Sabtu, 22 September 2018

ANTARA UJIAN DAN AZAB


Judul                                 : ANTARA UJIAN DAN AZAB
Oleh                                  : Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah
Sumber                             : Channel Youtube – Syafiq Riza Basalamah Official
Adaptasi tulisan                : Fiqih Fahlevi


Assalamu ‘alaikum warah matullahi wabarakatuh.

Ba’da tahmid dan shalawat.

Kita ini gak punya apa-apa di dunia ini, jamaah. Hidup pun kalo Alloh mau cabut, selesai. Maka lihat, Alloh ingin mengangkat derajat orang-orang yang Alloh cintai dengan bala (musibah). 

Apa yang harus kita lakukan tatkala kita terkena bala? Ya, bersabar. Mendekatkan diri kepada Alloh. Kata Alloh, di surat al baqoroh ayat 155 – 157, Kami benar-benar akan menguji kalian dengan rasa takut, khawatir. Banyak orang tua yang khawatir dengan anaknya, dengan kekayaannya, dengan perusahaannya. Sehingga ana lihat sekarang, kenapa banyak lembaga asuransi? Karena untuk ujian ketakutan itu. Cuma ternyata, dia takut bukan larinya ke Alloh. Takut anakanya gak bisa sekolah nanti? Ya antum asuransikan anak antum ke Alloh. Asuransikan kepada Alloh. Berapa untuk biaya anak sekolah? 10 juta umpamanya. Ya sudah, 10 juta tiap bulan kasihkan ke fakir miskin. Nanti ke depannya Alloh yang jamin. Gak perlu ada lagi klaim sana- klaim sini. Kita kalau ada masalah tinggal menengadahkan tangan. Minta sama Alloh.

Antum masih ingat ketika kita baca surat al kahfi, tentang dua anak yatim yang orang tuanya sudah meninggal? Alloh kirim nabi Musa dan nabi Khidir untuk menyelamatkan harta mereka. Kenapa? Karena bapaknya sudah mengasuransikan anaknya kepada Alloh. Bapaknya orang soleh. Jadi anaknya siapa yang jaga? Alloh yang jagain. Alloh tuh sebaik-baik penjaga, jamaah.

Maka tatkala Alloh uji kita dengan rasa takut, asuransikan ke Alloh. Bikin ambulan buat masyarakat. Selesai, jamaah. Nanti Alloh yang jagain. Tapi kita kadang kala kurang yakin sama Alloh. Kita lebih yakin dengan yang bayar tiap bulan.

Kemudian, takut kelaparan. Bisa dilihat, ada orang menyimpan harta untuk tujuh keturunan. Memang antum mau hidup berapa tahun? 100 tahun? 120 tahun? Enggak ada. Orang gak ada yang mau hidup lama-lama. Karena dia tahu, semakin tua semakin susah.

Alloh akan uji dengan kelaparan. Wallohi jamaah, mungkin sekarang sebagian di antara kita tidak ada yang pernah merasakan lapar. Maka puasa ramadhan itu ternyata anugerah buat orang-orang kaya. Sampai ada cerita, orang kaya itu, ustadz, gak pernah enak makan, ustadz. Kenapa? Karena sebelum lapar dia sudah makan lagi. Tapi kalo dia lapar banget, masya Alloh, enak makannya.

Maka kita lihat kalo bulan ramadhan, kenapa harga makanan naik? Karena semua pada makan, jamaah. Padahal seharusnya orang puasa itu kan harga makanan turun karena sedang puasa. Tapi ini enggak. Karena dia maunya makanan enak-enak ketika berbuka. Maka Alloh uji kita dengan rasa lapar.

Kemudian, ketakutan dengan kurangnya harta. Ana punya teman di surabaya cerita. Ustadz, tahun lalu ana jual perumahan itu ustadz, kayak jualan kacang. Satu hari 60 unit, ustadz. Sekarang, empat bulan gak ada yang beli, ustadz. Alloh uji nih. Alloh akan uji kekurangan hartanya. Dia harus bayar utang sana, bayar utang sini. Masya Alloh.

