnya orang puasa itu kan harga makanan turun karena sedang puasa. Tapi ini enggak. Karena dia maunya makanan enak-enak ketika berbuka. Maka Alloh uji kita dengan rasa lapar.

Kemudian, ketakutan dengan kurangnya harta. Ana punya teman di surabaya cerita. Ustadz, tahun lalu ana jual perumahan itu ustadz, kayak jualan kacang. Satu hari 60 unit, ustadz. Sekarang, empat bulan gak ada yang beli, ustadz. Alloh uji nih. Alloh akan uji kekurangan hartanya. Dia harus bayar utang sana, bayar utang sini. Masya Alloh.

Dan kekurangan orang-orang yang kita cintai. Kalau kita kekurangan orang-orang yang kita benci, itu bukan ujian. Ada istri-istri itu yang suka kita mati. Ini kejadian nih. Ana udah cerita di beberapa kajian. Di Pekalongan, ada dari Jember, ibu-ibu berangkat ke pekalongan, dia ketemu sahabatnya. Suaminya baru meninggal. Maka dia mau takziah, mau belasungkawa. Ya Alloh, kasian ya, kamu ditinggal suami. Alhamdulillaaah. Dia sudah mati. Alhamdulillah. Capek ngurusin dia. Subhanalloh. Jadi bapak-bapak, jangan dikira istrinya senang. Ternyata mereka juga bosan. Di sini, kalo ternyata yang meninggal itu orang yang mereka cintai, itu ujian.

Maka kalo kita lihat, nabi kita Muhammad saw itu diuji ditinggal mati tiga putrinya. Ditinggal khadijah, bagaimana cintanya beliau dengan khadijah. Ditinggal anaknya yang namanya Ummu kalsum, ditinggal ruqayyah, ditinggal zainab. Hanya satu yang anaknya tidak ada dilembaran kesabaran nabi saw yaitu fatimah. Karena fatimah meninggal setelah meninggalnya Rasulullah saw. Artinya semua anak nabi itu pahala kesabarannya ada di nabi. Karena nabi yang menghadapi kematian anak-anaknya. Sedangkan fatimah, dia yang mendapatkan nilai kesabaran ditinggal mati ayahnya. Maka kita kalau ditinggal mati oleh orang-orang yang kita cintai, itu ujian. Ini untuk mengangkat derajat. Tergantung sikap kita tentunya.

Lalu Alloh katakan, diuji juga dengan kekurangan buah-buahan. Kadang kala petani gagal panen. 100 hektar gagal panen. Alloh kirim wereng, Alloh kirim sesuatu ke kebun-kebun mereka sampai gak ada lagi hasil kebunnya. Itu ujian dari Alloh. Lalu bagaimana? Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

Jamaah rahimakumulloh, ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Apakah bala itu menghapuskan dosa saja atau juga mengangkat derajat dan berpahala? Umpamanya, mobil kita terbakar. Kita tuh dihapuskan dosanya atau diangkat juga derajatnya? Para ulama menjelaskan, pendapat pertama mengatakan, bala itu, musibah yang menimpa kita, hanya untuk menghapuskan dosa. Pendapat yang kedua mengatakan, bala itu menghapuskan dosa dan mengangkat derajat. Yang ketiga mengatakan, bala itu akan berpahala kalau dalam rangka kebaikan. Orang berangkat haji, patah kakinya. Dia itu akan mendapat pahala selain dihapuskan dosanya. Tapi, orang umpamanya main voli kemudian keseleo kakinya. Itu dihapuskan dosa plus pahala atau dihapuskan dosa saja? Dihapuskan dosa saja. Menurut pendapat ini, karena dia bukan dalam rangka ibadah. Dia dalam rangka hal-hal yang mubah saja. Maka itu hanya akan dihapuskan dosanya. Orang yang mau berangkat ke masjid, tau-tau ditabrak sama orang. Dia dapatin dua: penghapusan dosa dan mendapat pahala.

Ada yang mengatakan orang mendapatkan pahala dengan sabar. Kalo kena musibah, terus sabar, musibah itu menghapuskan dosa. Sabarnya berpahala.

Kan ada orang yang, kalau sakit, mengeluh terus dia. Kalau begitu, dia gak akan dapat pahala tapi tetap dihapuskan dosanya saja. Maka Alloh katakan, beri kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Seperti apa sifat orang sabar? Kita nih udah sabar belum sih? Kita nih kena musibah, mungkin di harta, di tubuh kita, di keluarga kita, Alloh mengatakan, orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang kalo terkena musibah, tidak cari kambing hitam. Tapi dia langsung mengatakan, innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun, kami ini milik Alloh dan kami semua bakal balik kepadaMu.

Bayangkan jamaah. Kena musibah, langsung ingat kalo kita ini milik Alloh. Alloh mau ngapain sama kita, itu hak Alloh. Dan kita bakal kembali kepada Alloh. Kita jadi sadar kalau semua ini bakal balik kepada Alloh jalla jallaluh. Lalu Alloh katakan, tuh orang-orang akan mendapatkan sholawat, berkah hidupnya. Orang yang sabar itu berkah hidupnya. Dia walaupun sakit, walaupun dia menghadapi penyakit yang menimpa dia, dia kena jantung, harus pasang ring, mungkin ada yang kena kanker, perasaan dia tetap tenang.

Ana punya bibi, masya Alloh. Dia kena kanker sampai akhirnya meninggal dunia. Tapi ana lihat, dia subhanalloh. Kalo ana tanya, gimana kabarnya bibi? Alhamdulillah, syafiq, alhamdulillah, enakan. Alhamdulillah. Selaaalu bersyukur. Jadi akhirnya penyakit itu tidak membahayakan dia. Karena yang mematikan itu ajal, jamaah. Ajal yang mematikan.

Ada orang nggak sakit, mati. Gak sakit sama sekali, baru makan tadi sore, malamnya mati. Dibawa ke dokter, jantungnya sudah berhenti. Sudah waktunya dia mati. Jadi kalo kita bicara mati, penyakit itu tidak mematikan. Yang mematikan itu apa? Ajal yang datang menyambut dia. Makanya kadang kala ada orang sakit bertahun-tahun dirawat di atas ranjang tapi tidak kunjung meninggal. Malah anaknya mati duluan, menantunya mati duluan. Kenapa? Karena ajalnya belum datang. Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Mereka akan mendapatkan rahmat dari Alloh swt. Tuh orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Bagaimana mereka mendapatkan petunjuk? Mungkin kita bisa baca di surat at taghabun ayat 11. Alloh mengatakan, tidak ada satu pun musibah yang menimpa melainkan itu dengan izin Alloh. Barangsiapa yang beriman kalo musibah ini dari Alloh, Alloh akan kasih hidayah ke dalam hatinya. Musibah ini sudah ketentuan Alloh. Aku gak akan bisa berbuat apa-apa.

Karena ada seorang ibu yang ditinggal mati anaknya, akhirnya malah menyalahkan suaminya. Ini gara-gara abang nih. Ana sudah bilang bawa ke rumah sakit anak. Ana sudah bilang jangan ke dokter sana. Ana sudah bilang ini, sudah bilang itu, subhanalloh. Sudah selesai urusannya. Kita harus beriman kepada Alloh, kalau anak kita memang sudah takdirnya mati. Mau dibawa ke dokter mana pun. Maka kita harus tahu, tidak ada satu pun musibah melainkan itu sudah dengan izin Alloh. Yang beriman kepada Alloh, beriman dengan takdir Alloh, maka Alloh akan berikan hidayah kepadanya. Karena Alloh itu Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

Sekarang apa saja yang membantu kita untuk bersabar? Karena kita juga perlu tau kalau seorang suami harus menguatkan istrinya ketika istrinya kena musibah. Seorang anak menguatkan ayahnya ketika ayahnya kena musibah. Karena ada penyakit-penyakit yang membuat orang putus asa untuk hidup. Makanya tugas keluarga untuk menguatkan.

Berbicara kematian, lebih baik mana, mati cepat atau mati lambat? Orang terbaik itu adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Misalnya ada orang umur 40 tahun meninggal dunia. Dia selama hidupnya senang beramal sholeh. Lalu ada juga orang yang umur 45 tahun meninggal dunia. Dia pun gemar beramal sholeh. Mana yang lebih baik? Yang 45 tahun. Sama-sama nih amalannya.

Saad bin abi waqqosh ra, sahabat nabi, dia punya sahabat dua. Dua sahabatnya ini masuk islamnya bareng. Yang satu ahli ibadah. Yang satu lagi biasa-biasa saja. Ibadah tapi tidak tekun seperti yang pertama. Sahabat saad yang pertama ini meninggal dunia di medan perang. Mati syahid. Yang kedua, gak mati. Setahun kemudian, baru mati. Matinya pun biasa. Bukan di medan perang. Akhirnya, suatu hari saad bin abi waqqosh bermimpi. Dia bermimpi seakan-akan kiamat telah terjadi. Saad bin abi waqqosh sedang berada di depan pintu surga bersama dua sahabatnya itu. Mereka mau masuk surga, nunggu pintunya dibukakan.