Dan kekurangan orang-orang yang kita cintai. Kalau kita kekurangan orang-orang yang kita benci, itu bukan ujian. Ada istri-istri itu yang suka kita mati. Ini kejadian nih. Ana udah cerita di beberapa kajian. Di Pekalongan, ada dari Jember, ibu-ibu berangkat ke pekalongan, dia ketemu sahabatnya. Suaminya baru meninggal. Maka dia mau takziah, mau belasungkawa. Ya Alloh, kasian ya, kamu ditinggal suami. Alhamdulillaaah. Dia sudah mati. Alhamdulillah. Capek ngurusin dia. Subhanalloh. Jadi bapak-bapak, jangan dikira istrinya senang. Ternyata mereka juga bosan. Di sini, kalo ternyata yang meninggal itu orang yang mereka cintai, itu ujian.

Maka kalo kita lihat, nabi kita Muhammad saw itu diuji ditinggal mati tiga putrinya. Ditinggal khadijah, bagaimana cintanya beliau dengan khadijah. Ditinggal anaknya yang namanya Ummu kalsum, ditinggal ruqayyah, ditinggal zainab. Hanya satu yang anaknya tidak ada dilembaran kesabaran nabi saw yaitu fatimah. Karena fatimah meninggal setelah meninggalnya Rasulullah saw. Artinya semua anak nabi itu pahala kesabarannya ada di nabi. Karena nabi yang menghadapi kematian anak-anaknya. Sedangkan fatimah, dia yang mendapatkan nilai kesabaran ditinggal mati ayahnya. Maka kita kalau ditinggal mati oleh orang-orang yang kita cintai, itu ujian. Ini untuk mengangkat derajat. Tergantung sikap kita tentunya.

Lalu Alloh katakan, diuji juga dengan kekurangan buah-buahan. Kadang kala petani gagal panen. 100 hektar gagal panen. Alloh kirim wereng, Alloh kirim sesuatu ke kebun-kebun mereka sampai gak ada lagi hasil kebunnya. Itu ujian dari Alloh. Lalu bagaimana? Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

Jamaah rahimakumulloh, ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Apakah bala itu menghapuskan dosa saja atau juga mengangkat derajat dan berpahala? Umpamanya, mobil kita terbakar. Kita tuh dihapuskan dosanya atau diangkat juga derajatnya? Para ulama menjelaskan, pendapat pertama mengatakan, bala itu, musibah yang menimpa kita, hanya untuk menghapuskan dosa. Pendapat yang kedua mengatakan, bala itu menghapuskan dosa dan mengangkat derajat. Yang ketiga mengatakan, bala itu akan berpahala kalau dalam rangka kebaikan. Orang berangkat haji, patah kakinya. Dia itu akan mendapat pahala selain dihapuskan dosanya. Tapi, orang umpamanya main voli kemudian keseleo kakinya. Itu dihapuskan dosa plus pahala atau dihapuskan dosa saja? Dihapuskan dosa saja. Menurut pendapat ini, karena dia bukan dalam rangka ibadah. Dia dalam rangka hal-hal yang mubah saja. Maka itu hanya akan dihapuskan dosanya. Orang yang mau berangkat ke masjid, tau-tau ditabrak sama orang. Dia dapatin dua: penghapusan dosa dan mendapat pahala.

Ada yang mengatakan orang mendapatkan pahala dengan sabar. Kalo kena musibah, terus sabar, musibah itu menghapuskan dosa. Sabarnya berpahala.

Kan ada orang yang, kalau sakit, mengeluh terus dia. Kalau begitu, dia gak akan dapat pahala tapi tetap dihapuskan dosanya saja. Maka Alloh katakan, beri kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Seperti apa sifat orang sabar? Kita nih udah sabar belum sih? Kita nih kena musibah, mungkin di harta, di tubuh kita, di keluarga kita, Alloh mengatakan, orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang kalo terkena musibah, tidak cari kambing hitam. Tapi dia langsung mengatakan, innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun, kami ini milik Alloh dan kami semua bakal balik kepadaMu.