Tau-tau ada yang keluar dari pintu surga. Memanggil yang matinya terlambat duluan. Yang mati biasa dipanggil, masuk surga. Masuk lah dia. Tunggu beberapa lama, datang lagi utusan itu. Kemudian Memanggil nama temannya yang mati syahid. Kemudian setelah beberapa lama masuk, utusan itu keluar lagi. Mengatakan kepada saad, kamu belum waktunya. Bangun lah saad bin abi waqqosh dari tidurnya.

Dia cerita kepada orang-orang tentang mimpi dia. Para sahabat yang mendengar nampak kebingungan. Kok bisa, ya?? Mereka secara umur islamnya kan bareng, kemudian yang satu lebih ahli ibadah, mati jihad, kok masuk surganya terlambat?! Kok yang masuk surga lebih dahulu malah yang biasa-biasa aja?! Akhirnya berita itu sampai terdengar kepada Rasulullah saw. Lalu nabi mengatakan kepada mereka, kenapa kalian kok heran?? Ya itu nabi saw. Si anu orangnya biasa-biasa saja, tapi kok masuk surga lebih dulu. Sedangkan fulan, yang ahli ibadah, bahkan mati syahid, malah belakangan masuk surganya.

Lalu nabi saw menjelaskan tentang rahasianya. Yang pertama beliau katakan, bukankah umurnya tambah satu tahun orang itu? Iya, Rasul saw. Dia hidup setahun setelah temannya wafat. Baik, berapa banyak dia sholat selama setahun? Kemudian, bukan kah dia mendapatkan bulan Ramadhan? Dan dia puasa di bulan ramadhan itu? Iya, kata para sahabat. Sesungguhnya jarak antara fulan dengan fulan itu seperti langit dan bumi derajatnya.

Makanya kita tidak boleh minta mati. Mungkin terkadang kita merasakan males hidup. Mungkin karena merasakan penyakit parah. Padahal, setiap hari engkau merasakan sakit itu, setiap hari pula derajat mu akan diangkat Alloh.

Pahalanya beda, jamaah. Orang yang sakit dengan orang yang tidak sakit, beda pahalanya. Nanti orang-orang yang sehat, yang mati dalam kondisi sehat, nggak pernah sakit-sakitan, di hari kiamat ketika melihat pahala orang-orang yang kena banyak musibah, menjadi iri. Mereka iri. Sehingga mereka ingin sekali kulit mereka digunting-gunting. Karena pahalanya besar banget, jamaah. Amalan apa? Bukan amalan mereka. Melainkan karena pahala kesabaran mereka dari musibah. Dikasih musibah, mereka sabar. Bukan karena sholatnya, bukan karena shodaqoknya, bukan karena zakatnya, bukan karena haji dan umrahnya, tapi karena sabarnya dia saat kena musibah.

Bagaimana supaya kita bisa sabar? Ibnul qoyyim rahimahullahu ta’ala menyebutkan, sebab-sebab yang melahirkan kesabaran:

Yang pertama. Menghadirkan pahala. Apa sih pahalanya? Seperti kisah perempuan anshar yang dikasih pilihan oleh Rasulullah saw antara surga atau sembuh. Maka dia memilih sakit dab nsesabar atas penyakitnya tersebut untuk kemudian masuk surga. Kalo antum milih mana jamaah? Mesti milihnya sehat masuk surga. Itu lah manusia. Tapi gak semudah itu masuk surga, jamaah. Perempuan itu tau, gak apa-apa dia sakit, dia bersabar. Dia tidak mengatakan kepada nabi saw, Nabi, bisa gak doakan saya supaya sehat aja dan masuk surga? Nggak mudah jamaah. Maka tatkala kita ingin bersabar, hadirkan pahalanya. Bayangkan pahala besar yang akan kita dapatkan dari bersabar. Jadi kita akan semakin kuat kesabaran kita.

Yang kedua, hadirkan dosa-dosa yang dihapuskan dengan musibah itu. Coba bayangkan dalam benak kita, kedurhakaan yang dulu pernah kita perbuat. Ya Alloh, ana berapa tahun berbuat dosa. Ana dulu sholatnya telat-telat, abis sholat hampir gak pernah berdzikir, gak ada qobliah gak ada ba’diah, kemaksiatan terus dilaksanakan, lupa sama panggilan Alloh. Jadi, wajar saja kalau sekarang Alloh yang maha pengasih dan penyayang membersihkan dosa-dosa kita lewat bala yang diberikan Nya. Dengan begitu, insya Alloh akan muncul sabar.

Yang ketiga, beriman dengan takdir Alloh. Bahwasanya takdir manusia itu sudah ditetapkan 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Jadi kita jadi tenang, jamaah. Ya mau gimana? Semua ini sudah ditakdirkan sama Alloh. Aku akan bersabar. Tugasnya kita hanya menerima.

Berkaitan dengan takdir ini, apakah kalau kita mengeluh, jamaah, kita akan sembuh? Kalau kita mengadu ke orang, setiap ada orang kita cerita, kita akan sembuh? Enggak. Perihal mengeluh ini ada dua macam: mengeluh yang boleh dan mengeluh yang tidak boleh. Mengeluh yang boleh itu, orang sakit, ketika ada temannya yang berkunjung, dia mengucapkan di mana letak sakitnya supaya didoakan atau supaya dokter bisa mengobati. Itu gak apa-apa. Itu namanya mengeluh untuk memberikan informasi. Tapi yang tidak boleh adalah yang sifatnya tidak ridha dengan takdir Alloh.
Dan ironisnya, kita itu ternyata lebih suka menceritakan musibah daripada menceritakan nikmat yang Alloh kasih. Padahal yang harus diceritakan sebenarnya itu nikmat. Fa anna bini’mati robbika fahaddist, ceritakan lah nikmat-nikmat itu. Alhamdulillah, ana dapat nikmat ini, ana dapat nikmat itu. Tapi lucunya kita takut kalau menceritakan nikmat. Kenapa? Kita takut nanti diutangi. Makanya jadi takut. Tapi kalo cerita musibah, adakah yang mau minta musibah? Gak ada. Antum dapat musibah, bagi-bagilah ke ana. Nggak ada itu, jamaah. gak ada. Maka, hadirkan kalo itu semua merupakan takdir Alloh jalla jallaluh.

Kemudian, yang ke empat. Dia menghadirkan apa hak Alloh kalo sedang terkena musibah. Kita ini kan diciptakan Alloh untuk beribadah. Sekarang posisi kita lagi sakit nih. Posisi ana bangkrut, di PHK, ditinggal istri. Maka marilah kita menghadirkan haknya Alloh pada waktu ini. Apa? Bersabar.

Karena kan dalam beribadah itu ada dua hal: ada syukur, ada sabar. Saat ini berarti yang harus aku lakukan ya bersabar. Jamaah, tingkatan sabar ini sebenarnya tingkatan paling rendah dalam beribadah. Di atas sabar itu ada ridha. Aku ridha, sudah. Pasti semua ini ada hikmahnya. Dan tingkatan yang paling tinggi adalah syukur. Ketika ditimbah musibah kita mengatakan, alhamdulillah ustadz, ana sakit. Alhamdulillah. Kalo enggak, ana gak tau udah jadi apa. Itu tingkatannya sudah syukur. Ana dulu suka ikut temen-temen ke mana-mana, alhamdulillah sekarang Alloh kasih ana sakit, sehingga ana tidak bisa ke mana-mana, ana bersyukur sama Alloh. Ini tingkatan yang paling tinggi, jamaah. karena memandang yang Alloh kasih ini adalah nikmat dari Alloh. Sebagian orang itu, jamaah, gara-gara satu dosanya, dia gak bisa sholat malam. 4 bulan dia gak sholat malam. Seakan Alloh tutup waktu malam buat dia. Dia sedih. Antum, gara-gara sakit, bisa sholat malam. Nikmat gak? Kemudian juga gara-gara sakit antum bisa menyelesaikan tiap hari satu juz baca quran. Alhamdulillah. Bukan kah itu nikmat? Jadi kita menyaksikan, akhirnya, musibah itu jadi nikmat. Ini anugrah nih dari Alloh. Sabar itu menahan diri dari emosi, gak ngomong yang macem-macem. Yang kedua, ridha. Menerima. Yang ketiga, syukur. Yaitu mampu melihat hikmah dibalik musibah. Mampu bersyukur dalam kepahitan. Maka usahakan kita sampai ke tingkat syukur itu, jamaah.

Rasul saw menjelaskan tentang seorang yang ditinggal mati sama anaknya. Alloh ketika mengutus malaikat pencabut nyawa, mencabut nyawa salah satu anak hamba Alloh, Alloh tanya sama malaikatnya, kalian habis mencabut nyawa hamba Ku? Iya, ya Alloh. Kalian habis mencabut nyawa buah hatinya? Artinya anak ini dicintai. Alloh tau sebenarnya dengan kejadian itu. Tapi Alloh ingin menunjukkan rahmat Nya. Apa yang dikatakan oleh hamba Ku ketika kalian cabut nyawanya? Kata malaikat-malaikat ini, dia mengatakan alhamdulillah, Ya Alloh. Dan dia mengatakan innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Dia bersyukur, jamaah. Lalu apa kata Alloh? Bangunkan rumah buat hamba Ku itu di surga. Khusus buat hamba Ku ini. Kasih nama rumahnya, rumah pujian. Karena ketika ia mendapat musibah, ia memuji Alloh. Ini merupakan tingkatan yang sangat tinggi. Dari mana kita dapat menghadirkan itu? Carilah hikmah-hikmah di balik musibah yang tengah menerpa kita.

Kemudian yang ke lima. Dia melihat bahwasanya ini karena dosanya. Ya Alloh, ini pasti karena dosa hamba ya Alloh. Yah, mudah-mudahan Alloh mengampuni dosa-dosa ku. Akhirnya perasaan seperti itu membuat kita beristighfar. Memohon ampun kepada Alloh. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.

Ali bin abi thalib ra mengatakan, tidaklah satu bala turun melainkan dengan dosa. Dan tidak diangkat kecuali dengan taubat.

Sesuai di poin kedua, bahwa bala ini menghapuskan dosa. Tapi yang ditekanan di poin ke lima ini adalah musibah yang mendorong kita untuk beristighfar. Karena dia tahu, kalau dosa ini gak akan diangkat, diampuni, kecuali dengan taubat. Ustadz, ana sudah istighfar ustadz. Udah taubat. Tapi kok kenapa penyakit ana gak diangakt-angkat sama Alloh? Berarti antum mau diangkat derajatnya. Terus aja khusnudzon sama Alloh. Kan tadi disampaikan bahwa akan ada derajat yang tidak bisa dicapai dengan amalan apapun kecuali dengan bersabar apabila ia ditimpa musibah. Antum mau sholat malam terus, gak tercapai itu. Tercapainya dengan apa? Dengan musibah.
Kenapa para nabi balanya paling berat? Kalo bicara penyakit, siapa yang penyakitnya lebih berat daripada nabi Ayub as? Bala yang paling berat itu balanya nabi kita Muhammad saw. Ada kah hamba yang lebih dicintai Alloh daripada nabi Muhammad saw? Gak ada, jamaah. Suatu ketika beliau saw sakit. Kemudian dijenguk oleh abdullah bin mas’ud. Dipegang badannya nabi. Pada waktu itu nabi pakai selimut. Panasnya itu sampai tembus ke atas selimut. Kata sahabat ini, ya Rasulullah, sakit mu ini parah banget. Artinya sahabat ini tidak pernah melihat sahabat lain sakit seperti ini. Apa kata nabi saw? Ya, sakit ku ini sakitnya dua orang diantara kalian. Double sakitnya nabi, jamaah. Tanya sahabat ini lagi, apakah karena engkau akan mendapatkan pahala double ya Rasulullah? Iya, kata Rasul saw.
Jadi kita paham sekarang. Apabila kita tertimpa suatu bala, suatu musibah, hendaknya kita selalu istighfar, teruuus istighfar. Minta ampun sama Alloh. Khusnudzon sama Alloh. Mudah-mudahan itu akan mengangkat derajat kita.
Kemudian yang ke enam. Hendaklah kita mengetahui kalo Alloh lah yang memilihkan kepada kita penyakit dan musibah ini. Alloh yang memilihkan buat kita. Masa kita gak ridha sama pilihan Alloh?
Permisalannya kayak gini, terkadang ada seorang istri yang dibawain hadiah sama suaminya. Lalu istri ini mengatakan, bang, ini bukan seleraku bang. Bagaimana kira-kira perasaan suami? Tentu jengkel. Makanya Alloh memberikan bala ini kepada kita karena Alloh sudah ridha sama kita. Terus kenapa kita malah marah-marah? Maka, hadirkan lah perasaan, kalau Alloh sudah berkehendak memberikan bala ini, maka aku harus terima. Maka, kesabaran ini sudah naik tingkat jadi ridha.
Ya, ana terima. Walaupun berat. Siapa sih yang suka sama penyakit? Gak ada, jamaah. oleh karenanya kita pun tidak diperintahkan untuk meminta penyakit. Gak boleh, jamaah.
Dulu, di zaman nabi saw hidup, pernah nabi saw datang ke rumah seorang sahabat yang mana sahabat ini sedang sakit parah.  Kalau diibaratkan sampai seperti anak ayam yang penyakitan. Karena saking parahnya. Lalu nabi bertanya kepada sahabat ini, apakah kamu berdoa minta sesuatu sama Alloh? Kok bisa sampai kayak begini kondisimu? Jawab sahabat ini, iya Rasulullah. Aku pernah berdoa, aku mengatakan, ya Alloh, sanksi yang akan kau berikan kepadaku di akhirat, tolong Kau segerakan buat aku di dunia. Nabi kaget. Lantas apa kata nabi saw? Kau gak akan mampu menerima itu! Kenapa kau gak minta kesembuhan dari Alloh?! Kenapa kau gak doa, ya Alloh minta kebahagiaan di dunia dan akhirat dan diselamatkan dari api neraka?! Jangan minta bala!
Karena kita gak tau apakah kita akan sabar saat terkena bala, jamaah. Ada seorang sahabat, subhanalloh jamaah, yang karena nggak tahan sama bala, akhirnya ia su’ul khotimah. Kejadiannya pada satu peperangan. Para sahabat nabi yang lain melihat ada satu orang yang begitu heroiknya berperang. Sampai sahabat lain mengatakan, ya Rasulullah, hari ini tidak ada yang berperang seperti fulan. Artinya, hari ini harinya dia. Yang mana, kata Rasul saw? Yang itu, ditunjukkan lah orang itu. Apa kata Rasulullah? Orang itu di neraka tempatnya! Bayangkan, jamaah. Sahabat yang menunjukkan itu bingung dengan ucapan nabi. Yang semangat berjuang kayak gini aja masuk neraka, bagaimana dengan kita?? Maka diikuti orang ini. Dilihat. Ternyata setelah peperangan, dia itu terluka. Dan dia tidak tahan dengan lukanya. Lalu dia ambil pedang, dia taruh di dadanya, kemudian dia bunuh diri.

Apa hikmahnya? Di sini kita gak boleh minta bala, minta musibah disegerakan. Karena kita gak tau kalo kita kena bala, kita akan sesabar apa. Oleh karena itu jangan minta bala. Minta lah kesembuhan kepada Alloh jalla jallaluh.

Kemudian yang ke tujuh. Hendaklah ia mengetahui bahwa musibah itu sebenarnya obat buat penyakit hati. Musibah di badan, tapi hati yang sembuh, jamaah. Kita yang punya penyakit sombong, Alloh kasih sakit supaya kita sadar. Enggak, kita ini tidak tercipta dari besi. Bukan gatotkoco, otot kawat, tulang besi. Enggak. Jadi ternyata, musibah ini, penyakit ini, obat dari Alloh buat kita. Iya, ya. Ana dengan penyakit ini hilang rasa sombong ana, hilang kecongkakan ana. Jadi ana sadar, ana ini makhluk yang lemah. Dan tau Alloh ngasih ini semua memang udah pas segitu. Kita kalo ke dokter, kan dikasih obat yang pas sama dokter. Dokter bilang, ini diminum tiga kali sehari. Kalo kita minum lima kali, over dosis. Artinya, sudah lah kita yakin saja bahwa Alloh itu lebih tau kalo obat ini untuk kita.

Kemudian yang ke delapan. Hendaklah mengetahui kalo penyakit ini akan berakhir. Semuanya akan berakhir, jamaah. segelap apapun malam, akan berakhir dengan terbitnya mentari di pagi hari. Kita tau, fa innamal ‘usri yusroo, setelah kesulitan itu akan ada kemudahan. Jadi memang pahiiit di awal. Tapi biasanya setelah pahit itu apa? Sembuh, jamaah. Permisalannya kayak dokter yang mau menyuntikkan obat ke dalam tubuh kita. Mas, ini sakit banget lho. Apa kata kita? Gak apa-apa, dok. Kenapa? Karena kita mau sembuh. Maka kita siap diapakan saja sama dokter. Mas, ini harus dipotong kakinya. Kalo enggak, bisa menjalar. Gak apa-apa, dok. Potong, dok. Jangan sampe berlanjut. Karena dia tau, walaupun pahit tapi sebenarnya manis. Kalo enggak dipotong akhirnya akan menjalar dan  semua badannya akan membusuk. Kita harus siap, jamaah. Sama dokter aja kita siap. Kenapa kalo Alloh yang kasih musibah kita masih ragu?!

Yang ke sembilan. Hendak lah ia mengetahui kalo musibah itu datang bukan untuk menghancurkan dia. Bukan. Tapi musibah datang itu untuk menguji kesabarannya. Jadi jangan ngomong kalo Alloh nggak suka sama kita. Jangan. Wallohi, Alloh tidak mau menghancurkan hamba Nya. Alloh tuh cinta sama hamba Nya. Makanya Alloh ingin semua hamba Nya masuk surga. Sehingga dikasih bala. Firaun dikasih bala, dikasih berbagai macam musibah agar balik ke Alloh. Tapi gak balik-balik. Gak sadar-sadar. Itu dia malah jadi sombong. Dikasih sakit tetap sombong. Dikasih petaka, malah makin congkak. Maka ingat, musibah yang datang itu bukan untuk menghancurkan kita tapi untuk membangun dan meninggikan kita.