Bayangkan jamaah. Kena musibah, langsung ingat kalo kita ini milik Alloh. Alloh mau ngapain sama kita, itu hak Alloh. Dan kita bakal kembali kepada Alloh. Kita jadi sadar kalau semua ini bakal balik kepada Alloh jalla jallaluh. Lalu Alloh katakan, tuh orang-orang akan mendapatkan sholawat, berkah hidupnya. Orang yang sabar itu berkah hidupnya. Dia walaupun sakit, walaupun dia menghadapi penyakit yang menimpa dia, dia kena jantung, harus pasang ring, mungkin ada yang kena kanker, perasaan dia tetap tenang.

Ana punya bibi, masya Alloh. Dia kena kanker sampai akhirnya meninggal dunia. Tapi ana lihat, dia subhanalloh. Kalo ana tanya, gimana kabarnya bibi? Alhamdulillah, syafiq, alhamdulillah, enakan. Alhamdulillah. Selaaalu bersyukur. Jadi akhirnya penyakit itu tidak membahayakan dia. Karena yang mematikan itu ajal, jamaah. Ajal yang mematikan.

Ada orang nggak sakit, mati. Gak sakit sama sekali, baru makan tadi sore, malamnya mati. Dibawa ke dokter, jantungnya sudah berhenti. Sudah waktunya dia mati. Jadi kalo kita bicara mati, penyakit itu tidak mematikan. Yang mematikan itu apa? Ajal yang datang menyambut dia. Makanya kadang kala ada orang sakit bertahun-tahun dirawat di atas ranjang tapi tidak kunjung meninggal. Malah anaknya mati duluan, menantunya mati duluan. Kenapa? Karena ajalnya belum datang. Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Mereka akan mendapatkan rahmat dari Alloh swt. Tuh orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Bagaimana mereka mendapatkan petunjuk? Mungkin kita bisa baca di surat at taghabun ayat 11. Alloh mengatakan, tidak ada satu pun musibah yang menimpa melainkan itu dengan izin Alloh. Barangsiapa yang beriman kalo musibah ini dari Alloh, Alloh akan kasih hidayah ke dalam hatinya. Musibah ini sudah ketentuan Alloh. Aku gak akan bisa berbuat apa-apa.

Karena ada seorang ibu yang ditinggal mati anaknya, akhirnya malah menyalahkan suaminya. Ini gara-gara abang nih. Ana sudah bilang bawa ke rumah sakit anak. Ana sudah bilang jangan ke dokter sana. Ana sudah bilang ini, sudah bilang itu, subhanalloh. Sudah selesai urusannya. Kita harus beriman kepada Alloh, kalau anak kita memang sudah takdirnya mati. Mau dibawa ke dokter mana pun. Maka kita harus tahu, tidak ada satu pun musibah melainkan itu sudah dengan izin Alloh. Yang beriman kepada Alloh, beriman dengan takdir Alloh, maka Alloh akan berikan hidayah kepadanya. Karena Alloh itu Maha Mengetahui atas segala sesuatu.

Sekarang apa saja yang membantu kita untuk bersabar? Karena kita juga perlu tau kalau seorang suami harus menguatkan istrinya ketika istrinya kena musibah. Seorang anak menguatkan ayahnya ketika ayahnya kena musibah. Karena ada penyakit-penyakit yang membuat orang putus asa untuk hidup. Makanya tugas keluarga untuk menguatkan.

Berbicara kematian, lebih baik mana, mati cepat atau mati lambat? Orang terbaik itu adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Misalnya ada orang umur 40 tahun meninggal dunia. Dia selama hidupnya senang beramal sholeh. Lalu ada juga orang yang umur 45 tahun meninggal dunia. Dia pun gemar beramal sholeh. Mana yang lebih baik? Yang 45 tahun. Sama-sama nih amalannya.

Saad bin abi waqqosh ra, sahabat nabi, dia punya sahabat dua. Dua sahabatnya ini masuk islamnya bareng. Yang satu ahli ibadah. Yang satu lagi biasa-biasa saja. Ibadah tapi tidak tekun seperti yang pertama. Sahabat saad yang pertama ini meninggal dunia di medan perang. Mati syahid. Yang kedua, gak mati. Setahun kemudian, baru mati. Matinya pun biasa. Bukan di medan perang. Akhirnya, suatu hari saad bin abi waqqosh bermimpi. Dia bermimpi seakan-akan kiamat telah terjadi. Saad bin abi waqqosh sedang berada di depan pintu surga bersama dua sahabatnya itu. Mereka mau masuk surga, nunggu pintunya dibukakan.

Tau-tau ada yang keluar dari pintu surga. Memanggil yang matinya terlambat duluan. Yang mati biasa dipanggil, masuk surga. Masuk lah dia. Tunggu beberapa lama, datang lagi utusan itu. Kemudian Memanggil nama temannya yang mati syahid. Kemudian setelah beberapa lama masuk, utusan itu keluar lagi. Mengatakan kepada saad, kamu belum waktunya. Bangun lah saad bin abi waqqosh dari tidurnya.

Dia cerita kepada orang-orang tentang mimpi dia. Para sahabat yang mendengar nampak kebingungan. Kok bisa, ya?? Mereka secara umur islamnya kan bareng, kemudian yang satu lebih ahli ibadah, mati jihad, kok masuk surganya terlambat?! Kok yang masuk surga lebih dahulu malah yang biasa-biasa aja?! Akhirnya berita itu sampai terdengar kepada Rasulullah saw. Lalu nabi mengatakan kepada mereka, kenapa kalian kok heran?? Ya itu nabi saw. Si anu orangnya biasa-biasa saja, tapi kok masuk surga lebih dulu. Sedangkan fulan, yang ahli ibadah, bahkan mati syahid, malah belakangan masuk surganya.

Lalu nabi saw menjelaskan tentang rahasianya. Yang pertama beliau katakan, bukankah umurnya tambah satu tahun orang itu? Iya, Rasul saw. Dia hidup setahun setelah temannya wafat. Baik, berapa banyak dia sholat selama setahun? Kemudian, bukan kah dia mendapatkan bulan Ramadhan? Dan dia puasa di bulan ramadhan itu? Iya, kata para sahabat. Sesungguhnya jarak antara fulan dengan fulan itu seperti langit dan bumi derajatnya.

Makanya kita tidak boleh minta mati. Mungkin terkadang kita merasakan males hidup. Mungkin karena merasakan penyakit parah. Padahal, setiap hari engkau merasakan sakit itu, setiap hari pula derajat mu akan diangkat Alloh.

Pahalanya beda, jamaah. Orang yang sakit dengan orang yang tidak sakit, beda pahalanya. Nanti orang-orang yang sehat, yang mati dalam kondisi sehat, nggak pernah sakit-sakitan, di hari kiamat ketika melihat pahala orang-orang yang kena banyak musibah, menjadi iri. Mereka iri. Sehingga mereka ingin sekali kulit mereka digunting-gunting. Karena pahalanya besar banget, jamaah. Amalan apa? Bukan amalan mereka. Melainkan karena pahala kesabaran mereka dari musibah. Dikasih musibah, mereka sabar. Bukan karena sholatnya, bukan karena shodaqoknya, bukan karena zakatnya, bukan karena haji dan umrahnya, tapi karena sabarnya dia saat kena musibah.

Bagaimana supaya kita bisa sabar? Ibnul qoyyim rahimahullahu ta’ala menyebutkan, sebab-sebab yang melahirkan kesabaran:

Yang pertama. Menghadirkan pahala. Apa sih pahalanya? Seperti kisah perempuan anshar yang dikasih pilihan oleh Rasulullah saw antara surga atau sembuh. Maka dia memilih sakit dab nsesabar atas penyakitnya tersebut untuk kemudian masuk surga. Kalo antum milih mana jamaah? Mesti milihnya sehat masuk surga. Itu lah manusia. Tapi gak semudah itu masuk surga, jamaah. Perempuan itu tau, gak apa-apa dia sakit, dia bersabar. Dia tidak mengatakan kepada nabi saw, Nabi, bisa gak doakan saya supaya sehat aja dan masuk surga? Nggak mudah jamaah. Maka tatkala kita ingin bersabar, hadirkan pahalanya. Bayangkan pahala besar yang akan kita dapatkan dari bersabar. Jadi kita akan semakin kuat kesabaran kita.