Kemudian yang terakhir, yang ke sepuluh. Ibnu qoyyim mengatakan, hendaklah dia tahu bahwa Alloh mendidik hamba Nya dengan keluasan rizkinya, dengan kesehatan, dengan nikmat-nikmat sebagaimana Alloh mendidik hamba Nya dengan musibah-musibah juga. Artinya tujuannya tadi untuk melihat antum bersyukur gak kalo dapet nikmat. Antum bersabar gak kalo dapet musibah. Sehingga hamba itu lengkap. Jadi pahala dia itu bukan hanya pahala syukur. Tapi juga pahala sabar.
Maka kembali kenapa para nabi itu balanya paling berat? Karena supaya mereka mendapatkan kelengkapan pahala. Dan nabi saw kalo bicara syukur itu sampai kakinya bengkak, jamaah. Beliau sholat karena ingin bersyukur. Tapi di satu sisi beliau juga bersabar. Pernah beliau saw berhari-hari tidak makan. Beliau bersabar dilemparin batu sama orang-orang di thaif. Beliau bersabar. Beliau terluka, patah giginya ketika perang uhud. Beliau bersabar. Maka ada juga yang menanyakan, kenapa kok nabi nggak kebal? Perhatikan, jamaah. Karena Alloh ingin memberikan kepada nabi pahala yang sempurna. Pahala sabar dan pahala syukur nabi dapat.

Wallohu a’lam bish showwab.

Sabtu, 15 September 2018

JANGAN TERPEDAYA DUNIA


Judul               : JANGAN TERPEDAYA DUNIA
Oleh                : Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah
Sumber            : Channel Youtube – Syafiq Riza Basalamah Official
Editor              : Fiqih Fahlevi


Assalamu’alaikum warah matullah wabarakatuh.

Segala puji bagi Alloh jalla jallaluh yang mengumpulkan kita di atas petunjuk dan ketakwaan. Kita melihat manusia memiliki perkumpulan-perkumpulan. Manusia berkelompok-kelompok. Tapi terkadang, yang mengumpulkan mereka adalah sesuatu yang kurang bermanfaat dalam kehidupan ini. Ada yang berkumpul karena merk mobilnya sama, ada yang membuat kelompok karena merk motornya sama, tapi kita berkumpul pada pagi hari ini di rumah Alloh ini, karena kita semua adalah hamba Alloh jalla jalllaluh. Alloh menjadikan kita bersaudara. Walaupun kita tidak dilahirkan dari satu rahim ibu kita.

Ya Alloh, semoga shalawatMu, semoga salamMu, senantiasa Engkau curahkan untuk hamba kekasihMu, untuk nabi kita baginda Nabi Muhammad saw. Semoga Alloh mengumpulkan kita bersama beliau, dan mati di atas sunnah beliau saw.
Amma ba’du.

Jamaah, tadi kita mendengar imam membaca surat al qiyamah. Di tengah-tengah surat itu Alloh mengatakan, sekali-kali kalian itu benar-benar mencintai dunia. Mencintai sesuatu yang ada sekarang ini. Dan meninggalkan akhirat. Alloh menjelaskan tentang bagaimana manusia bahwa kebanyakan manusia itu, mencintai dunianya. Akhirat?! Mungkin tidak ada dalam benaknya. Kecuali tatkala ada waktu, mungkin dia baru berpikir tentang akhiratnya.

Sekarang ini lagi musim haji. Tahun ini, 70% jamaah haji Indonesia beresiko tinggi. Usianya rata-rata sudah tua. Sudah sepuh. Masya Alloh. Di antara mereka yang sepuh-sepuh ini, mungkin memang ada yang baru mampu sekarang. Sehingga baru wajib haji ketika mampu. Mampunya umur 60 tahun, ya berangkat umur 60 tahun. Tapi ada juga yang kemampuannya sudah ia dapatkan sejak umur 30 tahun tapi gak berangkat haji. Kenapa?! Belum dapat panggilan, katanya. Masya Alloh. Emangnya nabi Ibrahim belum manggil tuh dari dulu?? Padahal kata Alloh kepada nabi Ibrahim, Engkau umumkan kepada manusia itu supaya datang haji! Semua sudah dipanggil. Cuma engkau gak mau berangkat. Hanya mau berangkat ketika engkau sepuh. Haji sudah tidak lagi sempurna pelaksanaannya. Karena beda, yang sehat dan muda, dengan yang sakit lagi tua.

Alloh mengatakan, kalian benar-benar lebih mementingkan kehidupan dunia. Kalian lebih mementingkan memiliki mobil, kalian lebih mementingkan membangun rumah, kalian lebih mementingkan menambah modal diusaha kalian, daripada akhirat kalian. Maka jarang kita mendapati jamaah haji itu muda. Karena berpikirnya berangkatnya kalau tua saja. Ada juga yang menunda berangkat haji karena anaknya masih kecil. Ternyata lima tahun ke depan dia punya anak lagi. Maka kita koreksi diri kita lagi, jamaah. Apa sih yang menyebabkan kita terpana dengan dunia ini?

Alloh jalla jallaluh menjadikan kehidupan dunia ini tempat bercocok tanam untuk akhirat. Artinya tidak ada manusia yang bisa masuk ke surga kecuali melewati dunia ini. Di sini Alloh menciptakan kita untuk beramal. Namun, dibanyak ayat, Alloh seringkali mewanti-wanti kita, awas, sama dunia ini! Kalau antum dikatakan, awas, antum akan berhati-hati. Orang ketika diberi peringatan, dia berhati-hati. Dan Alloh berulang kali mengingatkan kita dengan kondisi dunia ini. Kadang kala dengan memberikan contoh dan Alloh memisalkan dunia ini dengan air. Ada di surat Yunus ayat 24, di surat al kahfi ayat 45. Alloh mengatakan di surat al kahf ayat 45, berikan kepada mereka permisalan kehidupan di dunia ini. Kita ini berada di dalamnya. Sehingga kita memerlukan permisalan. Yaitu, seperti air yang Kami turunkan dari langit.

Kenapa sih Alloh permisalkan dunia ini seperti air? Karena, air itu turun. Kemudian masuk ke dalam tanah. Bercampur dengan akar-akar pohon. Maka tanaman-tanaman jadi tumbuh yang membuat orang terkesima. Namun ketika tanaman-tanaman itu sudah dipanen, batangnya jadi coklat dan mengering. Maka antum sudah tidak terkesima lagi. Maka, seperti itulah kehidupan dunia. Alloh itu maha kuasa atas segala sesuatu. Lalu Alloh sebutkan tentang perhiasan kehidupan dunia yang membuat kita jadi terpedaya. Yang membuat banyak orang sibuk mengumpulkan perhiasan dunia. Maka Alloh ingatkan, amal-amal soleh, ucapan-ucapan baik itu jauh lebih baik di sisi Rabb mu. Lebih banyak pahalanya dan lebih banyak harapannya daripada kehidupan dunia ini.

Jamaah rahimakumullah, al imam qurtubi menyebutkan, kenapa dunia ini dipermisalkan dengan air?  Beliau mengatakan, yang pertama, air itu gak akan berhenti di suatu tempat. Gak akan menetap di suatu tempat. Air itu mengalir. Begitu pula dunia. Dunia itu tidak akan berada dalam satu kondisi. Hari ini antum tertawa, hari ini antum bersyukur, hari ini antum berbahagia dan antum menampakkan kebahagiaan itu. Tapi besok, boleh jadi kondisi itu berubah. Antum harus siap. Yang hari ini sukses, antum akan meninggalkan kesuksesan antum. Siapa yang tahu? Itulah dunia. Seperti air. Dia terus jalan. Kadang kala dia keruh, kadang kala jadi jernih lagi. Maka jangan terpedaya.

Kemudian yang kedua, air itu pergi tidak ada yang menetap. Begitu pula dunia ini akan pergi. Fana dunia ini. Gak kekal. Maka Alloh katakan, yang ada pada diri kalian itu, semua akan pergi. Akan hilang. Apa saja. Subhanalloh, jamaah. Itulah dunia.

Yang ketiga disebutkan, orang kalau masuk ke air pasti basah semua. Gak ada yang seperti daun talas yang bisa melawan air. Maka orang yang terjun ke dunia ini pasti dia akan basah. Alloh sudah menetapkan, sudah ditanamkan di hati kita cinta syahwat dunia. Maka hati-hati. Tapi begitulah kehidupan ini. Sesaat engkau harus sibuk dengan dunia tapi jangan terjebak dengan dunia mu. Kau harus datang lagi, mengecas keimanan mu. Kayak sekarang kita datang untuk mengecas keimanan kita, jamaah. Supaya tidak terpedaya dengan dunia ini.

Kemudian yang keempat. Kata imam al qurtubi, air itu ketika sesuai dengan kadarnya yang dibutuhkan, maka ia bermanfaat. Tapi kalau sudah kelebihan, ia akan menghancurkan dan membinasakan. Ketika air hujan itu turun, misalnya, petani senang. Tapi ketika dua tiga hari hujannya nggak berhenti, hancur tanaman padinya. Ya, begitu juga dengan dunia. Kalo antum ambil dunia itu sesuai dengan kebutuhan antum, alhamdulillah, bermanfaat. Tapi kalau sudah berlebih, bisa membinasakan antum.