Yang kedua, hadirkan dosa-dosa yang dihapuskan dengan musibah itu. Coba bayangkan dalam benak kita, kedurhakaan yang dulu pernah kita perbuat. Ya Alloh, ana berapa tahun berbuat dosa. Ana dulu sholatnya telat-telat, abis sholat hampir gak pernah berdzikir, gak ada qobliah gak ada ba’diah, kemaksiatan terus dilaksanakan, lupa sama panggilan Alloh. Jadi, wajar saja kalau sekarang Alloh yang maha pengasih dan penyayang membersihkan dosa-dosa kita lewat bala yang diberikan Nya. Dengan begitu, insya Alloh akan muncul sabar.

Yang ketiga, beriman dengan takdir Alloh. Bahwasanya takdir manusia itu sudah ditetapkan 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Jadi kita jadi tenang, jamaah. Ya mau gimana? Semua ini sudah ditakdirkan sama Alloh. Aku akan bersabar. Tugasnya kita hanya menerima.

Berkaitan dengan takdir ini, apakah kalau kita mengeluh, jamaah, kita akan sembuh? Kalau kita mengadu ke orang, setiap ada orang kita cerita, kita akan sembuh? Enggak. Perihal mengeluh ini ada dua macam: mengeluh yang boleh dan mengeluh yang tidak boleh. Mengeluh yang boleh itu, orang sakit, ketika ada temannya yang berkunjung, dia mengucapkan di mana letak sakitnya supaya didoakan atau supaya dokter bisa mengobati. Itu gak apa-apa. Itu namanya mengeluh untuk memberikan informasi. Tapi yang tidak boleh adalah yang sifatnya tidak ridha dengan takdir Alloh.
Dan ironisnya, kita itu ternyata lebih suka menceritakan musibah daripada menceritakan nikmat yang Alloh kasih. Padahal yang harus diceritakan sebenarnya itu nikmat. Fa anna bini’mati robbika fahaddist, ceritakan lah nikmat-nikmat itu. Alhamdulillah, ana dapat nikmat ini, ana dapat nikmat itu. Tapi lucunya kita takut kalau menceritakan nikmat. Kenapa? Kita takut nanti diutangi. Makanya jadi takut. Tapi kalo cerita musibah, adakah yang mau minta musibah? Gak ada. Antum dapat musibah, bagi-bagilah ke ana. Nggak ada itu, jamaah. gak ada. Maka, hadirkan kalo itu semua merupakan takdir Alloh jalla jallaluh.

Kemudian, yang ke empat. Dia menghadirkan apa hak Alloh kalo sedang terkena musibah. Kita ini kan diciptakan Alloh untuk beribadah. Sekarang posisi kita lagi sakit nih. Posisi ana bangkrut, di PHK, ditinggal istri. Maka marilah kita menghadirkan haknya Alloh pada waktu ini. Apa? Bersabar.

Karena kan dalam beribadah itu ada dua hal: ada syukur, ada sabar. Saat ini berarti yang harus aku lakukan ya bersabar. Jamaah, tingkatan sabar ini sebenarnya tingkatan paling rendah dalam beribadah. Di atas sabar itu ada ridha. Aku ridha, sudah. Pasti semua ini ada hikmahnya. Dan tingkatan yang paling tinggi adalah syukur. Ketika ditimbah musibah kita mengatakan, alhamdulillah ustadz, ana sakit. Alhamdulillah. Kalo enggak, ana gak tau udah jadi apa. Itu tingkatannya sudah syukur. Ana dulu suka ikut temen-temen ke mana-mana, alhamdulillah sekarang Alloh kasih ana sakit, sehingga ana tidak bisa ke mana-mana, ana bersyukur sama Alloh. Ini tingkatan yang paling tinggi, jamaah. karena memandang yang Alloh kasih ini adalah nikmat dari Alloh. Sebagian orang itu, jamaah, gara-gara satu dosanya, dia gak bisa sholat malam. 4 bulan dia gak sholat malam. Seakan Alloh tutup waktu malam buat dia. Dia sedih. Antum, gara-gara sakit, bisa sholat malam. Nikmat gak? Kemudian juga gara-gara sakit antum bisa menyelesaikan tiap hari satu juz baca quran. Alhamdulillah. Bukan kah itu nikmat? Jadi kita menyaksikan, akhirnya, musibah itu jadi nikmat. Ini anugrah nih dari Alloh. Sabar itu menahan diri dari emosi, gak ngomong yang macem-macem. Yang kedua, ridha. Menerima. Yang ketiga, syukur. Yaitu mampu melihat hikmah dibalik musibah. Mampu bersyukur dalam kepahitan. Maka usahakan kita sampai ke tingkat syukur itu, jamaah.

Rasul saw menjelaskan tentang seorang yang ditinggal mati sama anaknya. Alloh ketika mengutus malaikat pencabut nyawa, mencabut nyawa salah satu anak hamba Alloh, Alloh tanya sama malaikatnya, kalian habis mencabut nyawa hamba Ku? Iya, ya Alloh. Kalian habis mencabut nyawa buah hatinya? Artinya anak ini dicintai. Alloh tau sebenarnya dengan kejadian itu. Tapi Alloh ingin menunjukkan rahmat Nya. Apa yang dikatakan oleh hamba Ku ketika kalian cabut nyawanya? Kata malaikat-malaikat ini, dia mengatakan alhamdulillah, Ya Alloh. Dan dia mengatakan innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Dia bersyukur, jamaah. Lalu apa kata Alloh? Bangunkan rumah buat hamba Ku itu di surga. Khusus buat hamba Ku ini. Kasih nama rumahnya, rumah pujian. Karena ketika ia mendapat musibah, ia memuji Alloh. Ini merupakan tingkatan yang sangat tinggi. Dari mana kita dapat menghadirkan itu? Carilah hikmah-hikmah di balik musibah yang tengah menerpa kita.

Kemudian yang ke lima. Dia melihat bahwasanya ini karena dosanya. Ya Alloh, ini pasti karena dosa hamba ya Alloh. Yah, mudah-mudahan Alloh mengampuni dosa-dosa ku. Akhirnya perasaan seperti itu membuat kita beristighfar. Memohon ampun kepada Alloh. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.

Ali bin abi thalib ra mengatakan, tidaklah satu bala turun melainkan dengan dosa. Dan tidak diangkat kecuali dengan taubat.