Antum lihat, berapa yang antum simpan di brankas besi antum. ketika orang memiliki penghasilan banyak tiap bulan, jangan sampai itu menjadi beban buat antum. Antum ambil secukupnya. Selebihnya lemparkan ke akhirat antum. Karena banyak orang yang kelebihan harta, pikirannya negatif. Kalo orang sholeh punya uang banyak mungkin pikirannya untuk ibadah. Tapi kalo orang nggak sholeh, pikirannya, na’udzubillah, berzina. Dia akan gunakan harta itu di tempat-tempat yang tidak diridhai Alloh jalla jallaluh.

Maka apa yang harus kita lakukan melihat dunia ini?

Yang pertama antum harus sadar bahwa dunia ini gak ada nilainya. Di sisi Alloh dunia ini tidak lebih dari satu sayap nyamuk. Bahkan Rasul saw mengatakan, kalau dunia ini nilainya di sisi Alloh setara dengan satu sayap nyamuk, orang kafir gak akan dikasih seteguk air. Oleh karena itu Alloh mengingatkan kita bahwa dunia ini kesenangannya sejenak. Kalau antum baca al quran nul karim, antum akan menemukan Alloh menjelaskan tentang dunia berulang kali. Alloh ingatkan terus. Tapi banyak di antara kita yang gak paham dengan apa yang diajarkan Alloh. Boleh jadi dia mendengar tapi gak paham.

Bicara tentang nilai dunia di sisi Alloh, subhanalloh, ada kisah, salah seorang khalifah dari bani umayyah yang pernah berkuasa di andalusia, suatu hari menyelesaikan pembangunan istana. Selesai istana dibangun, dipanggillah pejabat-pejabat negara. Semuanya memuji. Kemudian datang seorang alim ulama. Duduk di samping khalifah. Dia tidak berkomentar apapun. Setelah komentar dari semua pejabat selesai, maka ditanyalah ulama ini oleh khalifah, bagaimana pendapatmu mu? Kata ulama ini, ana heran wahai khalifah. Kok bisa-bisanya syaitan mempermainkanmu sampai seperti ini?? Sampai engkau bikin bangunan megah kayak begini. Apakah engkau tidak ingat dengan firman Alloh, dalam surat adz zukhruf ayat 33 – 35, Alloh menceritakan, andaikata Alloh tidak benci orang berkumpul dalam kekufuran, Kami akan jadikan buat orang-orang kafir itu atap-atap rumah mereka dari perak. Dibikin tangga-tangga yang mereka bisa naik ke rumah mereka tersebut. Kemudian dikasih pintu-pintu yang indah, di kasih sofa-sofa yang indah, dikasih perhiasan-perhiasan. Kata Alloh, tapi itu hanya kenikmatan dunia yang fana. Dan akhirat itu, di sisi Rabb mu, hanya untuk orang-orang yang bertakwa.

Maka kalau kita lihat, Alloh membagi dunia ini kepada semua orang. Jadi jangan berpikir, kalau antum kaya, antum dicintai Alloh. Kalau antum sukses, menjadi seorang pejabat, memiliki harta berlimpah, atau sebagai pengusaha yang memiliki banyak usaha, dihormatin oleh manusia, antum berpikir antum dicintai Alloh, enggak. Dalam sebuah hadist nabi saw mengatakan, Alloh berbagi dunia ini kepada orang yang Alloh cintai dan kepada yang Alloh tidak cintai. Alloh berikan dunia ini kepada qorun, fir’aun, namrud. Alloh kasih kepada mereka sebagai orang yang durhaka. Dan Alloh berikan pula kepada orang sholeh seperti nabi sulaiman as dan nabi Daud as. Artinya dunia ini bukan tolok ukur kecintaan Alloh kepada kita. Sama sekali bukan, jamaah. Tapi Alloh tidak berbagi iman kecuali kepada orang yang Alloh cintai. Jadi, kalau Alloh bikin antum bisa qiyammul lail, insya Alloh, Alloh cinta sama antum. Karena Alloh tidak berbagi iman kecuali kepada orang yang Alloh cintai.

Jamaah rahimakumulloh. Ada dalam dunia ini yang indah yang bisa kita cari. Ketika turun firman Alloh yang berkaitan dengan emas dan perak, Alloh mengatakan, sesungguhnya orang-orang yang menimbun harta, kemudian dia tidak menafkahkannya di jalan Alloh, berikan kabar gembira kepada mereka tentang azab yang pedih pada hari kiamat. Ketika turun ayat itu, Rasul saw mengatakan, celaka emas dan perak itu. Lalu dalam satu riwayat, umar ra berdiri, ya Rasulullah, kenapa ya Rasulullah? Kok celaka orang yang menumpuk emas dan perak? Terus apa yang kita cari dalam dunia ini? Rasul saw menyebutkan ada tiga kenikmatan dunia yang harus diburu: yang pertama, lisan yang pandai berdzikir. Yang kedua, hati yang pandai bersyukur. Dan yang ketiga, pasangan hidup yang sholehah. Yang membantu suaminya dalam urusan akhirat. Maka silahkan kita memandang dunia ini dengan kacamata yang benar. Karena dunia ini sarana mencari bekal di akhira nanti.
Di surat al imran ayat 185 Alloh mengatakan, semua yang bernyawa itu akan merasakan kematian. Dokter yang ngobatin, mati. Apoteker yang bikin obat, mati. Semuanya mati. Yang bayi, yang remaja, yang tua, akan merasakan kematian. Itu sudah ketetapan Alloh jalla jallaluh. Maka jangan cari keabadian di muka bumi ini. Apapun pekerjaan mu, di manapun engkau menjabat, engkau bakal mati. Maka jangan sampai antum terpedaya. Kalian, akan mendapatkan pahala kalian sempurna pada hari kiamat nanti. Asalkan antum tidak melakukan hal-hal yang memotong pahala antum.

Kalau mau bicara kesuksesan, siapa sih orang yang sukses? Siapa sih orang yang beruntung? Siapa sih orang yang pantas dimasukkan ke surga? Kesuksesan sebenarnya adalah barangsiapa yang dijauhkan dari azab api neraka dan dia dimasukkan ke dalam surga Alloh jalla jallaluh. Kemudian kata Alloh, kehidupan dunia ini hanya kenikmatan sementara yang menipu.

Oleh karena itu nabi saw pernah bertanya kepada para sahabat, siapa di antara kalian, yang harta orang lain lebih dicintai daripada harta kalian sendiri? Mungkinkah jamaah, antum cinta sama harta tetangga antum? Adakah orang seperti itu?! Kata para sahabat, enggak ada ya Rasul saw. Semua orang lebih cinta sama hartanya sendiri. Kalian tau harta kalian yang mana? Yang kalian makan kemudian jadi kotoran. Yang kau pakai, kemudian jadi usang. Yang engkau sedekahkan kemudian engkau simpan. Yang selain itu engkau akan tinggalkan. Dan itu realitanya, jamaah. Ya, banyak orang seperti itu. Hanya kesenangan yang menipu.

Maka jamaah rahimakumulloh, bagaimana menyikapinya? Jangan berambisi dunia. Antum silahkan cari dunia. Karena tiap pagi pun nabi saw berdoa, Allohumma inni asaluka ‘ilman naafi’an wa rizqon toyyiban wa ‘amalan muttaqobalaa, tiap hari beliau baca itu. Beliau minta rizki. Tapi antum tidak boleh berambisi dunia. Orientasi antum gak boleh dunia. Alloh mengatakan dalam surat al isra, barangsiapa yang berambisi dunia, kita akan berikan bagi dia apa yang Kami kehendaki. Kemudian Kami jadikan bagi dia neraka jahanam yang dia akan dimasukkan dalam kondisi dia terhina dan susah di sana, jamaah. Kenapa? Karena ambisinya dunia. Sebagian orang ibadah tapi cari dunia. Cari pujian orang, yang dia inginkan ketenaran, popularitas. Alloh kasih.

Tapi barangsiapa yang ambisinya akhirat, dan dia berusaha untuk meraih akhirat itu, dan dia orang yang beriman, maka orang-orang itu akan Alloh syukuri usaha-usaha mereka. Ada orang bekerja punya 10 perusahaan. Dia memiliki ladang sawit 40 ribu hektar. Tapi yang dia cari akhirat, bukan dunia. Dia berusaha. Jadi, orang yang cari akhirat itu bukan yang diam aja, jamaah. Bisa jadi dia sosok orang kaya raya tapi orientasi mencari uangnya adalah untuk akhirat. Semua hasilnya untuk Alloh. Tapi kita juga jangan hasad. Karena dunia tidak datang keculai sesuai yang Alloh takdirkan buat dia.

Maka antum perlu menata hati. Memahami hakikat dunia ini. Memahami keberadaan antum di muka bumi ini. Kemudian antum tanamkan ambisi di dalam jiwa antum, ana mau cari akhirat. Karena boleh jadi di dunia ini mungkin ana hanya hidup sebentar.

Wallohu a’lam bish showwab.

Rabu, 12 September 2018

SYUKUR, RIDHA, DAN QONA'AH YANG PUDAR


Judul               : SYUKUR, RIDHA, DAN QONA'AH YANG PUDAR
Oleh                : Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah
Sumber            : Channel Youtube – Syafiq Riza Basalamah Official
Editor              : Fiqih Fahlevi


Assalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh.

Segala puji bagi Alloh Jalla Jallaluh yang karena nikmatnya, kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Yang karena RahmatNya niat-niat baik hamba dapat terlaksanaa. Segala keberhasilan yang kita capai, segala keindahan yang kita lihat, segala kenikmatan yang kita rasakan, semua itu murni karunia Alloh kepada hambaNya. Maka tidak sah sholat seorang hamba tanpa ia berucap alhamdulillahi robbil ‘alamin.

Ya Alloh, semoga shalawatMu, semoga salam, berkah, dan nikmatMu, senantiasa Engkau curahkan untuk hamba kekasihMu. Untuk manusia terindah yang pernah menginjakkan kakinya di muka bumi ini. Untuk hamba Alloh yang diutus sebagai rahmatan lil’alamin. Baginda nabi Muhammad saw. Dan untuk keluarga beliau, untuk istri-istri beliau, untuk putra-putri beliau, dan untuk seluruh sahabat nabi. Semoga Alloh meridhai kita bersama mereka.

Amma ba’du.

Jamaah rahimakumulloh, wallohi jamaah, kita ini kadang kala banyak meninggalkan amalan-amalan yang sejatinya ringan dan mudah. Rasul saw, beliau mengajarkan kepada kita semua kebaikan. Kita tidak perlu merasa kesulitan mengamalkan agama Alloh ini. Tidak perlu berpikir. Hanya perlu mengamalkan. Mereka meremehkan sunnah, memudah-mudahkan sunnah, padahal sunnah ini yang membuat Alloh cinta sama kita. Kata Alloh jalla jallaluh, ketika berbicara tentang amalan yang paling Alloh cintai adalah amalan yang wajib. Kemudian hamba Ku ini melanjutkan amalannya dengan menambahkan amalan-amalan yang sunnah, kata Alloh, hamba Ku terus mendekatkan dirinya kepadaKu dengan yang sunnah-sunnah sehingga Aku cinta kepada dia. Jadi kalau kita ingin dicintai Alloh, maka berusahalah untuk mengamalkan sunnah.

Jamaah, malam ini kita akan membahas tentang syukur. Sebagian orang berpikir, ustadz, sudah sering kajian tentang syukur. Udah ramai kuliah tentang ridha. Ketahuilah bahwa yang diusahakan syaitan ketika dikeluarkan dari surga, dia mengatakan kepada Alloh, di surat al a’raf ayat 17, aku akan mendatangi manusia, menggoda manusia, dari depan mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dari kiri mereka, dan Engkau ya Alloh, akan mendapati kebanyakan manusia tidak bersyukur.

Apa yang menyebabkan banyak wanita masuk neraka? Kurang bersyukur. Dan Alloh menyebutkan, dan sedikiiit dari hamba-hambaKu yang pandai bersyukur. Di surat azzumar ayat 66 Alloh mengatakan, beribadahlah hanya kepada Alloh dan jadilah orang-orang yang bersyukur.
Malam ini kita akan bicara tentang tingkatan di atas syukur yaitu ridha kepada Alloh jalla jallaluh. Orang yang bersyukur kepada Alloh adalah orang yang ridha dengan pemberian Alloh jalla jallaluh. Kita melihat dimasa kini banyak manusia putus asa. Peristiwa tentang orang-orang yang bunuh diri itu banyak sekali. Sebagian karena putus cinta, sebagian karena putus kerja, sebagian karena punya hutang berlebih sehingga ia tidak mampu melunasinya, akhirnya ia bunuh diri, dan lain-lain. Ketika keridhan dengan Alloh itu hilang, manusia akan saling hasad, akan saling iri, dan dengki. Tidak boleh melihat orang lain berbahagia. Melihat kawannya ganti mobil, dia sakit perut dua hari. Ada apa? Karena dia tidak ridha, jamaah. Banyaknya pencurian, banyaknya perampokan, banyaknya orang-orang yang marah, yang emosi, yang tak bisa kontrol diri, disebabkan karena hilangnya sikap qona’ah dari diri dia.

Kalau kita bicara qona’ah, apa sih arti qona’ah itu? Para ulama mengatakan, qona’ah adalah ridha dengan apa yang Alloh beri. Ridha dengan apa yang Alloh tentukan. Ridha dengan pembagian Alloh. Qona’ah adalah mencukupkan diri dengan yang ada dan tidak ingin hal yang tidak ada. Misal, kita makan di restoran. Udah dikasih cumi bakar, tom yam, dan segala macam di situ. Ketika dia makan, dia mengatakan, ooo, ada yang lebih enak dari ini. Ada di kedai fulan. Berarti dia tidak bersyukur dengan yang ada di depan dia. Yang namanya qona’ah itu, yang enak, yang lezat, yang ada di depan kita. Contoh lain, kita naik mobil. Melihat orang lain mobilnya lebih bagus, lalu hati kita berkata kapan ya ana naik yang seperti itu? Tidak ridha, jamaah. Tidak qona’ah. Sehingga orang yang seperti ini, hidupnya susah.

Kemudian qona’ah itu mencukupkan diri dengan apa yang ia miliki. Dan tidak tamak dengan apa yang tidak ia miliki. Kemudian, jamaah, qona’ah itu dipenuhinya hati dengan keridhaan dan tidak suka mengadu kepada orang. Sebagian di antara kita ini, ada masalah sedikit dia cerita sama orang tuanya. Ia cerita sama temannya. Selalu dia mengadukan sesuatu yang susah. Tapi dapat nikmat, dia tidak cerita. Maka jamaah rahimakumulloh, ingat, qona’ah ini diperlukan oleh orang kaya dan diperlukan juga oleh orang miskin.

Jamaah rahimakumulloh, siapa yang tahu luasnya pintu surga? Kalau surganya itu luasnya seluas langit dan bumi. Itu surganya. Kalau pintunya? Berapa jumlah pintu surga jamaah? Delapan. Satu pintu surga itu berapa luasnya? Kira-kira 900 mil atau 1200-an km. itu pintu surga. Nanti, pintu yang seluas itu, kata nabi saw, pintu itu akan ramai manusia berdesak-desakan di pintu itu. Semoga kita menjadi salah satu di antara orang-orang yang berdesak-desakan itu.

Ingat, orang kaya memerlukan qona’ah. Bagaimana qona’ahnya orang kaya? Qona’ahnya orang kaya adalah dengan cara dia ridha dengan apa yang telah Alloh berikan dan dengan mensyukuri. Syukur itu dengan hati, lisan, dan dengan perbuatan. Dia tidak zalim dan tidak mengingkari nikmat yang Alloh berikan. Dia tidak memasukkan harta ke dalam hatinya. Qona’ahnya orang kaya itu, hartanya tidak ada di hati. Melainkan di tangan. Gak boleh hartanya itu masuk ke hati. Sehingga, ketika kekayaan atau harta masuk ke hati, sebagian orang kaya jadi budak harta. Bukannya dia yang memiliki harta tapi harta yang memiliki dia. Harta yang menguasai dia. Na’udzubillah.
Adapun qona’ahnya orang kaya lagi, ada orang yang banyak hartanya, memiliki rumah yang tidak bisa dihitung saking banyaknya, tapi dia tidak menipu orang lain, tidak makan makanan yang haram, dia tidak sombong, tidak meremehkan orang lain, kalau dia bertambah rizkinya dia berbagi, kalau dia mendapati kerugian dalam perdagangannya dia ridha, orang ini adalah termasuk orang kaya yang qona’ah.

Lalu, bagaimana qonaahnya orang miskin? Yaitu dengan cara merasa cukup dengan apa yang telah Alloh berikan, berserah diri, dan sabar terhadap musibah. Dia juga tidak suka marah-marah, jamaah. Sebagian orang, ketika punya masalah di luar rumah, yang dimarahi istrinya. Yang dimarahi anaknya. Qonaahnya orang miskin, dia tidak memandang ke atas. Tapi dia memandang ada yang di bawah dia. Qonaahnya orang miskin dia tidak minta-minta. Karena kalau orang sudah sampai tingkat meminta-minta padahal sejatinya dia itu cukup, maka dia tidak qonaah.

Keutamaan qonaah, Rasulullah saw mengatakan dalam hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim dari abdullah bin amr bin ash, beliau bersabda, telah sukses, telah berhasil, telah beruntung, orang yang masuk islam. Ini kesuksesan, jamaah. Kita dikasih hidayah masuk islam, alhamdulillah. Yang kedua, diberi rizki yang cukup dan Alloh bikin dia qonaah dengan apa yang telah Alloh berikan. Menerima dia. Mau banyak, mau sedikit, terima. Karena ada orang kaya raya yang tidak qonaah. Buktinya apa? Dia makan yang haram. Dia makan riba. Dia menipu orang. Padahal hartanya kaya raya. Tapi ada orang biasa yang Alloh kasih qona’ah. Oleh karena itu imam syafi’I mengatakan, apabila engkau memiliki hati yang qonaah, engkau dan raja yang paling kaya di dunia ini, merasakan hal yang sama. Asalkan punya hati yang qonaah.

Rasulullah saw mengatakan, ridha-lah engkau dengan apa yang telah Alloh berikan kepada mu. Maka engkau akan menjadi orang yang paling kaya. Ada orang, masya Alloh, tak punya mobil, tak punya motor, tapi dia orang paling kaya di muka bumi ini, jamaah. Kata Rasul saw, barangsiapa di antara kalian yang merasa aman di rumahnya, di keluarganya, tidak ada yang ganggu dia, badannya sehat, tidak sakit, dia memiliki makanan hari itu. Apa kata nabi saw? Seakan-akan dunia dan isinya milik dia. Subhanalloh, jamaah.

Bagaimana dengan sebagian orang yang masih mengeluh? Masih mengadu? Padahal dia punya makanan sampai tahun depan. Dia punya tabungan sampai bulan depan. Masih saja mengeluh. Tidak ada syukurnya. Kenapa? Karena dia tidak qona’ah.
Abu hatim ra, dia berpesan, qonaah itu tempatnya di mana? Di hati. Bukan di tangan. Ingat, qonaah itu letaknya di hati. Barangsiapa yang hatinya kaya, tangannya akan kaya. Walaupun tak punya apa-apa. Barang siapa yang hatinya fakir, maka kekayaannya tidak akan berguna buat dia. Barangsiapa yang qonaah, dia tidak akan mengeluh, jamaah. Tidak akan marah-marah. Tidak akan emosi. Hidupnya damai dan tentram. Tapi orang yang tidak qonaah, maka gak ada gunanya dia memiliki harta yang banyak. Terkadang ia kehilangan mobilnya, kehilangan rumahnya, tapi tidak qonaah, tidak akan bersyukur kepada Alloh jalla jallaluh.

Sekarang, bagaimana cara kita mendapatkan qonaah?

Karena kalau bicara qonaah, sangat mudah sekali diucapkan. Tapi bagaimana kita meraihnya? Apa saja langkah-langkah yang harus kita kerjakan agar kita mendapat sifat qonaah? Yang katanya, qonaah itu harta tersimpan yang tidak habis?


Yang pertama, iman dan keyakinan yang penuh bahwa yang membagi rizki adalah Alloh. Yakin kalau Alloh yang bagi rizki. Tadi kita sampaikan hadist Rasul saw, wahai ummat manusia, bertakwalah kalian kepada Alloh dan carilah rizki dengan cara yang baik. Manusia tidak akan mati sampai rizkinya sempurna. Jadi jangan takut antum. antum gak bakalan mati kecuali rizkinya sudah sempurna. Lalu beliau mengatakan, walaupun rizkinya lambat datangnya. Ada orang yang tujuh tahun hidup miskin, tapi sekarang antum bisa melihat dia mulai sukses. Tapi ada juga orang yang sampai mati hidupnya miskin. Tapi bisa jadi dia orang yang qonaah. Dia tidak pernah tergoda melihat orang yang lebih kaya dari dia. Kenapa? Karena dia tau yang bagi rizki adalah Alloh jalla jallaluh.
Amir ra, seorang sahabat nabi mengatakan, ada empat ayat di dalam al quran nul karim, kalau aku membacanya di sore hari, aku gak peduli sore hari nanti kayak apa. Kalo aku membacanya di pagi hari, dan pagi itu jadi apa, aku juga nggak peduli. Empat ayat itu adalah:

Yang pertama, di surat Fathir ayat 35, Alloh mengatakan, apa yang Alloh buka dari RahmatNya, enggak ada yang bisa nutup Rahmat Alloh. Walaupun seluruh penduduk bumi bersatu untuk menutupnya, nggak akan ada yang bisa. Tapi kalau Alloh menutup rahmatNya, andai seluruh penduduk bumi ini ingin membukanya, mereka tidak akan pernah bisa. Kita yakin berarti Alloh yang berbagi rizki.

Yang kedua di surat Yunus ayat 107. Alloh mengatakan, apabila Alloh menginginkan kebaikan buat mu, maka tidak ada yang bisa menolak kebaikan Alloh. Tidak bisa, jamaah. Kita yakin, Alloh yang membagi. Alloh itu membagi rizki kepada siapa saja yang Alloh kehendaki. Jadi kita gak perlu melihat orang, kenapa ya fulan ini jarang ke masjid tapi kok fulusnya banyak?! Dia tahu, yang membagi itu Alloh.

Yang ketiga di surat Hud ayat 6. Alloh mengatakan, tidak ada sesuatu pun yang melata di muka bumi ini melainkan Alloh yang menanggung rizkinya. Semuanya. Alloh tau rizkinya ada di mana. Kapan dia kaan mendapatkannya. Alloh tau. Kita gak tau. Artinya hidup kita udah tanang. Hari ini, kalau umur masih ada, berarti kita akan makan. Kalau umur tidak ada, selesai jamaah.

Yang keempat di surat attholaq ayat 7. Alloh mengatakan, Alloh akan menjadikan setelah kesulitan, kemudahan. Jadi kalau suatu hari antum hidup sulit, yakin, sebentar lagi akan ada kemudahan.
Itu yang pertama. kalau kita mau qonaah, yakinlah bahwa yang membagi rizki adalah Alloh jalla jallaluh.


Yang kedua, mengingat kalau dunia ini akan habis. Dunia ini fana. Dunia ini hanya permainan. Yang sekarang memiliki apartemen 100 tingkat, tau-tau dia mati, ditinggal apartemennya. Tatkala kita yakin bahwasanya dunia ini hanya permainan dan apa yang dimilikinya akan ditinggalkan selama-lamanya, maka dia akan qonaah. Orang yang kaya tidak akan sombong. Karena ia tahu bahwa akhir hidupnya adalah kematian. Di surat al kahfi Alloh mengatakan, sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di muka bumi ini perhiasan dunia untuk menguji siapa yang paling baik amalannya. Yang terpenting kata Alloh, semua yang ada di muka bumi ini, semuanya akan rata sama tanah. Dengan kita mengingat itu, kita akan qonaah, jamaah. Jadi, kenapa ana harus bersusah-susah? Kenapa ana harus sakit hati? Kenapa ana harus hasad? Toh apa yang dimiliki oleh orang lain akan hilang juga. Semua akan hancur. Rasul saw mengingatkan kita akan tidak bergunanya dunia ini dengan gambaran bangkai. Pernah suatu hari Rasul saw melewati pasar. Dari arah quba beliau jalan, menuju arah masjid nabawi. Di jalan pasar itu ada bangkai anak kambing yang cacat. Lalu beliau saw memegang telinganya bangkai kambing itu. Beliau mengatakan, seperti orang yang sedang berjualan, siapa yang mau beli bangkai ini satu dirham?! Siapa yang mau?! Para sahabat bingung, ya Rasulullah, bangkai?? Kata Raulullah lagi, Siapa yang mau? Gratis! Ya Rasulullah, kalau bangkai anak kambing ini hidup pun ia cacat. Gak ada yang mau beli. Apalagi sudah menjadi bangkai. Kata Rasulullah kemudian, begitulah dunia Dunia ini lebih rendah di sisi Alloh daripada bangkai kambing ini. Maka kita yakin bahwasanya dunia ini akan ditinggalkan, jamaah.

Yang ketiga, agar kita qona’ah adalah melihat kepada yang lebih rendah dari kita. Dari harta, jabatan, kedudukan, kita tidak boleh melihat kepada yang di atas kita. Tapi ini berbeda dengan urusan ibadah. Kalau ibadah kita gak boleh qona’ah. Justru harus berlomba-lomba. Kalau urusan dunia, kita harus qona’ah. Berbeda dengan training-training yang diadakan oleh motivator-motivator masalah ekonomi. Mereka selalu menyuruh kita melihat kepada yang di atas. Sedangkan kita, kebalikannya. Kita harus melihat kepada orang-orang yang di bawah kita. Ketika antum sakit, misalnya. Jangan antum melihat kepada yang lagi sehat. Tapi lihatlah kepada yang sakitnya lebih parah dari antum. Rasulullah saw dalam hadist riwayat Muslim mengatakan, lihatlah, pandanglah, kepada yang di bawah kalian. Jangan memandang yang di atas kalian. Karena itu akan lebih memotivasi kalian agar selalu bersyukur. Dan tidak merendahkan nikmat yang Alloh berikan.

Sebagian muslimat, sebagian istri-istri, terkadang, kalau dia pulang dari rumah temannya yang kaya raya, dia bikin sakit hati suami. Dia cerita, bang, tadi aku lihat sofa yang ada di rumah fulanah, ya Alloooh, bagus banget bang. Terus? Ya, kita gantilah kursi kita. Itulah, dampak melihat kepada yang di atas. Tapi kalau kita melihat ke bawah, Allohu Akbar, adem jamaah. Maka ini penting. Agar kita qonaah. Sesekali datanglah antum ke rumah orang miskin. Istri dan anak kita juga diajak. Karena kadang kala kita punya anak, karena dia berteman dengan sebayanya yang kaya, dia jadi tidak bersyukur dengan pemberian ayahnya. Anak pun ketika ia memandang ke atas, ia tak akan bersyukur. Maka kita perlu ajarin. Sesekali anak kita, kita bawa. Lihat nak, dia gak ada uang saku. Lihat, makannya hanya nasi dan garam. Maka jamaah, ketahuilah, bahwa di dunia ini, kalau antum susah, ada yang lebih susah dari antum. Kalau antum sakit, ada yang lebih sakit dari antum. Sehingga kita jadi qona’ah dengan takdir yang Alloh berikan buat kita. Kadang kala ada yang kena penyakit kanker dia putus asa dalam kehidupannya. Ajak dia ke rumah sakit kanker. Pulang dari rumah sakit, insya Alloh dia akan mengatakan, alhamdulillah ya, aku masih bisa jalan, aku masih bisa makan. Ini penting, jamaah. Untuk menumbuhkan qonaah. Sistem yang ada di dunia sekarang, perumahan orang kaya isinya hanya orang kaya saja. Tidak ada orang miskin. Kehidupan materialistis, yang dipikirkan hanya harta, jamaah. Maka tolong kita melihat kepada yang di bawah kita.


Kemudian yang keempat, mendidik jiwa kita untuk hemat mengeluarkan harta dan tidak berlebih-lebihan. Tidak mubadzir. Ada peribahasa, besar pasak daripada tiang. Jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada penghasilan. Alloh berfirman, kalian makan, kalian minum, dan jangan berlebih-lebihan. Makan secukupnya, minum secukupnya. Rasul saw mengatakan, silahkan engkau makan, silahkan engkau minum, berpakaian, sedekah, tapi dengan syarat dua: tidak sombong dan tidak berlebihan. Rasul saw mengatakan, sekali-kali kita tidak menunjukkan kemewahan. Contohnya, ada orang yang biasanya selalu pakai mobil. Sesekali, naiklah angkutan umum. Sesekali jalan kaki. Ada orang yang selalu pakai baju bagus. Sesekali pakailah baju yang tidak bagus. Di situ akan menumbuhkan perasaan tawadhu, qona’ah, ridha, dan tidak sombong, Jamaah.


Yang kelima, meyakini bahwa Alloh menjadikan perbedaan dalam pembagian rizki itu untuk hikmah. Ada yang kaya, ada yang miskin. Di surat adz dzukruf ayat 32, Alloh mengatakan, apakah mereka yang bagi-bagi rahmat Alloh? Yang bikin fulan kaya dan yang bikin fulan miskin? Alloh katakan, Kami yang bagi. Sehingga antum gak boleh hasad. Karena Alloh yang bagi. Sebagian orang Alloh angkat derajatnya dari sebagian yang lain. Sehingga ada atasan, ada anak buah. Alloh jadikan seperti itu agar kehidupan ini berjalan. Kalau semuanya jadi bos, siapa yang anak buah? Kalau semuanya orang kaya, siapa yang akan menanam? Siapa yang akan membangun rumah? Kalau semua punya mobil dan tidak ada yang perbaiki mobil, siapa yang akan memperbaiki mobil yang rusak? Ada hikmah di balik itu semua. Alloh yang melakukannya. Dan Alloh sebutkan, rahmat Alloh itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. Jadi, apabila kita tergoda dengan orang-orang yang di atas kita, segera berpikir, rahmat Alloh itu jauh lebih baik dari apa yang dikumpulkan oleh mereka.


Kemudian yang keenam, memahami bahwa kefakiran dan kekayaan adalah ujian. Sama saja. Gak ada bedanya. Yang kaya diuji, yang miskin diuji. Karena sebagian orang itu berpikir, kalau kemiskinan adalah ujian sedangkan kekayaan tidak. Padahal Alloh berfirman dalam surat al anbiya ayat 35, semua yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kalian dengan keburukan dan dengan kebaikan. Dua-duanya ujian, jamaah. Dan kalian akan dikembalikan kepada Kami. Dan, jamaah, dalam hadist yang lain, Rasul saw mengatakan, besarnya pahala itu sepadan dengan besarnya cobaan. Alloh kalau cinta kepada hambaNya, Alloh akan kasih cobaan sama dia. Berupa kesulitan. Barangsiapa yang ridha, maka buat dia keridhaan. Alloh akan ridha sama dia. Dan barangsiapa yang marah, maka Alloh akan marah sama dia. Lantas, Apa reaksi kita? Ya sudah, ketika diuji dengan harta bersyukur. Ketika diuji dengan kesusahan, kita bersabar.

Jamaah, orang miskin akan masuk surga lebih dulu daripada orang kaya. Orang miskin akan masuk surga 500 tahun lebih awal dari orang kaya. Kenapa seperti itu? Karena orang miskin tidak punya harta untuk dihisab. Kata nabi saw, fuqoro muhajirin itu akan masuk surga 500 tahun sebelum orang kaya. Tapi, para sahabat yang miskin itu ingin kaya. Mereka datang menjumpai Rasul saw. Mereka ingin kaya bukan untuk dunia, tapi untuk akhirat. Kenapa orang-orang muhajirin ingin seperti orang-orang kaya anshar? Karena manfaat kekayaan itu banyak, jamaah. Orang kaya bisa bangum masjid. Orang kaya bisa berangkat umrah, bisa berangkat haji, orang miskin nggak bisa. Tapi orang miskin bisa mendapat pahala seperti orang kaya kalau niatnya seperti niatnya orang kaya. Makanya, cobalah antum terus membangun niat baik.


Yang ketujuh, mencontoh orang-orang yang hidup qona'ah. Membaca sejarah mereka. Coba antum baca sejarah Rasulullah saw. Bagaimana qonaahnya nabi saw. Di surat thaha ayat 131, Alloh mengatakan kepada nabi saw, engkau jangan mengarahkan pandanganmu kepada orang-orang yang banyak hartanya, yang diberi berbagai macam kemewahan. Jangan. Mata ini perlu dijaga, jamaah. Karena ada fitnah mata. Ada orang yang kalau masuk ke pasar, tapi dia tidak tundukkan pandangan, dia jadi beli apa saja yang dilihatnya. Maka perlu kita menjaga pandangan mata kita. Kita lihat bagaimana Rasulullah saw dalam kehidupan beliau. Kalau bicara makan, pernah Rasul saw, dua bulan tungkunya nggak hidup, jamaah. Makan apa? Kurma sama air. Selain kurma, apa yang beliau makan? Roti. Tapi kata Aisyah ra, Rasul saw itu tidak pernah sehari merasa kenyang dengan roti dan minyak dua kali. Artinya, kalau beliau makan siang kenyang, malamnya gak mungkin kenyang. Kita? Masya Alloh. Sarapan, kenyang. Makan siang, kenyang. Sore masih makan lagi. Ba’da isya, makan lagi. Mau tidur, makan lagi. Dan masih tidak bersyukur pada Alloh jalla jallaluh.

Kalau kita melihat kasur Rasul saw, beliau kalau tidur ada bekas garis-garis tikar, jamaah. Sampai Umar bin Khattab pernah menangis saat masuk ke rumah Nabi saw. Dia lihat di lemari Nabi ada satu sak gandum. Cuma itu yang ada. Kemudian ada daun yang digunaan untuk menyamak kulit. Kemudian ada kulit yang belum disamak. Kemudian Rasul saw tidur dalam kondisi punggungnya membekas tikar. Lalu Umar meneteskan air mata. Dia mengatakan, ya Rasulullah, kaisar Romawi, kisra di Persia, mereka hidup bergelimang harta. Terus, engkau seperti ini?? Padahal engkau adalah Rasulullah saw. Beliau itu makhluk yang paling dicintai Alloh. Tapi hidupnya seperti itu. Lalu apa kata nabi saw menghibur Umar? Wahai Umar, apa engkau tidak ridha? Bagi mereka dunia dan bagi kita akhirat? Ya, sudah. Aku ridha ya Rasulullah, jawab Umar.

Jamaah, dunia ini penjara buat orang yang beriman. Dan surganya orang-orang kafir. Kalau kita lihat rumah rasul saw, berapa luas rumah nabi saw? Subhanalloh, kira-kira, 5x5 meter. 3x5, itu kamar. 2x5, itu semacam teras ada juga tempat untuk masak di sana. Itu rumah rasul saw. Rumah rasul saw itu seperti kamar. Satu kamar dan nggak ada tempat lainnya. Di sebelahnya itu yang ada makam rasul saw itu semacam teras. Di situ tempat Aisyah memasak. Itu rumah orang yang paling dicintai Alloh swt. Rumah nabi itu kecil dan separuhnya dari tanah dan separuhnya lagi dari dahan kurma. Maka kita perlu membaca sejarah kehidupan Rasul saw, agar kita qonaah.


Dan yang terakhir, yang kedelapan, yang menyebabkan kita qonaah adalah ziarah kubur. Datanglah antum ke kuburan. Tatkala gelora keinginan merengkuh dunia membuncah, maka berangkatlah ke kuburan. Ketika melihat kuburan orang-orang yang dimakamkan di sana, kita akan sadar bahwa semua yang kita kejar itu akan hilang. Tidak dibawa mati. Dan ingat, kalau kekuburan muslim tujuannya hanya dua: 1. Mengingat akhirat dan, 2. Mendoakan yang meninggal dunia.


Wallohu a’lam bish showwab.