Sesuai di poin kedua, bahwa bala ini menghapuskan dosa. Tapi yang ditekanan di poin ke lima ini adalah musibah yang mendorong kita untuk beristighfar. Karena dia tahu, kalau dosa ini gak akan diangkat, diampuni, kecuali dengan taubat. Ustadz, ana sudah istighfar ustadz. Udah taubat. Tapi kok kenapa penyakit ana gak diangakt-angkat sama Alloh? Berarti antum mau diangkat derajatnya. Terus aja khusnudzon sama Alloh. Kan tadi disampaikan bahwa akan ada derajat yang tidak bisa dicapai dengan amalan apapun kecuali dengan bersabar apabila ia ditimpa musibah. Antum mau sholat malam terus, gak tercapai itu. Tercapainya dengan apa? Dengan musibah.
Kenapa para nabi balanya paling berat? Kalo bicara penyakit, siapa yang penyakitnya lebih berat daripada nabi Ayub as? Bala yang paling berat itu balanya nabi kita Muhammad saw. Ada kah hamba yang lebih dicintai Alloh daripada nabi Muhammad saw? Gak ada, jamaah. Suatu ketika beliau saw sakit. Kemudian dijenguk oleh abdullah bin mas’ud. Dipegang badannya nabi. Pada waktu itu nabi pakai selimut. Panasnya itu sampai tembus ke atas selimut. Kata sahabat ini, ya Rasulullah, sakit mu ini parah banget. Artinya sahabat ini tidak pernah melihat sahabat lain sakit seperti ini. Apa kata nabi saw? Ya, sakit ku ini sakitnya dua orang diantara kalian. Double sakitnya nabi, jamaah. Tanya sahabat ini lagi, apakah karena engkau akan mendapatkan pahala double ya Rasulullah? Iya, kata Rasul saw.
Jadi kita paham sekarang. Apabila kita tertimpa suatu bala, suatu musibah, hendaknya kita selalu istighfar, teruuus istighfar. Minta ampun sama Alloh. Khusnudzon sama Alloh. Mudah-mudahan itu akan mengangkat derajat kita.
Kemudian yang ke enam. Hendaklah kita mengetahui kalo Alloh lah yang memilihkan kepada kita penyakit dan musibah ini. Alloh yang memilihkan buat kita. Masa kita gak ridha sama pilihan Alloh?
Permisalannya kayak gini, terkadang ada seorang istri yang dibawain hadiah sama suaminya. Lalu istri ini mengatakan, bang, ini bukan seleraku bang. Bagaimana kira-kira perasaan suami? Tentu jengkel. Makanya Alloh memberikan bala ini kepada kita karena Alloh sudah ridha sama kita. Terus kenapa kita malah marah-marah? Maka, hadirkan lah perasaan, kalau Alloh sudah berkehendak memberikan bala ini, maka aku harus terima. Maka, kesabaran ini sudah naik tingkat jadi ridha.
Ya, ana terima. Walaupun berat. Siapa sih yang suka sama penyakit? Gak ada, jamaah. oleh karenanya kita pun tidak diperintahkan untuk meminta penyakit. Gak boleh, jamaah.
Dulu, di zaman nabi saw hidup, pernah nabi saw datang ke rumah seorang sahabat yang mana sahabat ini sedang sakit parah.  Kalau diibaratkan sampai seperti anak ayam yang penyakitan. Karena saking parahnya. Lalu nabi bertanya kepada sahabat ini, apakah kamu berdoa minta sesuatu sama Alloh? Kok bisa sampai kayak begini kondisimu? Jawab sahabat ini, iya Rasulullah. Aku pernah berdoa, aku mengatakan, ya Alloh, sanksi yang akan kau berikan kepadaku di akhirat, tolong Kau segerakan buat aku di dunia. Nabi kaget. Lantas apa kata nabi saw? Kau gak akan mampu menerima itu! Kenapa kau gak minta kesembuhan dari Alloh?! Kenapa kau gak doa, ya Alloh minta kebahagiaan di dunia dan akhirat dan diselamatkan dari api neraka?! Jangan minta bala!
Karena kita gak tau apakah kita akan sabar saat terkena bala, jamaah. Ada seorang sahabat, subhanalloh jamaah, yang karena nggak tahan sama bala, akhirnya ia su’ul khotimah. Kejadiannya pada satu peperangan. Para sahabat nabi yang lain melihat ada satu orang yang begitu heroiknya berperang. Sampai sahabat lain mengatakan, ya Rasulullah, hari ini tidak ada yang berperang seperti fulan. Artinya, hari ini harinya dia. Yang mana, kata Rasul saw? Yang itu, ditunjukkan lah orang itu. Apa kata Rasulullah? Orang itu di neraka tempatnya! Bayangkan, jamaah. Sahabat yang menunjukkan itu bingung dengan ucapan nabi. Yang semangat berjuang kayak gini aja masuk neraka, bagaimana dengan kita?? Maka diikuti orang ini. Dilihat. Ternyata setelah peperangan, dia itu terluka. Dan dia tidak tahan dengan lukanya. Lalu dia ambil pedang, dia taruh di dadanya, kemudian dia bunuh diri.

Apa hikmahnya? Di sini kita gak boleh minta bala, minta musibah disegerakan. Karena kita gak tau kalo kita kena bala, kita akan sesabar apa. Oleh karena itu jangan minta bala. Minta lah kesembuhan kepada Alloh jalla jallaluh.

Kemudian yang ke tujuh. Hendaklah ia mengetahui bahwa musibah itu sebenarnya obat buat penyakit hati. Musibah di badan, tapi hati yang sembuh, jamaah. Kita yang punya penyakit sombong, Alloh kasih sakit supaya kita sadar. Enggak, kita ini tidak tercipta dari besi. Bukan gatotkoco, otot kawat, tulang besi. Enggak. Jadi ternyata, musibah ini, penyakit ini, obat dari Alloh buat kita. Iya, ya. Ana dengan penyakit ini hilang rasa sombong ana, hilang kecongkakan ana. Jadi ana sadar, ana ini makhluk yang lemah. Dan tau Alloh ngasih ini semua memang udah pas segitu. Kita kalo ke dokter, kan dikasih obat yang pas sama dokter. Dokter bilang, ini diminum tiga kali sehari. Kalo kita minum lima kali, over dosis. Artinya, sudah lah kita yakin saja bahwa Alloh itu lebih tau kalo obat ini untuk kita.

Kemudian yang ke delapan. Hendaklah mengetahui kalo penyakit ini akan berakhir. Semuanya akan berakhir, jamaah. segelap apapun malam, akan berakhir dengan terbitnya mentari di pagi hari. Kita tau, fa innamal ‘usri yusroo, setelah kesulitan itu akan ada kemudahan. Jadi memang pahiiit di awal. Tapi biasanya setelah pahit itu apa? Sembuh, jamaah. Permisalannya kayak dokter yang mau menyuntikkan obat ke dalam tubuh kita. Mas, ini sakit banget lho. Apa kata kita? Gak apa-apa, dok. Kenapa? Karena kita mau sembuh. Maka kita siap diapakan saja sama dokter. Mas, ini harus dipotong kakinya. Kalo enggak, bisa menjalar. Gak apa-apa, dok. Potong, dok. Jangan sampe berlanjut. Karena dia tau, walaupun pahit tapi sebenarnya manis. Kalo enggak dipotong akhirnya akan menjalar dan  semua badannya akan membusuk. Kita harus siap, jamaah. Sama dokter aja kita siap. Kenapa kalo Alloh yang kasih musibah kita masih ragu?!

Yang ke sembilan. Hendak lah ia mengetahui kalo musibah itu datang bukan untuk menghancurkan dia. Bukan. Tapi musibah datang itu untuk menguji kesabarannya. Jadi jangan ngomong kalo Alloh nggak suka sama kita. Jangan. Wallohi, Alloh tidak mau menghancurkan hamba Nya. Alloh tuh cinta sama hamba Nya. Makanya Alloh ingin semua hamba Nya masuk surga. Sehingga dikasih bala. Firaun dikasih bala, dikasih berbagai macam musibah agar balik ke Alloh. Tapi gak balik-balik. Gak sadar-sadar. Itu dia malah jadi sombong. Dikasih sakit tetap sombong. Dikasih petaka, malah makin congkak. Maka ingat, musibah yang datang itu bukan untuk menghancurkan kita tapi untuk membangun dan meninggikan kita.

Kemudian yang terakhir, yang ke sepuluh. Ibnu qoyyim mengatakan, hendaklah dia tahu bahwa Alloh mendidik hamba Nya dengan keluasan rizkinya, dengan kesehatan, dengan nikmat-nikmat sebagaimana Alloh mendidik hamba Nya dengan musibah-musibah juga. Artinya tujuannya tadi untuk melihat antum bersyukur gak kalo dapet nikmat. Antum bersabar gak kalo dapet musibah. Sehingga hamba itu lengkap. Jadi pahala dia itu bukan hanya pahala syukur. Tapi juga pahala sabar.
Maka kembali kenapa para nabi itu balanya paling berat? Karena supaya mereka mendapatkan kelengkapan pahala. Dan nabi saw kalo bicara syukur itu sampai kakinya bengkak, jamaah. Beliau sholat karena ingin bersyukur. Tapi di satu sisi beliau juga bersabar. Pernah beliau saw berhari-hari tidak makan. Beliau bersabar dilemparin batu sama orang-orang di thaif. Beliau bersabar. Beliau terluka, patah giginya ketika perang uhud. Beliau bersabar. Maka ada juga yang menanyakan, kenapa kok nabi nggak kebal? Perhatikan, jamaah. Karena Alloh ingin memberikan kepada nabi pahala yang sempurna. Pahala sabar dan pahala syukur nabi dapat.

Wallohu a’lam bish showwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar